- Megawati menegaskan bahwa Indonesia adalah milik rakyat, bukan milik segelintir pihak dalam acara di Universitas Borobudur, Jakarta.
- Ia menolak wacana pemilihan Presiden tidak langsung serta mengkritik budaya mentalitas "asal bapak senang" di berbagai lembaga negara.
- Megawati mengajak akademisi dan mahasiswa untuk mengawal demokrasi serta menegakkan hukum agar tetap berpihak kepada keadilan rakyat.
Suara.com - Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan orasi ilmiah yang berisi pesan kuat mengenai kedaulatan rakyat dan keberlangsungan demokrasi di Indonesia.
Ia menegaskan, bahwa Indonesia adalah sebuah republik yang kepemilikannya berada di tangan seluruh rakyat, bukan milik segelintir individu.
Pesan tersebut disampaikan Megawati dalam acara pengukuhan Profesor Emeritus bidang Hukum Tata Negara bagi Prof. Dr. Arief Hidayat di Universitas Borobudur, Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
"Lama-lama kok saya tidak tahan juga loh. Karena ini (Indonesia) bukannya milik seseorang. Republik Indonesia ini adalah milik kita semua. Bagaimana sih?" tegas Megawati di hadapan para tokoh hukum dan akademisi yang hadir dikutip Suara.com dari keterangannya, Sabtu (2/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Megawati juga menyoroti wacana pengubahan sistem pemilihan Presiden dari langsung menjadi tidak langsung.
Ia menyentil pihak-pihak yang menggunakan tingginya biaya politik sebagai alasan untuk mengutak-atik mandat reformasi tersebut.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan pelaksanaan Pemilu perdana tahun 1955.
"Hanya karena katanya sekarang biayanya banyak (mahal). Loh, kenapa tahun 1955 bisa? Keadaannya tenang-tenang saja, rakyatnya tenang saja. Kalau sekarang dibilang biayanya besar, itu aneh bagi saya," ujarnya.
Lebih lanjut, Megawati mengungkapkan kekhawatirannya terhadap gejala penyeragaman suara di berbagai lembaga negara.
Baca Juga: Sambut May Day 2026, Megawati Tegaskan Kesejahteraan Buruh Syarat Mutlak Keadilan Sosial
Ia mengkritik munculnya mentalitas "asal bapak senang" atau budaya "siap komandan" yang mulai merambah ke ranah sipil dan institusi hukum. Ia menceritakan pengalamannya dalam mendidik pengawal agar tetap memiliki integritas pribadi dalam menjalankan tugas.
"Apa saya dipikir tidak tahu? Tahulah saya kalau orang selalu mengelaknya begitu (bilang suruhan komandan). Makanya kalau sama pengawal saya, 'Awas loh ya kalau kamu bilang ni suruhan Komandan. No! Siap karena kamu itu tahu apa tidak tahu," cerita Megawati.
Ia mengingatkan agar lembaga negara, termasuk DPR, tidak menjadi alat kekuasaan yang menjauh dari kepentingan rakyat.
Megawati pun memberikan apresiasi tinggi kepada Prof. Arief Hidayat yang dinilai memiliki integritas karena berani menyampaikan pendapat berbeda (dissenting opinion) dalam memutus perkara di Mahkamah Konstitusi.
Megawati mengajak kaum akademisi dan mahasiswa untuk tidak tinggal diam melihat kondisi hukum dan demokrasi saat ini.
"Jangan biarkan hukum kehilangan keberpihakannya. Saya ingin sampaikan kepada akademisi dan mahasiswa, getarkan suara hati nurani saudara untuk mengawal kebenaran dan keadilan," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Kritik Penanganan Kasus Andrie Yunus, Megawati: Kok Masuknya ke Pengadilan Militer? Pusing Saya
-
Ganjar: Sudah Saatnya Kodifikasi Hukum Pemilu Dilakukan
-
KPK Usul Pembatasan Uang Tunai di Pemilu, Ganjar Pranowo: Bagus, Tapi Pertimbangkan Daerah Remot
-
Revisi UU Pemilu Didorong Transparan dan Segera Dibahas, DPR Soroti Jangan Ada 'Ruang Gelap'
-
Sambut May Day 2026, Megawati Tegaskan Kesejahteraan Buruh Syarat Mutlak Keadilan Sosial
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis
-
Klasemen Piala AFF 2026 Usai Timnas Indonesia Digebuk Vietnam: Wajib Menang di Singapura
-
Mengapa Direktur Bus ALS Jadi Tersangka? Polisi Periksa 50 Saksi sebelum Naikkan Kasus ke Penyidikan
-
Polda Metro Jaya Siap Ladeni 'Serangan' Praperadilan Keempat Roy Suryo
-
Ada Anomali dalam Kebakaran BYD Seal di Cikampek, Investigasi Masih Berlangsung
-
30 Juta Cowok di China Jomblo, Mak Comblang Jadi Ladang Bisnis Cuan