/
Minggu, 11 Desember 2022 | 18:40 WIB
Ratu Adil dan Imam Mahdi di Karawang, Jawa Barat. ([Tangkapan Layar])

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor menyebut, masih banyak masyarakat paham agama menyimpang di Bogor, salah satunya yakni soal pengakuan sebagai Ratu Adil dan Imam Mahdi.

Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kabupaten Bogor Saepudin Muhtar alias Gus Udin mengatakan, paham menyimpang ini menjadi perhatian khusus bagi MUI.

Dia mengajak masyarakat Bogor untuk memperkuat nilai-nilai keislaman masyarakat sejak usia dini, untuk mencegah pengaruh paham menyimpang. 

"MUI mengajak elemen pendidikan termasuk ikatan para guru raudhatul atau PAUD untuk sama-sama menguatkan nilai-nilai tentang keislaman yang wasatiah sejak dini," kata 

Dalam kegiatan bertajuk "Penguatan Materi Pendidikan Islam untuk Anak Usia Dina di Lingkungan RA" itu, ia mengingatkan penguatan keagamaan pada anak usia dini merupakan fondasi utama dalam membangun karakter anak.

Ia mencatat ada sekitar 28 aliran pemahaman yang menyimpang di Kabupaten Bogor, sehingga pendidikan keagamaan pada anak itu bisa menjadi fondasi utama dalam menjaga keyakinan dan kemantapan dalam beragama pada seorang anak.

"Kemudian untuk mengatasi masalah sosial di masyarakat, tentunya pendidikan keagamaan atau penguatan keagamaan sangat penting, khususnya pada level paling dasar ini," kata Gus Udin yang juga dosen Universitas Djuanda.

Dirinya juga mengingatkan para guru tidak memberikan pemahaman agama yang radikal terhadap anak agar sikap toleransi bisa tumbuh sejak usia dini.

"Ajari mereka agama yang rahmatan lil alamin dan wasatiah, agar mereka bisa menerima segala perbedaan tanpa menghilangkan keyakinan mereka," tuturnya.

Baca Juga: Punya Julukan Kota Santri, Siapa Target Pasar Ribuan Botol Minuman Setan di Kota Tasikmalaya?

Ketua Bidang Pengkajian MUI Kabupaten Bogor Ujang Ruhiyat menerangkan metode-metode pengajaran keagamaan di tingkat pendidikan paling awal ini harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak.

"Agar para anak bisa mudah menerima apa yang disampaikan gurunya. Karena khawatir materi yang lebih tinggi bisa membuat anak gagal paham dalam menerima ilmu," katanya.

Oleh karenanya, ia mengaku, pemberian pemahaman keagamaan yang sedikit tapi mudah dipahami akan lebih baik daripada ajaran keagamaan yang banyak namun para murid sulit untuk mengerti.

"Sedikit-sedikit yang penting mereka paham dan bisa mengaplikasikan apa yang disampaikan gurunya," katanya.

Anggota Kelompok Kerja Guru Raudlatul Athfal (KKG RA) Kabupaten Bogor Titin menyebutkan lembaga Raudhatul Athfal merupakan salah satu tempat yang tepat untuk anak usia dini dalam menanamkan nilai keagamaan.

"Pendidikan agama memang seharusnya ditanamkan pada anak sedini mungkin. Dan, lembaga RA adalah tempat yang tepat bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama selain di lingkungan rumah," ujarnya.

Ia optimstis pemahaman keagamaan yang diberikan kepada anak, akan lebih mudah diserap dan dijadikan modal awal dalam menghadapi kehidupan sang anak di masa depan.

"Pemaparan Gus Udin tadi semakin meyakinkan kami (guru RA, red.) bahwa pendidikan dan pengajaran yang kami ajarkan di sekolah sungguh akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak," katanya.

Sebelumnya viral di media sosial, dua wanita dan satu lelaki, mengaku sebagai Ratu Adil dan Imam Mahdi dari Republik Kutatandingan Dunia.

Ternyata, ketiga orang tersebut merupakan warga Bogor. Dalam video viral itu, mereka mengaku sebagai Ratu Adil dan Imam Mahdi.

Kini ketiganya yakni Warsah, Rosid dan Nuri kembali ke ajaran Islam. Bahkan, mereka meminta maaf.

"Waktu video kemarin saya mengaku Ratu Adil, Imam Mahdi, Ratu Sunda, sekarang saya engga sekali-kali lagi ngelakuin yang itu," kata wanita paruh baya bernama Warsah

Load More