Di sela-sela konferensi Davos di Swiss, Trump melontarkan komentar pertamanya tentang virus corona.
"Kami mengendalikan situasi," ujar Trump kepada CNBC.
"Satu orang pulang dari China, dan situasi terkendali. Semua akan baik-baik saja."
27 Januari
Ketua Dewan Kebijakan Domestik Gedung Putih Joe Grogan meminta Kepala Staf Mick Mulvaney dan beberapa orang lainnya untuk segera mengambil tindakan serius karena virus corona akan memengaruhi kehidupan publik selama berbulan-bulan.
Dilaporkan Washington Post, pemerintah diminta untuk segera bertindak serius melawan virus corona atau akan memengaruhi rencana Trump untuk memenangi kembali pemilu.
29 Januari
Penasihat bidang ekonomi Peter Navarro memperingati Dewan Keamanan Nasional . Lewat sebuah memo, Navarro menyebut virus corona akan membunuh lebih dari setengah juta penduduk AS dan akan mengguncang ekonomi negeri itu.
30 Januari
Baca Juga: Teror Corona Mereda, Trump Berencana Buka Kembali Kegiatan Ekonomi AS
Azar kembali memperingati Trump di saat WHO mengumumkan ancaman global karena corona. Trump, yang saat itu berada di Air Force One ketika menerima telepon Azar, tak peduli.
31 Januari
Di hari berikutnya Azar mengumumkan AS berstatus darurat kesehatan. Disusul keputusan Trump yang melarang mereka yang baru mengunjungi China memasuki wilayah AS.
Washington Post melaporkan CIA memberikan laporan rahasia kepada pemerintah tentang pandemi virus corona global.
5 Februari
Para senator merasa pemerintah tidak serius dalam menanggapi pandemi tersebut karena belum adanya rencana penyaluran dana untuk memerangi COVID-19.
19 Februari
Kepada sekelompok gubernur, Trump dengan penuh percaya diri mengatakan virus akan segera menghilang.
"Saya pikir semuanya akan baik-baik saja. Memasuki bulan April, ketika cuaca menghangat, virus tersebut akan terdampak negatif oleh cuaca," kata Trump.
21 Februari
Satuan Tugas (Satgas) yang dibentuk Gedung Putih meminta warga untuk isolasi diri dan menerapkan social distancing.
23 Februari
Navarro kembali melayangkan memo: "COVID-19 akan menghantam AS dan mengancam jutaan warga Amerika. Jumlah kematian bisa mencapai 1 hingga 2 juta."
24 Februari
Trump lagi-lagi membohongi publik. "Semuanya terkendali," kicaunya lewat akun Twitter.
25 Februari
Dalam jumpa pers di New Delhi, India, Trump mengatakan virus corona terkendali di AS. Sementara kenyataannya, penyebaran corona di AS semakin beringas dan mengganggu kehidupan publik.
26 Februari
Dalam jumpa pers di Gedung Putih, Trump kembali melontarkan berita bohong.
"Dalam waktu dekat hanya lima orang yang terinfeksi. Bahkan sebentar lagi hanya satu atau dua orang."
27 Februari
Trump: "Wabah akan hilang. Suatu hari, seperti keajaiban, wabah akan menghilang."
29 Februari
Kasus kematian pertama akibat virus corona diumumkan. Seorang pria berusia 50 tahun meninggal di Seattle akibat COVID-19.
Setelah enam pekan virus corona menyebar di AS, Badan Pegawas Obat dan Makanan AS akhirnya mengizinkan laboraturium dan rumah sakit melakukan tes COVID-19 secara mandiri.
6 Maret
Trump mendatangi laboraturium CDC dan menyebut datangnya pandemi COVID-19 tidak terdeteksi.
"Masalah ini datang secara tiba-tiba," kata Trump.
Pasar modal pun mulai goyah.
9 Maret
Pemerintah AS menyatakan akan melakukan tes terhadap satu juta warga. Per pekan, empat juta warga dites.
"Kami mencoba bergerak secepat mungkin untuk membawa (alat) tes ini lebih dekat kepada pasien," kata Azar.
Namun kenyataannya, hingga 12 Maret, CDC menyatakan baru melakukan tes terhadap 4000 warga. Bukan empat juta warga.
12 Maret
Dr Anthony Fauci mengatakan kepada kongres jika Amerika tidak memiliki alat tes yang mumpuni.
Akan tetapi Trump tetap berkicau jika jutaan kali tes telah dilakukan.
13 Maret
Trump akhirnya mengumumkan darurat nasional.
"Kami telah berdiskusi dengan perusahaan-perusahaan farmasi dan retail untuk mewujudkan tes di lokasi-lokasi kritis," kata Trump.
"Saya tidak bertanggung jawab atas semua ini," tegas orang nomor satu di Amerika itu.
Tag
Berita Terkait
-
Operasi Nasr 2 ke-24 Iran, IRGC Berhasil Bom Tentara AS di Yordania
-
Iran Terancam Balasan Fatal karena Bunuh Tentara Donald Trump
-
Rudal Iran Terbukti Lebih Canggih dari Pertahanan Militer Amerika, Ini Buktinya
-
Selat Hormuz Lumpuh, Kapal Tanker Bisa Melintas Kalau Punya Ordal di Iran
-
Titik Serangan AS ke Selat Hormuz, Hancurkan Fasilitas Sipil Iran Hingga Krisis Air
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim