Suasana di Bukit Duri [suara.com/Dian Rosmala]
Ditemani segelas kopi hitam, Mulyono tampak santai di kios kecil tepi jalan, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (3/11/2017).
Kios kecil itu milik Yati, bekas warga Kampung Duri yang kini tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa di kawasan Rawabebek, Jakarta Timur.
Sementara teman Mul, Rohiman dan Rusdi, terlihat serius beradu otak lewat permainan catur. Sesekali mereka ngobrol satu sama lain sambil menyeruput kopi hitam yang tersaji dalam sebuah gelas dari plastik.
"Lama juga busnya ya. Gue padahal ada perlu lagi ni sore ini," kata Mul menggerutu.
Kios kecil itu milik Yati, bekas warga Kampung Duri yang kini tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa di kawasan Rawabebek, Jakarta Timur.
Sementara teman Mul, Rohiman dan Rusdi, terlihat serius beradu otak lewat permainan catur. Sesekali mereka ngobrol satu sama lain sambil menyeruput kopi hitam yang tersaji dalam sebuah gelas dari plastik.
"Lama juga busnya ya. Gue padahal ada perlu lagi ni sore ini," kata Mul menggerutu.
Mul ternyata sedang menunggu bus penjemput. Ia mau pulang ke rumah susun Rawabebek, setelah seharian menjajakan lemari kayu di Bukit Duri.
"Udah sih tunggu aja. Paling juga itu bentar lagi datang," saut Yati ketika mendengar Mul yang tidak sabaran lagi.
Mul, Rohiman, dan Yati adalah warga asli Bukit Duri. Rumah mereka telah hilang. Rata dengan tanah, setelah terjadi penggusuran pada September 2016. Kini, mereka tinggal di rusunawa.
Tak Kuat Bayar Sewa Rusunawa
Sebelum digusur, Mul memiliki dua rumah di Bukit Duri. Tapi, kedua rumah sudah tak ada lagi. Kini, ia bersama istri dan anak tinggal di rumah susun dengan biaya sewa Rp300 ribu per bulan.
Mul mengaku tidak kuat lagi membayar beban sewa. Ia nunggak sekitar enam bulan.
"Masalahnya kami tinggal di Rawa Bebek pun setiap hari harus membayar sewa. Pencaharian kami pun sudah tidak jelas. Rp300 ribu itu cuma biaya sewa lho, belum listrik, air, kalau ditotal sekitar Rp800 ribu harus kami bayar," kata Mul kepada Suara.com.
"Saya ungkapkan di sini, khususnya pak Gubernur Anies, bahwa di Rawa Bebek itu yang bayar sewa, semua pada nggak kuat bayar. Mulai dari lantai 1 sampai lantai 5, itu sudah banyak yang nunggak," imbuh Mul.
Penghuni rusunawa Rawabebek, kata dia, rata-rata sudah pada nunggak enam bulan lebih. Bahkan, ada yang sampai setahun belum bayar-bayar uang sewa.
Mul sebenarnya sudah tak nyaman tinggal di rusunawa, terutama karena suasananya. Suasana hidup di sana individualistik. Beda jauh dengan kehidupan di Bukit Duri yang dulu. Dia kangen suasana kekeluargaan di Bukit Duri.
Mul setiap hari harus bolak-balik dari rusunawa Rawabebek ke Kampung Bukit Duri untuk menjual lemari-lemari kayu.
Mul mengaku sudah benar-benar capek dengan aktivitasnya sekarang. Tapi apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain. Dia harus tetap menafkahi keluarga.
Dia ingat zaman dulu, sebelum direlokasi ke rusunawa oleh pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama, dia tak perlu jalan jauh-jauh untuk jualan lemari. Walau hidup sederhana, semua dapat dilalui dengan tenang.
"Kalau kami kan lahir di sini, kami pribumi, kami asli di sini. Kami tetap enak di sini," ujar Mul.
"Kami tetap nyaman di Bukit Duri, walaupun kami seringkali kebanjiran. Tapi kalau di sana, tetap kami harus memikirkan sewa rumah, air tadinya kami disini nggak pernah sewa, air juga kami pasang dari PAM sendiri, sekarang kami harus berurusan dengan PAM di sana. Berurusan dengan pengelola rumah," Mul menambahkan.
Mul mengharapkan pemerintahan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berpihak pada nasib orang kecil sepertinya. Mul setuju dengan penataan kota. Itu dibuktikan ketika dia dan tetangga-tetangganya rela direlokasi ke rusunawa Rawabebek demi mendukung program pemerintah.
"Memang DKI ini harus bagus, DKI harus bersih, DKI harus rapi. Tapi jangan mengenyampingkan kami. Kami terima dengan ikhlas untuk DKI, tapi tolong perhatikan kami
khususnya untuk warga kami ini yang menunggak tentang pembayaran," kata Mul.
"Saya ungkapkan di sini, khususnya pak Gubernur Anies, bahwa di Rawa Bebek itu yang bayar sewa, semua pada nggak kuat bayar. Mulai dari lantai 1 sampai lantai 5, itu sudah banyak yang nunggak," imbuh Mul.
Penghuni rusunawa Rawabebek, kata dia, rata-rata sudah pada nunggak enam bulan lebih. Bahkan, ada yang sampai setahun belum bayar-bayar uang sewa.
Mul sebenarnya sudah tak nyaman tinggal di rusunawa, terutama karena suasananya. Suasana hidup di sana individualistik. Beda jauh dengan kehidupan di Bukit Duri yang dulu. Dia kangen suasana kekeluargaan di Bukit Duri.
Mul setiap hari harus bolak-balik dari rusunawa Rawabebek ke Kampung Bukit Duri untuk menjual lemari-lemari kayu.
Mul mengaku sudah benar-benar capek dengan aktivitasnya sekarang. Tapi apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain. Dia harus tetap menafkahi keluarga.
Dia ingat zaman dulu, sebelum direlokasi ke rusunawa oleh pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama, dia tak perlu jalan jauh-jauh untuk jualan lemari. Walau hidup sederhana, semua dapat dilalui dengan tenang.
"Kalau kami kan lahir di sini, kami pribumi, kami asli di sini. Kami tetap enak di sini," ujar Mul.
"Kami tetap nyaman di Bukit Duri, walaupun kami seringkali kebanjiran. Tapi kalau di sana, tetap kami harus memikirkan sewa rumah, air tadinya kami disini nggak pernah sewa, air juga kami pasang dari PAM sendiri, sekarang kami harus berurusan dengan PAM di sana. Berurusan dengan pengelola rumah," Mul menambahkan.
Mul mengharapkan pemerintahan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berpihak pada nasib orang kecil sepertinya. Mul setuju dengan penataan kota. Itu dibuktikan ketika dia dan tetangga-tetangganya rela direlokasi ke rusunawa Rawabebek demi mendukung program pemerintah.
"Memang DKI ini harus bagus, DKI harus bersih, DKI harus rapi. Tapi jangan mengenyampingkan kami. Kami terima dengan ikhlas untuk DKI, tapi tolong perhatikan kami
khususnya untuk warga kami ini yang menunggak tentang pembayaran," kata Mul.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
Omara Esteghlal Raih Piala Citra Pertama, Ucapan Manis buat Prilly Bikin Baper
-
Cara Nonton Pengepungan di Bukit Duri, Film Thriller Joko Anwar Penuh Aksi!
-
Catat Tanggalnya, Pengepungan di Bukit Duri Siap Tayang di Prime Video
-
Deretan Film dan Serial Tayang Agustus di Prime Video, Ada Thriller hingga Komedi
-
Kebakaran di Jakarta Telan Korban Jiwa, DPRD DKI: Bukan Sekadar Musibah, Ini Alarm Masalah Urban
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Dugaan Skandal PT Minna Padi Asset Manajemen dan Saham PADI, Kini Diperiksa Polisi
-
Epstein Gigih Dekati Vladimir Putin Selama Satu Dekade, Tawarkan Informasi 'Rahasia AS'
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
Terkini
-
Dibatasi 35 Orang, Ada Apa Jajaran PKB Temui Presiden Prabowo di Istana Siang Ini?
-
Golkar Lakukan Profiling Calon Wakil Ketua Komisi III DPR, Sarmuji: Ada Dua atau Tiga Kandidat
-
Jual Beli Jabatan Jerat Bupati Sadewo, KPK Sorot 600 Posisi Perangkat Desa Kosong di Pati
-
Pramono Anung Bakal Babat Habis Bendera Parpol di Flyover: Berlaku Bagi Semua!
-
Tak Sekadar Kemiskinan, KPAI Ungkap Dugaan Bullying di Balik Kematian Bocah Ngada
-
Viral! Aksi Pria Bawa Anak-Istri Curi Paket Kurir di Kalibata, Kini Diburu Polisi
-
Kasus Bunuh Diri Anak Muncul Hampir Tiap Tahun, KPAI: Bukan Sekadar Kemiskinan!
-
Masalah Kotoran Kucing di Skywalk Kebayoran Lama Mencuat, Gubernur DKI Instruksikan Penertiban
-
Nyawa Melayang karena Rp10 Ribu, Cak Imin Sebut Tragedi Siswa SD di NTT Jadi 'Cambuk'
-
Nama Gubernur Khofifah Muncul di Sidang Korupsi Dana Hibah, Akan Jadi Saksi Besok