- Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menanggapi rumor penggunaan lumba-lumba militer di Selat Hormuz saat ketegangan dengan Iran meningkat.
- Angkatan Laut AS telah menjalankan program mamalia laut sejak Perang Dingin untuk mendeteksi ranjau serta mengamankan pelabuhan militer.
- Lumba-lumba dipilih karena memiliki kemampuan sonar alami yang dianggap lebih efektif untuk melindungi jalur perdagangan minyak yang vital.
Suara.com - Rumor mengenai penggunaan lumba-lumba militer di kawasan Selat Hormuz mencuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Isu tersebut muncul setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, ditanya soal kemungkinan Iran menggunakan mamalia laut dalam operasi militernya di kawasan Teluk Persia.
Meski menyebut Iran tidak memiliki “armada lumba-lumba”, Hegseth enggan menjelaskan lebih lanjut terkait program serupa yang pernah dijalankan militer AS.
“Saya tidak akan mengonfirmasi atau menyangkal apakah kami memiliki lumba-lumba kamikaze,” ujar Hegseth dikutip dari CNN, Kamis (7/5/2026).
Program Mamalia Laut Militer AS
Faktanya, Angkatan Laut AS memang memiliki program mamalia laut yang telah berjalan sejak era Perang Dingin.
Program tersebut melatih lumba-lumba hidung botol dan singa laut California untuk membantu mendeteksi ranjau bawah air dan mengamankan pelabuhan militer.
Program itu berada di bawah Departemen Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian Angkatan Laut AS.
“Kami menggunakan mamalia laut untuk membantu mendeteksi objek di bawah air dan melindungi pelabuhan dengan mendeteksi penyusup,” kata insinyur senior RAND Corporation, Scott Savitz.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 6 Persen Usai Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Mereda
Menurut penjelasan resmi program tersebut, lumba-lumba dipilih karena memiliki kemampuan sonar alami yang dinilai lebih efektif dibanding sejumlah perangkat bawah laut modern.
Dalam operasi standar, lumba-lumba dilatih untuk menemukan lokasi ranjau dan menandainya menggunakan pelampung agar dapat dijinakkan oleh penyelam militer.
Ketegangan di Selat Hormuz
Isu soal lumba-lumba militer kembali ramai dibahas saat situasi keamanan di Selat Hormuz memanas akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Laporan sejumlah media Barat sebelumnya menyebut Iran memperkuat pertahanan lautnya di kawasan tersebut. Namun hingga kini tidak ada bukti valid yang menunjukkan Teheran memiliki program lumba-lumba militer seperti yang ramai diperbincangkan.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Kawasan itu kerap menjadi titik panas konflik geopolitik karena dilalui sebagian besar distribusi minyak global.
Ketegangan terbaru membuat isu keamanan maritim kembali menjadi perhatian internasional, termasuk terkait penggunaan teknologi maupun hewan dalam operasi militer bawah laut.
Berita Terkait
-
Laga Pembuka Piala Dunia 2026 AS vs Paraguay Masih Banyak Kursi Kosong, Minat Beli?
-
Penembak Acara Gedung Putih Ternyata Marah soal Iran, Donald Trump Jadi Target Utama
-
Wawancara Pelatih Timnas Amerika Serikat: Beban Berat Mauricio Pochettino di Piala Dunia 2026
-
Di Tengah Perang, Amir Ghalenoei Obsesi Bawa Iran Lepas dari Kutukan di Piala Dunia 2026
-
Harga Minyak Naik Tipis, Investor Ragukan Kesepakatan AS-Iran Tercapai
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan