Suara.com - Pemerintah China akan memberikan kompensasi kepada para peternak jika mereka bersedia menghentikan penjualan satwa liat seperti ular, tikus, hingga musang.
Menyadur South China Morning Post, langkah ini diambil guna mengakhiri industri yang belakangan disorot sebagai penyebab munculnya wabah virus corona. Sekaligus membantu para pedagang satwa liar untuk menemukan bisnis baru.
Otoritas berwenang di Provinsi Hunan pada Jumat (15/5), mengumumkan akan membayar siapapun yang secara sukarela menutup peternakan hewan liar, dan akan didukung untuk memelihara hewan lain yang lebih 'ramah'.
Hunan akan membayar 120 yuan (Rp248.327) untuk setiap satu kilogram ular, 75 yuan (Rp 155.242) untuk satu tikus bambu, dan 600 yuan (Rp 1.241.853) untuk landak atau musang.
Selain kompensasi, Hunan juga kab menyediakan subsidi tambahan dan pengadaan program pelatihan kerja bagi peternak satwa liar untuk dapat melanjutkan bisnis.
Pengembangbiakan satwa liar hanya diperbolehkan bagi penelitian atau pengobatan, itu pun harus memiliki lisensi dari pemerintah.
Senada dengan Hunan, sejumlah kota seperti Ganzhou dan Dongyuan juga menyediakan beragam insentif bagi mereka yang bersedia berhenti dari bisnis satwa liar.
Pemerintah Kota Dongyuan berjanji akan mengucurkan dana 2 juta yuan atau setara dengan Rp 4,1 miliar untuk membeli tikus bambu dan ular dari para peternak.
Sedangkan Ganzhou akan menyediakan pinjaman dan harga sewa lahan yang terjangkau bagi peternak satwa liar yang bersedia beralih profesi.
Baca Juga: Satu Pemain dan Dua Staf Watford Positif Terjangkit Virus Corona
Bisnis satwa liar merupakan salah satu bisnis yang cukup besar di China. Berdasarkan laporan Akademi Teknik China tahun 2017, menyebutkan bisnis ini bernilai 520 miliar yuan dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 14 juta orang.
Semenjak wabah virus corona, pemerintah pusat China telah memberlakukan larangan perdagangan dan konsumsi satwa liar yang berlaku mulai Februari lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
Terkini
-
Ribuan Pelayat Ayatollah Khamenei Kibarkan Bendera Merah, Serukan Balas Dendam
-
Bukan Kurang Bagus, Cak Imin: Brand Lokal Sulit Mendunia karena Pintu Tertutup
-
Gagal Kabur! Polisi Sikat 4 Remaja Pembawa Celurit Saat Bubarkan Tawuran di Cengkareng
-
Spesifikasi Pesawat Sukhoi Su-35 Milik Iran yang Disiapkan Oleh Rusia
-
Gunung Anak Krakatau Siaga, Badan Geologi: Isu Tsunami Hoaks, Warga Banten-Lampung Harap Tenang
-
LPDP Tambah 14 Kampus Top Dunia Khusus STEM, Ada NUS Hingga UCLA!
-
Jangan Tertipu! Video Erupsi Anak Krakatau Itu Hoaks, Ini Radius Bahaya yang Sebenarnya
-
Teror Drone Granat Sasar Pengacara di Tangsel, Pelaku Beri Pesan: Ini Baru Permulaan!
-
'Emang Kenapa Kalo Gue Tampol?' Identitas Pria Arogan di Jagakarsa Terkuak, Polisi Buru Pelaku
-
Sengketa Lahan Berujung Teror! Rumah Advokat Sulardi Dilempar Molotov, Pelaku Terekam CCTV