Dua pemuda etnis Rohingya sedang berbaring di atas tumpukan pakaian bekas [suara.com/Alfiansyah Ocxie]
"Halo abah, halo." Suara itu terdengar jelas dari mulut Rukhiah Hatun. Di ujung telepon, sang suami sedang berbicara. Setelah beberapa kali berkata "halo," Rukhiah pun semringah. Ia gembira karena suaminya menjawab.
Perbincangan terus berlanjut dalam bahasa Burma. Sesekali ia menoleh, sembari melempar senyum. Anaknya, Muhammad Mahing, yang baru berusia 4 bulan, mendekap kuat dipelukan tangan kiri. Di tengah perbincangan, Rukhiah juga menyodorkan telepon kepada anaknya.
"Abah, halo abah, abah, abah," kata Rukhiah mengajarkan anaknya memanggil ayah.
Perbincangan terus berlanjut dalam bahasa Burma. Sesekali ia menoleh, sembari melempar senyum. Anaknya, Muhammad Mahing, yang baru berusia 4 bulan, mendekap kuat dipelukan tangan kiri. Di tengah perbincangan, Rukhiah juga menyodorkan telepon kepada anaknya.
"Abah, halo abah, abah, abah," kata Rukhiah mengajarkan anaknya memanggil ayah.
Tapi, Muhammad Mahing hanya bersuara, "Ta, tatata, tata."
Rukhiah adalah salah seorang perempuan etnis Rohingya yang kini berada di Kuala Langsa, Aceh. Ia bersama anak dan keponakannya selamat setelah mendapat bantuan nelayan Aceh beberapa waktu lalu. Anaknya yang masih balita, tampak sehat. Rukhiah tetap berusaha memberinya ASI di tengah lautan.
"Saya beri dia ASI di laut. Mereka ada bagi makanan untuk perempuan, saya makan supaya dia makan," kata Rukhian dengan dialek Melayu kepada suara.com, Senin (18/5/2015).
Rukhiah bisa sedikit berbahasa Melayu, lantaran pernah tinggal di Malaysia bersama suami. Hanya saja, setelah beberapa bulan di negeri jiran, ia kembali ke Burma untuk melihat kondisi sanak saudara. Sedangkan sang suami tetap memilih berada di Malaysia untuk bekerja.
Kisah Rukhiah menjadi manusia perahu bermula setelah ia pulang ke Myanmar.
Diceritakannya, saat di sana, masyarakat muslim Rohingya kerab mendapat perlakuan tak adil. Orang-orang Rohingya, kata dia, disiksa dan dibunuh. Anggota keluarga dan sanak saudaranya juga menjadi korban.
"Orang-orang Budust gaduh-gaduh, siksa dan bantai kalau tahu orang muslim. Famili tak ada lagi, mereka bantai semua," tutur Rukhiah.
Karena konflik kian tinggi, keamanan tak terjamin, Rukhiah lantas memilih kembali menjadi imigran gelap ke Malyasia. Ia pun mendatangi seorang agen perjalanan.
"Mereka akan bawa saya keluar dari Burma. Mereka janji bawa ke Malay," katanya.
Hanya saja, kata dia, untuk mengangkut mereka, agen meminta sejumlah uang. Permintaan itu dipenuhi Rukhiah dengan memberi enam ribu uang Myanmar. Setelah pembayaran dilakukan, Rukhiah, anak, dan keponakannya dibawa ke sebuah pelabuhan. Di sana, kata dia, puluhan orang sudah berkumpul.
"Ada banyak-banyak perempuan, orang laki," kata dia.
Baru pada malam hari, kata dia, mereka diangkut menggunakan sebuah boat kecil. Ada sekitar tiga puluhan orang perempuan dan anak-anak di dalam boat.
Namun, ketika ditanya lebih rinci soal berapa hari mereka di lautan? Rukhiah, tidak dapat memastikannya. Ia hanya mengingat setelah dari boat kecil, mereka dipindahkan ke dalam boat berkapasitas orang banyak.
"Ada banyak-banyak perempuan, orang laki," kata dia.
Baru pada malam hari, kata dia, mereka diangkut menggunakan sebuah boat kecil. Ada sekitar tiga puluhan orang perempuan dan anak-anak di dalam boat.
Namun, ketika ditanya lebih rinci soal berapa hari mereka di lautan? Rukhiah, tidak dapat memastikannya. Ia hanya mengingat setelah dari boat kecil, mereka dipindahkan ke dalam boat berkapasitas orang banyak.
"Ada ramai-ramai orang di sana. Tak bisa gerak. Sudah gaduh-gaduh rebut makanan," kata Rukhiah.
ABK dan kapten boat besar yang mereka tumpangi juga begitu kejam. Bahkan, kaum perempuan yang memilki anak sering mendapat ancaman saat mereka meminta makanan dan minuman.
"Kalau minta-minta, mereka mau buang anak-anak ke laut," kata dia.
Sebab itu, kata dia, mereka hanya bisa bersabar menanti jatah makanan.
"Bagi sikit-sikit, saya makan, agar anak bisa makan (ASI)," ujarnya.
Setelah berbulan-bulan tak sampai ke tujuan, sikap kejam ABK dan kapten kapal juga semakin menjadi-jadi. Orang-orang di sepak, dibuang ke tengah laut. Baru kemudian mereka meninggalkan boat. Beberapa bagian dari dinding boat juga sengaja dirusak.
"Alhamdulillah, sampai Indonsia. Alhamdulillah, anak bisa hidup," ujarnya.
Kata dia, jika tidak ada nelayan yang membantu, maka orang-orang di dalam boat, baik anak-anak dan kaum perempuan sudah meninggal. Sebab, saat para ABK dan kapten kapal pergi, tak ada satupun logistik yang tersisa. Mereka hanya terombang-ambing di tengah lautan.
"Alhamdulillah, Indonesia bantu, alhamdulillah," katanya.
Rukhiah mengaku begitu senang setelah melihat bala bantuan datang.
Ketika ditanya apakah dirinya ingin tetap tinggal di sini? Rukhiah menjawab Indonesia tempat yang bagus dan sangat ingin berada di sini. Di Indonesia banyak muslim.
"Indonesia bagus, Malaysia ok. Muslim-muslim baik-baik," katanya sembari berharap bisa bertemu kembali dengan suami.
"Mahing mau lihat abah," kata dia. [Alfiansyah Ocxie]
Ikuti hasil liputan langsung suara.com di lokasi penampungan pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Aceh.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
RS Tolak Pasien karena JKN Nonaktif, Mensos Gus Ipul: Mestinya Disanksi BPJS, Tutup Rumah Sakitnya
-
Mensos Gus Ipul: RS Tak Boleh Tolak Pasien BPJS Penerima Bantuan Iuran
-
Wamendagri Wiyagus Lepas Praja IPDN Gelombang II, Percepat Pemulihan Pascabencana Aceh Tamiang
-
Kasatgas PRR Ingatkan Pemda yang Lambat Kirim Data Penerima Bantuan Bencana
-
Satgas PRR Resmikan Huntara di Tapanuli Selatan dan Tujuh Kabupaten Lain Secara Serempak
-
Kasus Tragis Anak di Ngada NTT, Pakar Sebut Kegagalan Sistem Deteksi Dini dan Layanan Sosial
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Anak Adies Kadir jadi PAW di DPR, Bahlil Jelaskan Alasannya
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?