News / Nasional
Sabtu, 06 Juni 2015 | 14:25 WIB
Presiden Joko Widodo, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, mantan Wapres Boediono, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, di Kota Blitar. [suara.com/Yovie Wicaksono]

Suara.com - Anggota Biro Politik PDI Perjuangan (PDIP), Hamid Basyaib, membenarkan jika anggota Tim Komunikasi Publik Presiden, Sukardi Rinakit, tidak jeli mendalami kebenaran sumber yang dikutip mengenai kelahiran mantan Presiden Soekarno.

"Jadi memang tim komunikasi itu keliru. Tentu kita berharap nanti lebih cermat dan hati-hati. Tapi sekali ini, ya," kata Hamid, saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/6/2015).

Meski dianggap keliru, Hamid menyebut bahwa kesalahan yang dilakukan Sukardi masih bisa dimaklumi.

"Ada pernyataan dari Doktor Sukardi Rinakit (yang) dengan legowo dan jantan mengakui bahwa itu salah dia. Tapi itu kesalahan yang menurut saya cukup manusiawi dan bisa dimaafkan," katanya.

Hamid mengaku, anak kandung Soekarno, Guruh Soekarnoputra, sebelumnya pernah mengingatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menetapkan bahwa Bung Karno terlahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 silam.

"Tahun 2013, Mas Guruh sudah mengingatkan supaya pemerintah cepat meluruskan (soal) kelahiran ini," katanya.

Sebelumnya diketahui, Jokowi sempat menyebut bahwa kota kelahiran Bung Karno adalah Blitar. Kekeliruan itu diucapkan Jokowi saat Peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni lalu, di Blitar, Jawa Timur. Padahal sebenarnya, presiden pertama Indonesia itu dilahirkan di Surabaya.

Anggota Tim Komunikasi Publik Presiden Jokowi, Sukardi Rinakit, belakangan mengaku sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas salah ucap Jokowi ihwal kota kelahiran Bung Karno. Sukardi juga meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya kepada keluarga Bung Karno. Ke depan, Sukardi berjanji akan berhati-hati dalam memberikan informasi, khususnya yang berkaitan dengan perjalanan sejarah bangsa.

Load More