Mereka terlibat dalam kegiatan di Sawah Art Space dan mengajar generasi muda seni tradisi.
“Lambat laun pada 2018 saya mendirikan Sawah Art Space dan akhirnya bermanfaat lewat dukungan dari teman-teman,” ucapnya.
Mila Rosinta Totoatmojo adalah penari profesional pemilik Mila Art Dance di Yogyakarta sejak 2012. Pada 2015 ia membuka Mila Art Dance School yang kini sudah mengajar lebih 3 ribu siswa untuk beragam genre tari.
Yang menarik, Mila membuka workshop khusus tari inklusi untuk kaum difabel. Itu pekerjaan tidak mudah yang membutuhkan persiapan yang matang.
“Saya meyakini siapa pun berhak untuk menari, siapa pun bisa menari, dan siapa pun bisa mengejar mimpinya,” kata lulusan pascasarjana penciptaan seni tari ISI Yogyakarta tersebut.
Mila mendirikan sekolah tari juga karena melihat fenomena anak-anak milenial saat ini sedikit jauh dari tradisinya, khususnya tari-tari tradisi di Yogyakarta.
“Saya melihat fenomenanya di daerah perkotaan sedikit sekali para generasi penerus kita yang tidak mempelajari tari-tari tradisi, saya harus membuat sebuah formula, gimana sih agar anak muda bisa dekat dengan tradisinya lagi,” ujarnya.
Ia menyadari anak muda yang sekarang lebih gandrung budaya K-Pop, balet, atau Yoga dan itu tidak bisa dipaksa. Karena itu ia membuka kelas berbagai genre dan membiarkan anak-anak muda masuk ke kelas-kelas yang ia sukai dulu, sebelum diajak mengenal tari tradisi.
“Mereka anggap tari tradisi itu membosankan, tidak gaul, jadi saya punya cara tersendiri dengan masuk ke kelas satu per satu, ini loh ada tari kreasi dan ada tari tradisi yang harus kita lestarikan,” katanya.
Baca Juga: Seniman Wayang Uwuh: Berkarya dan Peduli Lingkungan di Tengah Pandemi
Mila mendorong anak muda mempelajari tari tradisi karena pada dasarnya tari tradisi di Indonesia adalah spiritual dan proses pencarian identitas diri bisa dari tari.
“Saya katakan pada anak didik saya, tradisi kita keren, apa yang kita punya itu malah dipelajari di luar negeri, di Amerika banyak sekali komunitas tari bali, tari tradisi lain, apa mau nanti kita belajar dari mereka, dari situ saya bangun kesadarannya,” ujarnya.
Iqbal H. Saputra adalah seniman muda yang memilih pulang kampung ke Belitung pada 2018 setelah merantau di Yogyakarta selama 14 tahun. Lulusan pascasarjana di salah satu universitas di Yogya tersebut mendirikan Yayasan Pusat Studi Kebudayaan Belitung.
Iqbal menyatukan seniman lokal dan mengajar anak muda belajar sejarah, sosial, politik, ekonomi dan budaya melalui kegiatan seni-budaya.
“Yang kami perjuangkan adalah kesadaran berpikir,” kata Iqbal.
Ia mengatakan, nama Belitung menjadi buah bibir nasional dan internasional berkat novel Andrea Hirata, “Laskar Pelangi” pada 2005 yang kemudian difilmkan sutradara Riri Riza pada 2008. Ini berlanjut setelah Jokowi menjadikan Belitung sebagai salah satu dari 10 destinasi Bali baru Indonesia.
Di Belitung ia melihat kemeriahan dan kemegahan atau dampak dari partiwisata itu tidak benar-benar menyentuh manusia sebagai subjek.
“Saya melihat, terutama di daerah saya di Kolong Sampan, teman-teman sejawat saya tidak berani menjadi subjek, mereka menjadi objek dari kepariwisataan, bahkan mereka tidak ada dalam konstelansi kepariwisataan, mereka ada di luar itu,” ujar ketua Dewan Kesenian Belitung tersebut.
Bersama kawan-kawannya, Iqbal membuat Ekowisata Kolong Sampan di sebuah lahan hutan yang terlantar. Tempat itu dijadikan semacam laboratorium belajar seni-budaya, politik, dan lainnya. Namun kemudian akibat dampak pariwisata, lahan tersebut menjadi perebutan banyak pihak.
Ia bersama kawan-kawannya memperjuangkan mempertahankan agar lahan tersebut bisa menjadi hak milik masyarakat. Kini lokasi Ekowisata Kolong Sampan menjadi tempat anak-anak-anak muda belajar tari, dan aktivitas seni budaya lainnya.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan kesenian dan kebudayaan secara umum mempunyai peran yang sangat strategis. Pendekatan budaya dan kesenian bukan saja suatu alternatif, tetapi harusnya menjadi ‘mainstream’ atau tenaga utama untuk mengatasi krisis ekologi.
“Saya membayangkan kontribusi dari praktik-praktik yang baik di bidang kesenian dan kebudayaan secara umum, juga punya nilai yang pada masa sekarang justru menjadi andalan kita,” ujarnya.
Pandemi, kata Hilmar, mengubah wajah sosial ekonomi secara amat drastis. Kondisi tersebut mengingatkan bahwa ada yang keliru dengan cara berinteraksi dengan alam. Kekeliruan tersebut sudah terlembaga dan menjadi begitu solid, baik dalam kebijakan ekonomi maupun institusi ekonomi dan korporasi besar.
“Sekarang orang mulai berpikir apa jalan keluarnya, sementara yang stabil ini, yang sudah mapan ini, ternyata tidak bisa memberi jawaban krisis sosial ekologi yang ada dan perhatian mulai terarah pada banyak sekali praktik-praktik baik di tengah masyarakat dan akar rumput,” katanya.
Menurut Hilmar, Indonesia memiliki potensi sangat besar dan luar biasa, karena memiliki keragaman hayati yang tinggi, sekaligus keanekaragaman budaya yang besar.
Seniman yang aktif sekarang mengembangkan kebudayaan intelektual di tingkat akar rumput, kata Hilmar, kini waktu yang sangat tepat.
Berita Terkait
-
Tak Hanya Angkat Isu Lingkungan, Teater Jaran Abang Terapkan Prinsip Berkelanjutan di Balik Panggung
-
Menolak Romantisasi Seni Gratisan yang Mematikan Seniman: Jeritan Jaran Abang dari Kota Budaya
-
Anggaran Dipangkas, Dapur Tak Ngebul: Jeritan Seniman Jogja hingga Sarjana Menganggur
-
Unik! Maskapai Singapura Gandeng Seniman RI, Bikin Aksesori Travel Terinspirasi Sambal
-
Saat AI Merasuki Dunia Seni: Sineas dan Seniman di Ambang Kehilangan Diri
Terpopuler
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Klaim Investasi Seskab Teddy Dipreteli Guntur Romli: Menyesatkan Publik
-
Ironi Korupsi Haji: Bos Maktour Absen Diperiksa KPK Karena Sedang Ibadah di Arab Saudi
-
Tak Sesuai Fakta, Seskab Teddy Dinilai Overclaim Soal Nilai Investasi Buah Diplomasi Prabowo
-
Revisi UU Polri Disebut Tak Banyak Berubah, DPR Fokus pada 8-9 Pasal
-
Kompolnas Nilai Sanksi Saat Ini Belum Bikin Jera Polisi Terlibat Narkoba
-
Berkas Lengkap! Roy Suryo dan dr Tifa Segera Disidang Kasus Ijazah Palsu Jokowi
-
Kritik Rencana MBG untuk Anak Sekolah Indonesia di Arab, DPR: Urus Dulu yang di Dalam Negeri
-
Kasus Riset Palsu di Denmark, Mendiktisaintek Temukan Dugaan Pencatutan Nama Kampus
-
Nadiem Makarim: Jadi Menteri Umur 35 Tanpa Pengalaman, Banyak yang Tersinggung
-
Balita Meninggal Usai Tindakan Sedasi di RSUD Prambanan, Keluarga Laporkan Dugaan Malapraktik