Banyak kalangan di Twitter menyebutkan gempa Turki bagian dari operasi intelijen berbasis teknologi bernama HAARP.
Gempa Turki yang mengguncang negeri itu serta negara tetangganya, Suriah masih menempati trend berita dunia terkini. Salah satunya karena besaran magnitudo mencapai 7,8 menjadi yang terbesar di negara itu, setelah kejadian pada 1939 dengan skala kurang-lebih sama.
Pembuktian ilmiah menyatakan bahwa pemicu gempa adalah lokasi Turki di zonasi gempa aktif, yaitu patahan Anatolia Timur dengan tumbukan lempeng benua Eropa dan Asia.
Sementara di media sosial, bergulir kabar lain tentang penyebab gempa bumi Turki dan mencapai Suriah itu. Yaitu sebuah teori konspirasi
Gempa berkekuatan magnitudo 7.8 yang mengguncang wilayah Turki dan Suriah telah menewaskan tak kurang dari 12 ribu jiwa. Termasuk dari informasi terkini ada dua orang WNI jadi korban meninggal.
Beberapa hari usai gempa terjadi, berbagai informasi berseliweran di media sosial. Ada yang menyebut gempa tersebut telah diprediksi tiga hari sebelum kejadian, bahkan empat bulan sebelumnya. Meski pada dasarnya belum ada teknologi yang bisa memprediksi terjadinya gempa.
Bahkan, ada pula yang menyebut dan mengaitkan dengan teori konspirasi, yang melibatkan operasi intelijen berbasis teknologi yakni HAARP. Singkatan dari High Frequency Active Auroral Research Program.
Dikutip dari kanal News Suara.com, gempa dahsyat di Turki dan Suriah yang korbannya tembus 12 juta jiwa, termasuk dua di antaranya Warga Negara Indonesia atau WNI itu dicuitkan di media sosial Twitter sebagai hasil rekayasa atau buatan manusia.
HAARP adalah sebuah lembaga penelitian atau riset tentang ionosfer yang didukung militer Amerika Serikat dan Universitas Alaska.
Salah satu perangkat terpenting dari riset ini adalah Ionospheric Research Instrument atau IRI yang berlokasi di Alaska. Perangkat ini terdiri dari 180 antena radio yang bisa mentransmisikan gelombang radio frekuensi tinggi ke atmosfer.
Para ilmuwan mengamati reaksi yang terjadi di ionosfer akibat paparan gelombang frekuensi tinggi itu. Reaksi ini mirip dengan proses paparan badai Matahari yang memunculkan Aurora Borealis (di Belahan Bumi Utara) atau Aurora Australis (di Belahan Bumi Selatan). Karena itu eksperimen tadi disebut aurora buatan, namun dalam skala lebih kecil.
Sebagai bukti, teori rekayasa ini di Twitter diunggah berupa video yang berisikan terjadinya kilat atau lightning di angkasa. Bahkan disebutkan sudah terjadi sekira tiga hari sebelum gempa.
Akan tetapi sambaran kilat atau petir menjelang gempa Turki itu telah dipatahkan para pakar. Diduga lightning yang terjadi adalah fenomena earthquake lights atau EQL. Para pakar geofisika sejak lama telah mengenal fenomena ini.
Kilat atau petir saat gempa besar bisa terjadi akibat muatan listrik yang dihasilkan beberapa jenis batuan yang bereaksi saat terjadinya aktivitas seismik. Batu basalt dan gabro diketahui bisa melepaskan listrik ke udara.
Teori ini salah satunya diyakini Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono.
"Fenomena pencahayaan (lightning) saat pelepasan energi gempa satu hal yang sangat lazim terjadi di berbagai tempat di muka bumi, itu aktivitas gelombang elektrimagnetic," jelas Daryono di Twitter, membantah soal HAARP.
Aktivita EQL saat gempa ini pernah terekam terjadi saat Gempa Meksiko (2017) yang berkekuatan 8,1. Juga gempa Quebec (1988), gempa Pisco di Peru (2007), serta dan gempa L'Aquila di Italia (2009).
Penjelasan lain soal sambaran kilat itu terkait dengan infrastruktur kelistrikan. Diduga saat terjadi gempa, tiang listrik tumbang dan rusak sehingga memicu percikan listrik mirip petir.
Berita Terkait
-
Jumlah Korban Gempa Turki Mencapai 12 Ribu, Seperempat dari Negara Tetangga, Suriah
-
Gempa Bumi Turki, Bursa Saham Nasional Tutup Lima Hari dan Batalkan Semua Perdagangan
-
Pemain Sepak Bola Christian Atsu Berhasil Dibebaskan dari Tumpukan Puing Gempa Bumi Turki
-
Gempa Bumi Turki, Pemain Sepak Bola Christian Atsu yang Pernah Perkuat Newcastle United dan Everton Dinyatakan Belum Ketemu
-
10 Fakta Menarik Tentang Aurora Borealis, Jadi Fenomena Alam yang Sangat Indah
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Yuto Nagatomo Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026, Jadi Pemain Asia Pertama Tampil di 5 Edisi
-
4 Tablet Murah yang Cocok untuk Anak Sekolah, Harga Cuma Rp1 Jutaan
-
Alasan Yamaha Gear Ultima Cocok Jadi Teman Mobilitas Harian, Irit Bahan Bakar dan Bagasi Luas
-
Lebih dari Sekadar Ibu Kota, Jakarta Bertransformasi Jadi Kota yang 'Hobi' Mendengar
-
5 Motor Honda yang Namanya Mirip Mobil, Kebetulan atau Sengaja?
-
Membaca Ulang Sang Mahapatih Gajah Mada di Buku Agus Munandar
-
Ulasan The Winning Try: Kisah Tim Rugby Buangan yang Layak Diperjuangkan
-
Steam Summer Sale 2026 Dimulai, Cek Rekomendasi Game PC dengan Diskon Besar Ini
-
Jerman Tumbang dari Ekuador di Piala Dunia 2026, Julian Nagelsmann Murka Soroti Disiplin Pemain
-
Mengintip Surga Laptop Second Jogja yang Jadi Penyelamat Mahasiswa Rantau