- Pengibaran bendera putih oleh warga Aceh merupakan simbol keputusasaan akibat banjir bandang dan krisis logistik selama tiga pekan.
- Aksi ini juga menjadi protes keras menuntut pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional bagi wilayah terdampak.
- Mendagri Tito Karnavian telah meminta maaf atas kekurangan penanganan, meski Pemerintah Aceh menyurati lembaga internasional untuk bantuan.
Suara.com - Kibaran ribuan bendera putih di sepanjang jalur lintas nasional Aceh kini menjadi tamparan keras bagi pemerintah pusat. Hal tersebut memicu reaksi resmi dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri).
“Dengan segala kerendahan hati kami minta maaf ya bila ada kekurangan yang ada. Memang kendala yang dihadapi cukup besar karena medan yang cukup berat,” kata Tito dalam konferensi pers di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (19/12/2025).
Di balik permohonan maaf sang menteri, tersimpan realita pahit mengenai persoalan logistik hingga desakan status bencana nasional yang tak kunjung dikabulkan. Berikut tujuh fakta mendalam di balik aksi bendera putih warga Aceh:
1. Simbol Keputusasaan Menghadapi Bencana Ekologis
Pengibaran bendera putih ini merupakan respons warga terhadap bencana banjir bandang dan tanah longsor yang telah melanda wilayah Aceh selama lebih dari tiga pekan.
Bagi warga, kain putih yang dikibarkan di depan rumah, posko pengungsian, hingga di sepanjang Jalan Lintas Nasional Banda Aceh–Medan menjadi sinyal bahwa mereka telah “menyerah” karena kehabisan sumber daya, makanan, dan energi untuk bertahan secara mandiri.
2. Meluas di Sepanjang Jalur Lintas Nasional
Aksi pengibaran bendera putih tidak hanya terjadi di pelosok desa, tetapi juga memenuhi sepanjang Jalan Lintas Nasional Banda Aceh–Medan.
Titik konsentrasi terbesar terpantau di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, hingga Aceh Utara. Keberadaan bendera di jalur utama ini sengaja dilakukan untuk menarik perhatian publik dan para pengguna jalan.
3. Protes Terhadap Lambannya Bantuan Pemerintah
Selain simbol duka, bendera putih ini menjadi bentuk protes keras warga dan aktivis terhadap lambannya distribusi logistik dari pemerintah.
Bahkan, Koalisi Sipil Masyarakat Aceh yang berada di depan Masjid Raya Baiturrahman turut mengibarkan bendera serupa sebagai kritik atas kegagalan negara dalam memberikan penanganan darurat yang memadai.
Baca Juga: Sumur Terakhir dan Bagaimana Mukhlis Mencari Tuhan Seusai Banjir Aceh
4. Tuntutan Status Bencana Nasional
Salah satu fakta kunci di balik aksi ini adalah desakan warga agar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, segera menetapkan status bencana nasional untuk wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Warga menilai kapasitas pemerintah daerah telah lumpuh dan membutuhkan intervensi penuh dari APBN serta pengerahan kekuatan nasional secara masif.
5. Langkah Inisiatif Pemerintah Aceh Menyurati Lembaga Internasional
Merespons kondisi yang kian kritis, Pemerintah Provinsi Aceh melalui Gubernur Muzakir Manaf telah mengambil langkah luar biasa dengan menyurati dua lembaga internasional, yakni UNDP dan UNICEF.
Langkah ini diambil untuk meminta bantuan pemulihan pascabencana mengingat skala kerusakan infrastruktur di 18 kabupaten/kota yang sangat luas.
6. Permohonan Maaf dari Pemerintah Pusat
Peristiwa ini memicu reaksi dari Jakarta. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh atas kekurangan dalam penanganan bencana.
Pemerintah pusat mengakui adanya kendala medan yang berat serta distribusi bantuan yang terhambat. Kendati demikian, Tito memastikan pemerintah akan secepatnya memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Tag
Berita Terkait
-
Sumur Terakhir dan Bagaimana Mukhlis Mencari Tuhan Seusai Banjir Aceh
-
Mendagri: Pemerintah Hadir Penuh Tangani Bencana di Sumatera
-
Kemenhut Mulai Verifikasi Kayu Gelondongan Bencana Sumatera
-
UMKM Terdampak Banjir Sumatera Dapat Klaim Asuransi untuk Pemulihan Usaha
-
Danantara Bangun 15.000 Hunian Sementara untuk Korban Banjir Sumatera
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
- 5 Rekomendasi HP Rp1 Jutaan untuk Ojol, RAM 8 GB dan Baterai Awet
Pilihan
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Kasus Saham Gorengan, Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Baru, Salah Satunya Eks Staf BEI!
-
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Saham Gorengan
-
Dompet Menjerit Jelang Ramadan, Petani Tak Nikmati Harga Pangan yang Melambung Tinggi
Terkini
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Rano Karno Mau Sulap Planetarium Jakarta Setara Las Vegas
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Klaim Sukses di Banyuwangi, Luhut Umumkan Digitalisasi Bansos Diperluas ke 40 Daerah
-
Kasus Saham Gorengan, Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Baru, Salah Satunya Eks Staf BEI!
-
Polisi Sebut Habib Bahar Ikut Lakukan Pemukulan di Kasus Penganiayaan Banser
-
Riza Chalid Diburu Interpol, Kerry Andrianto: Ayah Tak Tahu Apa-apa
-
Uji Coba Digitalisasi Bansos di Banyuwangi Diklaim Sukses, Angka Salah Sasaran Turun Drastis
-
Tak Sendiri, Habib Bahar Ternyata Tersangka Keempat Kasus Penganiayaan Banser!