Suara.com - "Misi dalam hidupnya" adalah menyusun daftar nama dan memberikan penghormatan kepada mereka yang dicoba dihapuskan dalam sejarah Soviet, mereka yang dibunuh dalam masa-masa teror era Uni Soviet saat Josef Stalin berkuasa.
Yury Dmitriev, sejarawan terkenal Rusia yang selama berpuluh tahun mengungkap ribuan korban Stalin melalui pembunuhan bermotif politik serta kamp kerja paksa alias gulag, kini bakal menghabiskan waktu lebih lama di penjara.
Pada Senin (27/12), pengadilan di Kota Petrozavodsk memvonis Dmitriev dengan hukuman tambahan selama 15 tahun atas tuduhan kejahatan seksual terhadap anak.
Namun, para pendukung dan kerabat Dmitriev meyakini bahwa hukuman tersebut adalah konspirasi politik demi membungkam dia agar tidak terus-menerus membongkar kejahatan Stalinisme.
"Yuri Dmitriev mendapat vonis terkini: 15 tahun," cuit Memorial, organisasi HAM pertama di Rusia yang giat mengecam kejahatan Stalinisme dan kini terancam ditutup oleh pemerintahan Vladimir Putin.
Tapi siapa Yuri Dmitriev dan mengapa kasusnya begitu kontroversial?
Baca juga:
- Warga Soviet terakhir yang ditinggalkan begitu saja di ruang angkasa saat Uni Soviet ambruk
- Momen ambruknya blok komunis kuat, Uni Soviet, 30 tahun lalu
- Mikhail Gorbachev: Uni Soviet dihancurkan oleh pengkhianatan
Dmitriev lahir pada 1956 di Petrozavodsk, Republik Karelia, dekat Finlandia. Dia kemudian diadopsi oleh keluarga seorang anggota militer Uni Soviet.
Tempat Dmitriev dilahirkan berada tak jauh dari Kepulauan Solovetsky, lokasi lahirnya gulag, sistem kerja paksa yang diterapkan di Uni Soviet dari 1930 sampai 1955.
Di kawasan ini, sebanyak puluhan ribu tahanan tewas, baik karena ditembak maupun saat menggali Selat Laut Putih demi rencana pembangunan lima tahun yang digagas Stalin.
Baca Juga: Momen Saat Uni Soviet, Blok Komunis Kuat, Runtuh 30 Tahun Lalu
Hampir sebanyak 700.000 orang dieksekusi selama periode itu, menurut perkiraan resmi.
Selama bekerja sebagai penasihat untuk pemerintah daerah setelah Uni Soviet ambruk, Dmitriev mendapat akses ke beragam dokumen dan arsip pada masa Stalin.
Dari dokumen-dokumen itu, Dmitriev menemukan kuburan massal pertama yang mengungkap besaran gulag dan pembunuhan massal selama era Stalinisme.
Berkat penelitiannya, dua kamp pembasmian terbesar di Rusia, Sandarmokh dan Krasny Bor, ditemukan. Dmitriev lantas diberikan tugas mengidentifikasi korban-korban serta menciptakan "prasasti informal" untuk mengenang mereka.
Dmitriev dianggap sebagai salah satu akademisi yang paling berkontribusi dalam meneliti penindasan dan pelanggaran HAM selama kekuasaan Stalin. Karya-karyanya pun banyak diakui di dalam maupun di luar Rusia.
Akan tetapi, setelah Putin berkuasa, Dmitriev vokal mengritik pemerintah dan berulang kali bandingkan pemerintah saat ini dengan Uni Soviet era Stalin.
Dia pun mempertanyakan pencaplokan Krimea oleh Rusia. Kemudian, sesaat sebelum ditangkap, dia berpartisipasi dalam sebuah kegiatan yang mengungkap jaringan polisi rahasia Rusia.
Menurut lembaga Memorial, semuanya itu membuat Dmitriev dimusuhi pemerintah dan berujung pada penjara.
Apa yang dituduhkan pada Dmitriev?
Putusan pengadilan pada 27 Desember 2021 menuntaskan rangkaian persidangan yang berlangsung selama hampir lima tahun.
Dmitriev awalnya didakwa atas tuduhan "kepemilikan pornografi anak" pada 2016 setelah aparat mendapat "informasi anonim". Mereka menyita komputernya dan menemukan foto-foto telanjang putri angkatnya.
Dmitriev dan keluarganya berupaya meyakinkan aparat bahwa foto-foto itu digunakan sebagai alat memonitor bobot tubuh anak tersebut.
Sebab, si anak diadopsi dalam keadaan kekurangan gizi sehingga foto diperlukan demi memantau perkembangan tubuhnya secara berkala sebelum berkunjung ke petugas yang berwenang mengevaluasi adopsi anak.
Dua tahun kemudian, pada 2018, pengadilan menggugurkan dakwaan terhadap Dmitriev.
Akan tetapi, vonis tidak bersalah itu dimentahkan oleh Pengadilan Tinggi dan Dmitriev kembali menghadap meja hijau atas tuduhan memaksakan tindakan seksual terhadap anak.
Pada Juli 2020, pengadilan memvonisnya dengan hukuman penjara selama 3,5 tahun yang sebagian besar dijalaninya pada masa praperadilan.
Jaksa penuntut umum lantas mengajukan banding, meminta pengadilan menjatuhkan hukuman lebih berat.
Mahkamah Agung di Karelia kemudian menjatuhkan vonis pada September 2020 dengan hukuman penjara di Lapas Keamanan Tinggi selama 13 tahun.
Hukuman itu lalu diperpanjang menjadi 15 tahun melalui putusan pengadilan pada 27 Desember 2021.
Sejumlah kalangan Rusia dan mancanegara mengecam putusan pengadilan yang memenjarakan Dmitriev. Mereka menganggap dakwaan terhadap Dmitriev adalah pola serupa yang diterapkan pemerintahan Putin terhadap lawan-lawan politiknya.
Sejak berkuasa, Putih berupaya memutihkan citra Stalin, sosok yang dia anggap sebagai "pemimpin kuat". Putin juga meratapi ambruknya Uni Soviet yang dia sebut "tragedi terbesar pada abad ke-20".
Monumen-monumen Stalin juga mulai bermunculan di berbagai kota di Rusia seiring dengan kemunculan Stalin pada peringkat teratas dalam jajaran sosok paling "terkemuka" Rusia sepanjang masa, menurut sebuah jajak pendapat tahun lalu.
Pemutihan citra Stalin tak berhenti sampai di situ.
Tahun lalu, media pemerintah Rusia melaporkan, tanpa landasan sejarah, bahwa kematian orang-orang di Sandormorkh (tempat pembunuhan massal pada era Stalin) sejatinya adalah "serdadu-serdadu Soviet yang dibunuh oleh orang-orang Finlandia".
Berita Terkait
-
Presiden AS Donald Trump: Setelah Iran Selesai, Selanjutnya Kuba
-
Ungkit Uni Soviet, Puji-puji Prabowo ke Putin: Rusia Bantu Kita Tanpa Minta Cepat Kembalikan Utang
-
Elon Musk Kembali Sentil PM Keir Starmer: Ini Inggris atau Uni Soviet?
-
Apa Sih Arti CCCP di Kaos Budi Adiputro Host Totpol yang Pro Dinasti Politik?
-
Sejarah Hari Ini: Peristiwa Pembelotan Pilot Uni Soviet, Viktor Belenko
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Berawal dari Titip Anak, Siswi SD di Jakbar Jadi Korban Pencabulan Tetangga Selama 4 Tahun
-
Bantah Gunakan Drone Serang Gereja di Intan Jaya, TNI: Itu Aksi Provokasi Pecah Belah!
-
Jutaan Situs Diblokir tapi 200 Ribu Anak Tetap Terpapar Judol, di Mana Celah Keamanan Kita?
-
Mensos Gus Ipul Ajak Dema PTKIN se-Indonesia untuk Mensukseskan Sekolah Rakyat
-
Ketua Umum PRIMA: Kebangkitan Nasional 2026 Momentum Bangkitnya Indonesia Menuju Negara Kerakyatan
-
Guru yang Cabuli 4 Santri di Ponpes Lombok Tengah Ternyata Aktif di Aplikasi Kencan Gay
-
Pria Misterius Tewas Tertabrakn Kereta di Jagakarsa, Kulit Putih Diduga Usia 25 Tahun
-
Israel Bajak Global Sumud Flotila di Laut Internasional, Netanyahu Bangga Tangkap Aktivis Gaza
-
Menhan Sjafrie: Seluruh Kabupaten di Jawa Dikawal Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan di 2026
-
Menhan Sjafrie: Misi Kemanusiaan Gaza Tertunda Akibat Konflik AS - Iran