Suara.com - Upaya besar Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) untuk mengirim bantuan darurat buat pengungsi Muslim Rohingya di Baghladesh dilakukan pada Selasa (12/9/2017), dengan pesawat pertama mendarat di Ibu Kota Bangladesh, Dhaka.
Jumlah orang yang menyelamatkan diri dari Myanmar sejak 24 Agustus 2017 telah naik jadi 370.000.
Leonard Doyle, Juru Bicara Badan Migrasi PBB, IMO, mengumumkan arus jumlah pengungsi yang diperbarui selama penjelasan kepada media di Markas Besar PBB, New York. "Sistem menghadapi perentangan penuh," katanya.
Juru Bicara UNHCR Adrian Edwards, sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu (13/9/2017) pagi, mengatakan peningkatan jumlah orang yang menyelamatkan diri ke Bangladesh adalah hasil dari lebih banyak tim penilaian yang bisa menjangkau lebih banyak desa, kampung, dan daerah kantung tempat pengungsi telah berkumpul.
Ia mengatakan pesawat yang disewa oleh badang pengungsi itu terbang pada Selasa dengan membawa 91 ton metrik bantuan, termasuk bahan berteduh yang sangat diperlukan, jerigen, selimut, kantung tidur dan barang keperluan lain dari Dubai.
Pesawat bantuan kedua, yang disumbangkan untuk UNHCR oleh Uni Emirat Arab (UAE), dijadwalkan mendarat pada hari yang sama dengan membawa sebanyak 1.700 tenda keluarga.
"Kedua pesawat bantuan darurat itu dimaksudkan untuk memenuhi keperluan mendesak sebanyak 25.000 pengungsi. Pesawat lain sedang direncanakan, dan nantinya akan mengirim bantuan darurat buat sebanyak 120.000 pengungsi secara keseluruhan," kata Edwards.
Pengungsi Muslim Rohingya terus berdatangan di Kamp Kutupalong dan Nayapara, tempat UNHCR beroperasi.
Dengan lebih dari 70.000 pengungsi sekarang di kedua kamp tersebut, penghuninya jadi lebih dari dua kali lipat sejak 25 Agustus.
"Kedua tempat sudah melampaui titik jenuh. Sebagian pengungsi yang telah tinggal di kamp ini sekarang menampung sampai 15 keluarga yang baru tiba di gubuk kecil mereka, tapi orang yang baru datang masih memenuhi jalan di bawah naungan lembaran plastik," kata Edwards.
Banyak pengungsi yang baru datang menetap di permukiman sementara atau bersama masyarakat lokal Bangladesh.
Namun, badan pengungsi PBB tersebut menyatakan lokasi spontan semacam itu memerlukan perencanaan yang layak guna menjamin terpenuhinya standard dasar kesehatan, keamanan dan tempat berteduh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Luluh Lantakkan Kota Caracas, Ini Besaran Dua Gempa yang Guncang Venezuela
-
Gempa Bumi Venezuela, Banyak Gedung Runtuh di Caracas dan La Guaira
-
Diduga Terima Suap Ruko dan Miliaran Rupiah, Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Jalani Sidang Perdana
-
Venezuela Diguncang Gempa Bumi 'Raksasa' 7,2 SR, Korban Berjatuhan
-
Mendagri Hadiri Puncak PENAS XVII 2026, Dukung Penguatan Petani dan Nelayan di Gorontalo
-
Mendagri Tegaskan Penguatan Program Bedah Rumah sebagai Bentuk Keberpihakan kepada Rakyat
-
6 Fakta Skandal BEM FH UBK Mengaku Dapat Uang 'Pelicin' dalam Demo Mahasiswa
-
Gerindra Tepis Isu 'Mata-matai' Wapres Gibran: Yang Ada Adalah Perintah untuk...
-
Mencekam! Gempa Dahsyat M 7,1 Guncang Venezuela, Peringatan Berpotensi Tsunami Dikeluarkan
-
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Siap-siap Hujan di Wilayah Selatan dan Timur