- Presiden Trump menyatakan prioritasnya adalah menyelesaikan konflik dengan Iran sebelum mengalihkan fokus strategis ke Kuba.
- Pemerintahan Trump menerapkan tekanan ekonomi signifikan terhadap Kuba, memicu demonstrasi domestik terkait krisis energi.
- Amerika Serikat berupaya menggantikan peran Uni Soviet dengan menjadikan Kuba bergantung secara finansial pada Washington.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sesumbar setelah menyelesaikan perang melawan Iran, ia akan mengobarkan konflik dengan tetangganya, negara komunis yang masih bertahan sejak era perang dingin, yakni Kuba.
Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump memprediksi bahwa pemerintah komunis Kuba sangat ingin mencapai kesepakatan dengan AS.
Namun, ia menegaskan bahwa prioritas strategisnya saat ini masih tertuju pada konflik yang sedang berlangsung dengan Iran di Timur Tengah.
Langkah ini menunjukkan pola diplomasi "tekanan maksimum" yang menjadi ciri khas pemerintahan Trump, di mana ia mencoba menyelesaikan satu front pertempuran besar sebelum membuka front lainnya di halaman belakang Amerika.
Di hadapan para wartawan pada hari Minggu (15/3) lalu, Trump secara eksplisit menyatakan fokus militer dan diplomatik AS saat ini tidak bisa dibagi secara merata antara Teheran dan Havana.
Iran tetap menjadi target utama yang harus dituntaskan sebelum AS memberikan perhatian penuh pada pulau yang terletak hanya 90 mil dari pesisir Florida tersebut.
"Saya pikir kita akan segera membuat kesepakatan atau melakukan apa pun yang harus kita lakukan," ujar Trump, dikutip dari NDTV.com, Senin (16/3/2026).
Ia menambahkan penegasan mengenai urutan prioritas kebijakannya dengan kalimat yang lugas, "Kami sedang berbicara dengan Kuba, tetapi kami akan menangani Iran sebelum Kuba."
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat di Teluk Persia, di mana serangan-serangan AS terhadap target-target terkait Iran terus berlanjut.
Baca Juga: Iran Ringkus 500 Mata-mata Musuh, Terlibat Bocorkan Data Serangan Pasca Gugurnya Khamenei
Bagi Trump, menyelesaikan urusan dengan Iran adalah kunci sebelum ia dapat mengarahkan kekuatan penuh "Paman Sam" untuk merombak tatanan politik di Amerika Latin.
Pengetatan Blokade dan Gejolak di Havana
Selama masa jabatannya, Trump memang secara konsisten memperketat tekanan terhadap Kuba.
AS telah memberlakukan blokade bahan bakar yang hampir total, sebuah langkah yang berhasil melumpuhkan ekonomi pulau tersebut dan menyebabkan pemadaman listrik selama berjam-jam yang menyiksa warga sipil.
Strategi ini tampaknya bertujuan untuk menciptakan keresahan domestik yang dapat memicu keruntuhan rezim dari dalam.
Spekulasi mengenai penggulingan militer terhadap rezim Komunis Kuba pun mulai merebak di koridor kekuasaan Washington.
Berita Terkait
-
Iran Ringkus 500 Mata-mata Musuh, Terlibat Bocorkan Data Serangan Pasca Gugurnya Khamenei
-
Tampan dan Pemberani, Javier Bardem Kritik Pedas Trump-Netanyahu di Panggung Oscar 2026
-
Harga Minyak Dunia Mendidih Lagi, Kembali Dibanderol USD 100/Barel
-
Jebakan Iran di Pulau Kharg, Serangan AS Justru Bisa Picu 'Kiamat' Ekonomi Barat
-
Dunia Wajib Was-was! Nafsu Trump Bikin 440 Kg Uranium Terkubur di Bawah Fasilitas Nuklir
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Bukan Menlu, Sosok Menteri Ini yang Jemput Langsung Presiden Jerman di Tangga Pesawat
-
Fakta-fakta Kesepakatan Damai Amerika Serikat - Iran
-
Kekerasan Seksual Dialami Tiga Siswi Kelas 2 SD, Kasus Terungkap dari Cerita Korban Saat Bermain
-
Rayu Investor Global di Singapura, Pramono Anung: Jakarta Terbuka bagi Investasi Hijau
-
Selat Hormuz Dibuka Jumat Besok Setelah Amerika Serikat dan Iran Damai
-
Iran: Cabut Semua Saksi Terhadap Kami!
-
Karhutla Naik Hampir Delapan Kali Lipat, Perlukah Indonesia Mulai Pikirkan Pembakaran Terkendali?
-
Pasar Saham Asia Langsung Gacor Usai AS dan Iran Damai
-
Kejagung Serahkan Uang Hasil Lelang Ke Kementerian Keuangan Sebesar Rp 1,02 Triliun
-
Tak Cuma Izin WNA! KPK Berpeluang Bongkar Korupsi Sektor Lapas di Kasus Silmy Karim