Suara.com - Bencana longsor yang terjadi di Cina Selatan telah menewaskan dua orang dan lebih dari 70 orang masih hilang. Namun bencana ini ternyata disebabkan oleh pelanggaran aturan keselamatan konstruksi dan dinyatakan bukan akibat bencana alam. Penjelasan ini muncul dari situs pejabat Shenzen, Provinsi Guangdong, Cina.
Penyelidikan oleh tim di Shenzhen yang diarahkan oleh Kementerian Cina ini menemukan bahwa bencana yang terjadi pada Minggu (20/12/2015) lalu tersebut berasal dari bahan konstruksi limbah di tempat pembuangan akhir ketimbang dari gerakan geologis. Penjelasan ini muncul di situs kementerian, Jumat (25/12/2015).
"Mereka yang bertanggung jawab akan dihukum berat sesuai dengan undang-undang," kata pernyataan tersebut.
Bencana buatan ulah manusia ini telah menimbun 33 bangunan di area industri dan menimbulkan pertanyaan tentang standar keamanan industri di Cina serta kurangnya pengawasan yang menyebabkan kecelakaan fatal.
Kawasan industri Shenzhen masih menyisakan risiko akan longsor di tiga tempat lainnya dan para ahli telah didatangkan untuk menangani masalah ini, menurut pernyataan Kantor Berita Xinhua yang mengutip dari pejabat Shenzhen.
"Ada juga benda kimiawi yang berbahaya dan perlu diidentifikasi dan diteliti," kata Kepala Biro Perumahan dan Pengembangan Desa-Perkotaan, Yang Shengjun.
Yang mengatakan belum ada tanda-tanda udara atau air yang terdeteksi.
Perusahaan yang mengelola tempat pembuangan limbah, Shenzhen Yixianglong sebelumnya telah didesak untuk berhenti beroperasi empat hari sebelum bencana, kata pejabat eksekutif lembaga monitoring yang ditunjuk pemerintah, Kamis (24/12/2015).
Xinhua melaporkan bahwa tempat pembuangan yang telah digunakan selama 10 bulan seharusnya tidak lagi menerima limbah, di sisi lain perusahaan Yixianglong mendapatkan 7,5 juta yuan (1,16 juta dolar AS) sebagai upahnya. (Antara)
Berita Terkait
-
Banjir dan Longsor Terjang Brasil, Enam Tewas Ribuan Orang Kehilangan Tempat Tinggal
-
Fadli Zon Jajaki Pendirian Rumah Budaya Indonesia di Beijing
-
Jakarta Andalkan Wisata Terintegrasi dan Kuliner Premium untuk Gaet Pasar Tiongkok
-
Longsor Intai Jakarta, BPBD DKI Petakan 9 Kecamatan Rawan
-
Longsor Jadi Peringatan, DPRD DKI Percepat Pembenahan TPST Bantargebang
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kapolri Sebut Penguatan Kompolnas Cukup Masuk di Revisi UU Polri, Tak Perlu UU Baru
-
Ahli Psikologi TNI Bongkar Profil 4 Penyiram Air Keras Andrie Yunus: Kemampuan Analisa Rendah
-
Buntut Kematian Dokter Myta, Kemenkes Tunda Internship di Puskesmas dan RSUD Kuala Tungkal
-
'Nak Keluar Sayang', Noel Minta Putrinya yang Berseragam Sekolah Keluar Sidang karena Ditegur Hakim
-
7,36 Persen Warga Indonesia Tanpa Air Bersih, Teknologi Ini Jadi Harapan Baru?
-
Kasus Dokter Internship Meninggal, Menkes Minta Audit Medis Tindakan RS
-
Maut Mengintai di Balik 'Jalan Pintas', 57 Nyawa Melayang Sia-sia di Jalur Kereta Daop 1 Jakarta
-
Eks Wamenaker Noel Ngaku 'Gak Tahu' Terima Ducati Harus Lapor KPK: Saya Menyesal Banget
-
ICW Laporkan Dugaan Korupsi Sertifikat Halal Rp49,5 Miliar di Badan Gizi Nasional ke KPK
-
Bantah Minta Ducati ke Irivan Bobby, Eks Wamenaker Noel: Saya Nggak Hobi, Motornya Malah Bikin Jatuh