News / Internasional
Selasa, 14 April 2020 | 15:41 WIB
Presiden AS, Donald Trump (kanan) duduk semeja bersama Presiden Brasil, Jair Bolsonaro dalam sebuah jamuan makan malan di Florida, 7 Maret kemarin. Pada 12 Maret, salah satu pembantu Bolsonaro dipastikan terjangkit virus corona. [AFP/Jim Watson]

Di sela-sela konferensi Davos di Swiss, Trump melontarkan komentar pertamanya tentang virus corona.

"Kami mengendalikan situasi," ujar Trump kepada CNBC.

"Satu orang pulang dari China, dan situasi terkendali. Semua akan baik-baik saja."

27 Januari

Ketua Dewan Kebijakan Domestik Gedung Putih Joe Grogan meminta Kepala Staf Mick Mulvaney dan beberapa orang lainnya untuk segera mengambil tindakan serius karena virus corona akan memengaruhi kehidupan publik selama berbulan-bulan.

Dilaporkan Washington Post, pemerintah diminta untuk segera bertindak serius melawan virus corona atau akan memengaruhi rencana Trump untuk memenangi kembali pemilu.

29 Januari

Penasihat bidang ekonomi Peter Navarro memperingati Dewan Keamanan Nasional . Lewat sebuah memo, Navarro menyebut virus corona akan membunuh lebih dari setengah juta penduduk AS dan akan mengguncang ekonomi negeri itu.

30 Januari

Baca Juga: Teror Corona Mereda, Trump Berencana Buka Kembali Kegiatan Ekonomi AS

Azar kembali memperingati Trump di saat WHO mengumumkan ancaman global karena corona. Trump, yang saat itu berada di Air Force One ketika menerima telepon Azar, tak peduli.

31 Januari

Di hari berikutnya Azar mengumumkan AS berstatus darurat kesehatan. Disusul keputusan Trump yang melarang mereka yang baru mengunjungi China memasuki wilayah AS.

Washington Post melaporkan CIA memberikan laporan rahasia kepada pemerintah tentang pandemi virus corona global.

5 Februari

Para senator merasa pemerintah tidak serius dalam menanggapi pandemi tersebut karena belum adanya rencana penyaluran dana untuk memerangi COVID-19.

19 Februari

Kepada sekelompok gubernur, Trump dengan penuh percaya diri mengatakan virus akan segera menghilang.

"Saya pikir semuanya akan baik-baik saja. Memasuki bulan April, ketika cuaca menghangat, virus tersebut akan terdampak negatif oleh cuaca," kata Trump.

21 Februari

Satuan Tugas (Satgas) yang dibentuk Gedung Putih meminta warga untuk isolasi diri dan menerapkan social distancing.

23 Februari

Navarro kembali melayangkan memo: "COVID-19 akan menghantam AS dan mengancam jutaan warga Amerika. Jumlah kematian bisa mencapai 1 hingga 2 juta."

24 Februari

Trump lagi-lagi membohongi publik. "Semuanya terkendali," kicaunya lewat akun Twitter.

25 Februari

Dalam jumpa pers di New Delhi, India, Trump mengatakan virus corona terkendali di AS. Sementara kenyataannya, penyebaran corona di AS semakin beringas dan mengganggu kehidupan publik.

26 Februari

Dalam jumpa pers di Gedung Putih, Trump kembali melontarkan berita bohong.

"Dalam waktu dekat hanya lima orang yang terinfeksi. Bahkan sebentar lagi hanya satu atau dua orang."

27 Februari

Trump: "Wabah akan hilang. Suatu hari, seperti keajaiban, wabah akan menghilang."

29 Februari

Kasus kematian pertama akibat virus corona diumumkan. Seorang pria berusia 50 tahun meninggal di Seattle akibat COVID-19.

Setelah enam pekan virus corona menyebar di AS, Badan Pegawas Obat dan Makanan AS akhirnya mengizinkan laboraturium dan rumah sakit melakukan tes COVID-19 secara mandiri.

6 Maret

Trump mendatangi laboraturium CDC dan menyebut datangnya pandemi COVID-19 tidak terdeteksi.

"Masalah ini datang secara tiba-tiba," kata Trump.

Pasar modal pun mulai goyah.

9 Maret

Pemerintah AS menyatakan akan melakukan tes terhadap satu juta warga. Per pekan, empat juta warga dites.

"Kami mencoba bergerak secepat mungkin untuk membawa (alat) tes ini lebih dekat kepada pasien," kata Azar.

Namun kenyataannya, hingga 12 Maret, CDC menyatakan baru melakukan tes terhadap 4000 warga. Bukan empat juta warga.

12 Maret

Dr Anthony Fauci mengatakan kepada kongres jika Amerika tidak memiliki alat tes yang mumpuni.

Akan tetapi Trump tetap berkicau jika jutaan kali tes telah dilakukan.

13 Maret

Trump akhirnya mengumumkan darurat nasional.

"Kami telah berdiskusi dengan perusahaan-perusahaan farmasi dan retail untuk mewujudkan tes di lokasi-lokasi kritis," kata Trump.

"Saya tidak bertanggung jawab atas semua ini," tegas orang nomor satu di Amerika itu.

Load More