Gerakan Kesejahteraan untuk Tunarungu Indonesia (Gerkatin) melakukan sosialisasi belajar bahasa isyarat di Car Free Day (CFD), Jakarta, Minggu (11/9).
Aksi bully terhadap anak berkebutuhan khusus tak hanya terjadi di lingkungan rumah, bahkan sampai terjadi di lingkungan universitas. Kejadian terakhir menimpa Farhan, mahasiswa semester II, angkatan 2016, jurusan Sistem Informasi di Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma, yang videonya sampai viral dan memunculkan kecaman dari publik.
Kasus semacam itu menjadi salah satu alasan orangtua khawatir menyekolahkan putra atau putri mereka yang berkebutuhan khusus di sekolah formal.
Pengajar sekolah swasta di Tanjungpandan, Belitung, Berinda Natalia (21), mengakui adanya fenomena kekhawatiran orangtua itu.
''Orangtua cenderung takut menyekolahkan anaknya, takut anak mereka dibully. Karena banyak yang tidak bisa menerima kekurangan mereka,'' kata Berinda kepada Suara.com via aplikasi WhatsApp, Senin (17/7/2017).
Berindra mengungkapkan anak berkebutuhan khusus terkadang mendapatkan stigma negatif dari orangtua anak yang normal.
''Banyak yang ngomong, anaknya nggak bisa diem, terus suka memukul. Banyak nggak pengertian. Karena kan kita bukan sekolah luar biasa. Jadinya lebih banyak omongan orangtua lain gitu,'' ujarnya.
Berinda kemudian menceritakan pengalaman menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka umumnya pintar, tetapi memang punya kekhususan. Menghadapi mereka, katanya, memerlukan kesabaran, apalagi dalam hal pelajaran.
''Hadapinnya harus dengan penuh kesabaran. Memberi pelajarannya juga yang monoton. Misalnya dalam satu minggu, kita hanya kasih dua pelajaran untuk mereka pelajari, dan diajari secara berulang-ulang,'' katanya.
Ketakutan tak hanya dirasakan orangtua, anak-anak berkebutuhan khusus juga terkadang mengalami ketakutan.
''Iya, kadang ada rasa takut. Itu pun takutnya karena situasi baru, belum terbiasa. Biasanya juga pas hari pertama sekolah,'' kata dia.
Membimbing anak-anak berkebutuhan khusus, kata Berinda, membutuhkan perjuangan ekstra.
''Iya kadang capek, apalagi kalau mereka sedang aktif-aktifnya. Terus kadang juga kan mereka mood-moodan belajarnya. Kalau moodnya lagi nggak bagus, susah,'' katanya.
Walau memiliki kebutuhan khusus, kata Berinda, anak-anak tersebut memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki anak lainnya.
''Kelebihan mereka ya, mereka tahu mana orang yang bener-bener mengasihi atau sayang sama mereka sih,'' ujar Berinda. [Sarah Andinie]
Kasus semacam itu menjadi salah satu alasan orangtua khawatir menyekolahkan putra atau putri mereka yang berkebutuhan khusus di sekolah formal.
Pengajar sekolah swasta di Tanjungpandan, Belitung, Berinda Natalia (21), mengakui adanya fenomena kekhawatiran orangtua itu.
''Orangtua cenderung takut menyekolahkan anaknya, takut anak mereka dibully. Karena banyak yang tidak bisa menerima kekurangan mereka,'' kata Berinda kepada Suara.com via aplikasi WhatsApp, Senin (17/7/2017).
Berindra mengungkapkan anak berkebutuhan khusus terkadang mendapatkan stigma negatif dari orangtua anak yang normal.
''Banyak yang ngomong, anaknya nggak bisa diem, terus suka memukul. Banyak nggak pengertian. Karena kan kita bukan sekolah luar biasa. Jadinya lebih banyak omongan orangtua lain gitu,'' ujarnya.
Berinda kemudian menceritakan pengalaman menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka umumnya pintar, tetapi memang punya kekhususan. Menghadapi mereka, katanya, memerlukan kesabaran, apalagi dalam hal pelajaran.
''Hadapinnya harus dengan penuh kesabaran. Memberi pelajarannya juga yang monoton. Misalnya dalam satu minggu, kita hanya kasih dua pelajaran untuk mereka pelajari, dan diajari secara berulang-ulang,'' katanya.
Ketakutan tak hanya dirasakan orangtua, anak-anak berkebutuhan khusus juga terkadang mengalami ketakutan.
''Iya, kadang ada rasa takut. Itu pun takutnya karena situasi baru, belum terbiasa. Biasanya juga pas hari pertama sekolah,'' kata dia.
Membimbing anak-anak berkebutuhan khusus, kata Berinda, membutuhkan perjuangan ekstra.
''Iya kadang capek, apalagi kalau mereka sedang aktif-aktifnya. Terus kadang juga kan mereka mood-moodan belajarnya. Kalau moodnya lagi nggak bagus, susah,'' katanya.
Walau memiliki kebutuhan khusus, kata Berinda, anak-anak tersebut memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki anak lainnya.
''Kelebihan mereka ya, mereka tahu mana orang yang bener-bener mengasihi atau sayang sama mereka sih,'' ujar Berinda. [Sarah Andinie]
Komentar
Berita Terkait
-
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 137-138: Perundungan Quaden Bayles
-
Campaign Bullying Tidak Sama dengan Jokes: Bercanda Boleh, Menyakiti Jangan
-
Gaslighting dan Bullying: Kombinasi Mematikan dalam Hubungan Pertemanan
-
Saat Candaan Diam-diam Jadi Celah Bullying, Larangan Baper Jadi Tameng!
-
Lebih dari Sekadar Kenakalan Remaja: Membedah Akar Psikologis Kekerasan Anak
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
Pilihan
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
Terkini
-
Jangkauan Rudal Iran Kejutkan Dunia, Kota di Israel Luluh Lantak
-
Fasilitas Natanz Diserang Israel dan AS, Iran Waspada Bencana Nuklir
-
Tak Ada di Rutan KPK, Gus Yaqut Jadi Tahanan Rumah
-
Open House Anies Baswedan: Momen Sampaikan Aspirasi Hingga Karya Lukis
-
Prabowo Minta Kasus Andrie Yunus Diusut Tuntas, Anies Baswedan: Aparat Harus Wujudkan
-
4 Prajurit TNI Jadi Tersangka Kasus Andrie Yunus, Anies Baswedan: Selidiki Sampai Pemberi Perintah!
-
Tak Hadir Open House Anies Baswedan, Tom Lembong Sudah Kirim Pesan Ucapan Lebaran
-
Ngeri! Iran Tembakkan Rudal Balistik Sejauh 2500 Mil Serang Pangkalan AS-Inggris
-
Jangan Salah Paham! Begini Aturan Main Skema WFH 1 Hari Seminggu yang Sedang Digodok Pemerintah
-
Pemerintah Godok Skema WFH untuk ASN, Ini Alasannya