Di Suzuka memang terdapat tiga klub sepak bola, namun standarnya masih amatir dan semi profesional.
Tiga klub tersebut ialah Suzuka Unlimited FC, Veertien Mie - klub yang berdiri karena sang pendiri begitu menidolai legenda Belanda, Johan Cruijff, dan FC Ise Shima klub kecil yang berlokasi di selatan Suzuka.
Meski berdekatan dan dikelilingi oleh banyak investor besar, ketiga klub ini benar-benar dibangun dengan keinginan tulus untuk menjadi klub profesional. Sejumlah investor pun tidak terlalu bernafsu untuk menganeksasi klub-klub ini. Mereka dibiarkan tumbuh kembang dengan sendiri.
Shinji Kuki, direktur eksekutif JFA prefektur Mie (setingkat asprov di Indonesia) menyebut bahwa perkembangan klub di wilayahnya memang cukup berbeda namun ia melihat ada kemajuan tiap tahunnya dari ketiga klub tersebut untuk menjadi profesional.
Hal sama juga dialami Nagasaki, kota ini baru memiliki klub sepak bola pada 1985 setelah berdirinya Ariake Football Club.
Klub ini sepanjang era 80-an dan 90-an lebih banyak bermain di kasta kedua Liga Jepang. Bisa dibilang Ariake Football Club ialah klub 'seadanya' di Jepang.
Baru pada 2005, klub ini kemudian bergabung dengan klub lain bernama Kunimi Football Club dan muncullah nama klub baru, V-Varen Nagasaki. Kemajuan klub ini terbilang cukup lambat dibanding klub lain di Jepang. Hingga musim 2016/17 lalu saja, klub ini masih berkutat di kasta kedua Liga Jepang.
Nasib berbeda justru dialami klub lain yang berasal dari Hirosima, Sanfrecce Hiroshima. Klub ini sudah tampil di J League dan menjadi salah satu klub profesional di Jepang, padahal klub ini baru berdiri pada 1992 silam.
Ketiadaan investor besar yang bisa menopang V-Varen Nagasaki jadi salah satu penghambatnya. Padahal klub ini memiliki stadion megah dengan kapasitas 20 ribu tempat duduk bernama Transcosmos Stadium Nagasaki.
Baca Juga: Pelatih Asal Jepang Sebut Indonesia Sulit Tembus Peringkat 100 Dunia, Singgung Kebiasaan Pemain
Susahnya untuk mendapat investor untuk sebuah klub di Liga Jepang menurut Kuki memang jadi permasalahan tersendiri bagi kemajuan sepakbola Jepang. Namun bagi para pengurus federasi, hal tersebut memiliki makna positif yakni sepak bola Jepang dibangun dengan konsep yang matang,
"Untuk dalam waktu dekat memang cukup sulit, banyak klub di prefektur lain yang juga bersaing untuk bisa tampil di J League namun yang pasti saat ini kami hanya ingin lebih terkonsep dan berhati-hati untuk menatap masa depan yakni memiliki banyak klub sepakbola yang benar-benar profesional," kata Kuki seperti dilansir dari un.co.jp
Pihak federasi pun tak menutup mata soal perfomance klub di Jepang yang masih jauh dari standar konsistensi dan prestasi dari kacamata para investor, akibatnya banyak klub yang ditinggalkan sponsornya. "Ini tidak baik untuk sepakbola Jepang di masa mendatang," kata Kuki.
Laporan dari jurnalis Chris Walmsley memaparkan angel berbeda dari orang Jepang membangun sepakbola mereka. Bagi orang Jepang, membangun sepakbola tidak bisa sembarangan dan hanya fokus pada sisi komersil belaka.
Masaku Yoshida yang ditemui oleh Walmsley mengatakan bahwa cita-citanya menjadi manajer di Suzuka Unlimited ialah untuk membangun klub lokal yang matang dari semua lini.
Meski masih bermain di tingkat regional, klub ini memiliki dua pemain non Jepang yang berasal dari Brasil yakni Efrain Rintaro yang berposisi sebagai striker dan Pablo Yan Fereira di sektor tengah.
Berita Terkait
-
Sulit Menang di Laga Terakhir, Pelatih Tokyo Verdy Harus Mulai Lirik Arhan
-
Syukuri 78 Tahun Indonesia Merdeka, Gubernur Khofifah dan Masyarakat Ikut Dzikir dan Salawat Bersama Habib Syech
-
Kalimalang Dulu dan Sekarang, Dibangun 12 Tahun Setelah Indonesia Merdeka hingga Jadi Arena Lomba 17 Agustus
-
Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki: Nama Bom, Kronologi hingga Alasan Amerika Ngebom Jepang
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
-
Update Kericuhan Lukas Enembe: 14 Orang Diperiksa, Polisi Data Puluhan Kendaraan yang Rusak
-
Momen Akrab Presiden Prabowo Dialog di Atas Perahu: Borong Keluhan Nelayan Gorontalo
-
4 Rekomendasi Sepatu Lokal Harga Rp 300 Ribuan dengan Kualitas World Class
-
Tak Terima Ibunya Disebut 'Penyakitan', Pria di Pandeglang Cekik Kekasih hingga Tewas
-
Modus Licin Pengedar Cimahi, Sembunyikan Sabu di Tumpukan Beras Hingga Transaksi di Pos Satpam
-
PFI Bogor Gelar Bedah Foto APFI 2026, Soroti Risiko dan Etika Jurnalisme Visual Dunia
-
MBG Bisa Dijalankan Tanpa Ganggu Kondisi Fiskal, Begini Caranya
-
Koleksi Terbaru Musim Panas 2026, Pedro Tawarkan Gaya Pesisir yang Ringan, Elegan, dan Timeless
-
Cuma di Jakarta, Penonton Konser Westlife Bisa Bawa Pulang Gelang LED Eksklusif