Suara.com - Dalam masa kampanye pilkada Jakarta periode 2017-2022, tim sukses masing-masing kandidat berlomba-lomba memperbanyak followers atau fans lewat akun kampanye di media sosial demi menjaring dukungan dan suara masyarakat. Berbagai strategi pun digencarkan mulai dari menulis konten-konten yang mengundang rasa penasaran, mengundang pertanyaan, mengangkat isu atau tema tertentu.
Namun, yang jadi masalah dari sekian akun kampanye di media sosial, banyak beredar akun palsu yang sengaja dibuat untuk memprovokasi, menjatuhkan lawan, atau mencoreng nama baik salah satu kandidat. Seperti yang sering dialami pasangan calon Anies Baswedan - Sandiaga Uno.
“Akun-akun palsu tersebut memang sengaja dibuat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Seakan-akan membuat akun medsos mengatasnamakan Anies-Sandi tapi isinya adu domba paslon lain. Kami di Anies-Sandi sudah ada koridornya, tidak pernah masuk ke ranah adu domba. Ketika kita adu gagasan ya program pasangan calon lain yang kita adu argumen agar masyarakat tercerahkan,” kata Koordinator Anies-Sandi Digital Volunteer Anthony Leong, Rabu (4/1/2016).
Atas beredarnya akun-akun palsu tersebut, Anthoni yang merupakan pakar digital marketing itu mensinyalir adanya kepanikan dari timses pasangan calon lain sehingga menghalalkan cara tak terpuji untuk menjatuhkan.
“Akun sosmed yang palsu ini kayak kemarin muncul akun fanpage Facebook Sahabat Anies Sandi, Anies-Sandi, dan lainnya itu menandakan bahwa tim lain mulai panik dengan pasangan Mas Anies - Bang Sandi yang sudah teruji rekam jejaknya, dan layak pimpin Jakarta,” tutur Anthony yang juga merupakan juru bicara tim pemenangan Anies-Sandiaga.
Anthony menegaskan akan menempuh jalur hukum untuk merespon akun sosial media tidak resmi. Dia menduga akun-akun tersebut berasal dari tim pesaing.
"Ini jelas bukan tim kami. Yang begitu akan kita laporkan pada pihak berwajib, yang lalu juga sudah banyak akun yang ditutup setelah kami laporkan. Ini bisa terjadi karena tim lain kewalahan dan mungkin mulai panik melihat pergerakan kampanye Anies-Sandi yang kian disukai masyarakat, jadi ya buat liku-likunya untuk kami mungkin," kata fungsionaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia.
Berita Terkait
-
Dedi Mulyadi Akui Marketnya Makin Luas Gara-Gara Sering Ngonten, Mau Nyapres?
-
Jatuh Bangun Nasib Ridwan Kamil: Gagal di Jakarta, Kini Terseret Isu Korupsi dan Perselingkuhan
-
Tim RIDO Laporkan KPU ke DKPP dan Minta Pemungutan Suara Ulang, Anies: No Comment!
-
Pilkada DKI: El Rumi Pilih Dharma-Kun, Soroti Masalah Kabel Listrik
-
Cak Lontong 'Ronda' Amankan Suara Pramono-Rano di Masa Tenang Pilkada
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Perampok di Medan Jerat Korban Lewat Aplikasi Kencan Sesama Jenis, 2 Pelaku Ditangkap
-
Bagaimana Cara Menghadapi Pasangan Berzodiak Capricorn saat Mereka Sedang Marah atau Ngambek?
-
Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
-
Polisi Malaysia Ungkap Pemasok 25 Kg Narkoba yang Dibawa Pilot Mohd Saufi bin Othman ke Jakarta
-
Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 6.125 Orang
-
Nekat Beroperasi, Home Stay di Jepara Kembali Digerebek Warga, Tujuh Pasangan Diamankan
-
Siasat Kurir Sembunyikan 86 Kg Sabu di Pinggir Sungai Gagal, 6 Orang Diciduk dan Bos Aeng Buron
-
Harga Telur Anjlok, SPPG Wajib Serap Telur Rp26.500 per Kg untuk MBG
-
Kebahagiaan itu Bukan Dikejar: Refleksi Menarik dari Buku Happiness Here!
-
17 Tahun Menunggu, Transmigran di Kerinci Masih Hidup Tanpa Listrik