Suara.com - Pengamat politik Boni Hargens mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menuntaskan kasus bailout Bank Century. Kasus bank gagal berdampak sistemik yang merugikan uang negara sebesar Rp6,7 triliun itu terjadi di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Kita dorong (KPK) agar kasus Century dibongkar tuntas. Nazaruddin yang masih hidup harus segera dijadikan aset untuk membuka keterlibatan aktor-aktor besar lain sepanjang pemerintahan 10 tahun lalu. Yang juga kasus-kasus korupsi yang melibatkan orang-orang dalam Istana pada zaman SBY," kata Boni dalam diskusi yang bertajuk Korupsi dan Kekuasaan: Membaca Sejarah Mengenang Para Sengkuni di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (7/12/2016).
Nazaruddin merupakan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang kini telah dipenjara dalam kasus korupsi.
Boni mengatakan kasus korupsi tersebut harus diusut tuntas agar menjadi pembelajaran sejarah dan jangan lagi menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperkaya diri.
"Sehingga yang terjadi di dalam pilpres, dan pilkada money politic berkembang liar dan masyarakat tak lagi malu menerima uang politik karena politik itu memang untuk cari uang," katanya.
Komisaris Utama LKBN Antara mengatakan dampak paling buruk dari korupsi adalah masyarakat akan mereduksi politik sebagai alat pencari uang. Padahal, seharusnya politik berfungsi untuk membangun moralitas dan peradaban sehingga harkat dan martabat demokrasi pulih.
"Kasus listrik, Century dan kasus-kasus lain diusut tuntas. Seperti Kasus depo Pertamina Balaraja yang melibatkan AS. Ini contoh kasus di kejaksaan yang mangkrak kontraktornya ketika itu Pak SU. Artinya apa bahwa penegakan hukum jangan menjadi retorika, tapi menjadi aksi dan ini momentum besar ada di tangan kita," kata Boni.
Berita Terkait
-
Analis Boni Hargens: Sinergi Polri dan Lembaga Negara Sukses Jaga Kondusivitas Ramadan
-
Krisis Geopolitik Memanas, Boni Hargens Dukung Pernyataan Dasco Soal Persatuan Nasional
-
Boni Hargens: Ide Polri di Bawah Kementerian Melemahkan Presiden
-
Tolak Polri di Bawah Kementerian, Boni Hargens: Sikap Kapolri Jaga Arsitektur Demokrasi
-
Boni Hargens: Rekomendasi Kompolnas Normatif Saja Soal Reformasi Polri
Terpopuler
- Gaji Rp 8,2 M Belum Dibayar, Aktivis-Influencer Sedunia Tuntut Badan Propaganda Israel
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- Promo Alfamart 14-18 Maret 2026: Diskon Sirop dan Wafer Mulai Rp8 Ribuan Jelang Lebaran
- Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
Pilihan
-
Arus Mudik H-4 Idulfitri, 100 Ribu Orang Sudah Berangkat dari Stasiun Gambir
-
Pertama di Dunia! Malaysia Robek-robek Perjanjian Dagang dengan AS, Indonesia?
-
Analisis Militer: Iran Pakai Strategi 'Vietnam Kedua' yang Bikin AS Putus Asa
-
Amerika Serikat Akhirnya Akui 200 Tentara Jadi Korban Rudal Kiamat Iran
-
6 Fakta Kecelakaan Bus Haryanto Tabrak 5 Mobil Pemudik di Tol Batang
Terkini
-
Kemenhub Jelaskan Penyebab Tiket Pesawat Mahal Jelang Lebaran 2026
-
Gus Alex Pasang Badan, Bantah Ada Perintah dari Yaqut di Kasus Kuota Haji
-
Resmi Pakai Rompi Oranye KPK, Gus Alex Bantah Terima Perintah dari Gus Yaqut dalam Kasus Haji
-
Lebih dari 116 Ribu Orang Ikut Mudik Gratis BUMN 2026, Realisasi Lampaui Target 10 Persen
-
Pemerintah Kaji Potong Gaji DPR dan Kabinet Demi Cegah Defisit
-
Gus Alex Ditahan KPK Susul Yaqut: "Mudah-mudahan Kami Bisa Menemukan Keadilan"
-
Pembatasan AI bagi Siswa SD hingga SMA: Melindungi atau Mengancam Masa Depan Anak Bangsa?
-
Israel Sibuk Tepis Rumor Kematian Netanyahu, Ini 5 Keanehan Video Terbaru PM Israel saat Sapa Warga
-
Donald Trump Tantrum, Sebut Sekutu Tak Tahu Terima Kasih Usai Tolak Amankan Selat Hormuz
-
Sindikat Uang Palsu Rp12 Miliar di Cirebon Digulung Polisi, Sasar Peredaran Jelang Lebaran 2026