Suara.com - Amnesty Internasional Indonesia melalukan gerakan #JoinForces. Gerakan ini untuk mengajak masyarakat bersatu dalam gerakan HAM lokal dan nasional di Indonesia yang sekarang melemah.
"Acara kamisan (7/12/2017) menjadi satu langkah solidaritas terhadap tragedi-tragedi kemanusiaan yang tanpa lelah dan peluncuran Amnesty Internasional Indonesia," Ujar Usman Hamid, direktur eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, didaerah Menteng, Jakarta, Senin (4/1/2017).
Usman juga menjelaskan tantangan dari HAM di Indonesia saat sekarang, terlebih lagi menjelang pilkada serentak.
"Pertama pemerintah tersedot kedalam energi untuk mengatasi melambatnya ekonomi, yang kedua menguatnya politik identitas penggunaan agama untuk tujuan politik, dan yang ketiga tantangan negara betul-betul hati-hati didalam merespon kelompok politik identitas tanpa melebih-lebihkan," Ujar Usman.
Usman mengatakan terdapat dua hipotesa, yang pertama adalah agenda pelanggaran HAM masa lalu telah menjadi janji presiden, agenda Ham untuk pelanggaran berat selalu dikesampingkan karena prioritas politik yang lainnya. Sedangkan yang kedua dimana prioritas politik merupakan potensi mendatangkan permasalahan hak asasi manusia.
"Prioritas politik diantara lain, mengatasi melambatnya ekonomi, penguatan politik identitas dan yang ketiga adalah respon negara yang berlebihan sehingga malah memperkuat satu nasionalisme yang sempit," Jelas Usman.
Usman juga menyerukan "Rapatkan barisan, satuan kekuatan, join forces", dimana bukan hanya masyarakat yang ikut tetapi juga para pemegang keputusan.
---
Pada acara kamisan, 7 Desember 2017, Amnesty hanya sebagai medium, yang menjadi tempat agar para pejuang tragedi-tragedi HAM dapat menyuarakan suara mereka.
Baca Juga: Komnas HAM: Kelompok Bersenjata Jadikan 1300 Warga Sebagai Tameng
Pihak Amnesty dalam konferensi pers mengundang Paian Siahaan dan istrinya sebagai orangtua dari Ucok Siahaan yang hilang di tragedi 98.
"Dia (Ucok) dibawa dari kostnya, kami juga tidak mengerti kenapa dia diambil, padahal dia tidak terlalu aktif didalam politik tetapi dia orangnya keras dan peduli dengan sesama," Ujar Paian.
Paian merasa pemerintah tidak memberikan perhatian kepada para pejuang dan orang tua yang mencari anaknya dalam kasus tragedi 98
"Tidak mendapat perhatian dari pemerintah, permasalahanya karena ketidakjelasan keberadaannya"ujar Paian.
Paian sebagai orang tua dari anak yang diculik pada tragedi 98 hanya meminta kejelasan, apakah anaknya sudah meninggal atau masih hidup di suatu tempat.
"Terpenting saat ini perlu kepastian apakah sudah meninggal, maka kita akan memperjuangkan akta kematian dan urusan kartu keluarga, karena sampai sekarang namanya masih ada," Kata Paian.
Berita Terkait
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
33 Tahun Kasus Marsinah Stagnan, Aktivis: Keadilan Tidak Bisa Digantikan Seremoni Gelar Pahlawan!
-
50 Santriwati Dicabuli, Komnas HAM Desak Polisi Jerat Kiai di Pati Pakai UU TPKS
-
Hapus Jejak Masa Lalu! Ketua Komisi XIII DPR Setuju Hak untuk Dilupakan Masuk RUU HAM
-
33 Tahun Tanpa Keadilan, Kasus Marsinah Disebut Jadi Alarm Bahaya Kebangkitan Militerisme
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara