Suara.com - Kementerian Kesehatan memastikan seluruh warga negara Indonesia yang baru tiba dari Wuhan, China dan tim yang menangani mereka di lokasi observasi di Natuna, dalam kondisi sehat. Suhu badan mereka kurang dari 38 derajat.
Tidak ada satu pun di antara mereka yang suhu badannya di atas 38 derajat Celcius, sebagai salah satu tanda terinfeksi virus corona. Tim kesehatan di tempat itu juga tidak menemukan keluhan lain dari masyarakat yang dievakuasi dari Wuhan dan tim pendukung.
"Sampai pagi ini, laporan teman-teman yang melakukan pelayanan di dalam, semuanya dalam keadaan sehat," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono di Natuna, Kepulauan Riau, Selasa (4/2/2020).
Tim observasi terus memberikan layanan kesehatan, observasi kesehatan sesuai dengan protokol Badan PBB untuk Kesehatan Dunia (WHO).
Tim melakukan pengecekan suhu tubuh terhadap seluruh saudara sebangsa yang berada di ring 1, yaitu mereka yang dievakuasi dari China sebanyak 238 orang, ditambah tim dari Kementerian Luar Negeri lima orang, dan tim penjemput, termasuk kru pesawat yang menjemput. Totalnya terdapat 285 orang di tempat itu.
Pengecekan suhu tubuh dilakukan sekurangnya dua kali sehari. Petugas juga melakukan analisa terhadap keluhan warga di tempat itu, yang berkaitan dengan gejala dan tanda infeksi virus corona.
"Pada dasarnya semua orang yang berada dalam lingkup Natuna, khususnya yang dievakuasi dalam keadaan sehat. Karena sudah melalui proses 'screening' di China, begitu datang juga dilakukan berbagai upaya dengan aspek pencegahan," kata dia.
Tim di Natuna terus memastikan seluruh warga di tempat itu dalam keadaan sehat, dengan memberikan makanan cukup bergizi. Warga di lokasi observasi juga melakukan olahraga dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya di dalam hanggar. (Antara)
Baca Juga: Virus Corona Bisa Menular Lewat Tatapan Mata, Benarkah?
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Jakarta Luncurkan Website HUT ke-500, Warga Bisa Daftar Jadi Mitra Perayaan
-
Dugaan Aliran Uang ke BEM UBK Bentuk Represi Halus terhadap Mahasiswa
-
Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak
-
Kantor BGN dan DPR RI Dijaga Ketat, 1.287 Personel Amankan Aksi Unjuk Rasa di Jakpus
-
Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan
-
Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar