Saya begitu benci Desember.
Desember adalah bulan yang berjejal nestapa. Empat tahun lalu, saya dan berpuluh-puluh ribu orang Papua lain terpaksa angkat kaki dari desa untuk mencari keselamatan. Desa kami mulanya adalah tempat yang damai dan indah. Tapi kini wajahnya telah remuk diterpa perang. Kami tidak begitu mengenalnya setelah Nduga berubah menjadi medan perang.
Kenangan pahit pada menjelang pergantian tahun bukan hanya itu saja. Dua tahun lalu, adik dan bapa tua (paman) saya, tewas diterjang pelor yang meluncur dari bedil, diduga tentara pelakunya. Tiap akhir tahun, ingatan saya akan kembali mengenang salah satu peristiwa terpahit itu.
Seandainya saya tidak memberi izin. Seandainya saya tahu siapa yang menembaknya!
Pertanyaan itu terus berkelebat di pikiran. Sampai hari ini, saya tidak pernah tahu persis siapa yang menarik pelatuk dan merenggut paksa nyawa adik dan bapa tua.
Sayang, sayang. Ade sayang e, bapa sayang.
Waktu itu, mereka kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang berharga yang tersisa. Surat-surat penting, atau sedikit perkakas lain yang mungkin akan berguna hidup di pengungsian. Mereka tidak punya senjata. Hanya sebilah pedang untuk membabat rumput-rumput liar, serta noken berisi sedikit bekal makanan untuk perjalanan. Tetapi tentara bilang mereka membawa senjata. Mereka dituding sebagai bagian dari kelompok separatis. Tuduhan tanpa bukti yang masih mengambang hingga sekarang.
Saya semakin larut dalam kekecewaan sebab tidak bisa menguburkan mereka dengan layak. Bayang-bayang peluru yang bisa menembus tubuh kapan saja, memerangkap saya di dalam ketakutan. Jenazah adik ditemukan tergeletak di antara rerumputan pekarangan kami selama berhari-hari.
Kami dibiarkan saja mati seperti binatang
Baca Juga: Seragam Ditemukan di Semak-semak, Prajurit TNI di Papua yang Kabur Bawa Senpi Masih Dicari
Saya ingat dulu saya dan adik bermain bersama, membuat gaduh kampung dengan gelak tawa sampai diperingatkan mama tawa kami bisa saja mengganggu seisi desa. Kami bermain di pekarangan yang sama, di bawah langit yang tampak cerah dan pendar matahari menimpa kulit kami berdua. Hidup begitu berbahagia: kami kerap menertawakan banyak hal, dan berbagi kesedihan tentang hal-hal yang sama. Belakangan, pekarangan itu tak lagi mengingatkan pada peristiwa-peristiwa bahagia milik kami berdua. Tetapi kepada kematian, dan kekecewaan yang terus berkelindan berbuntut penyesalan.
Hari itu pukul 12 siang, tetapi pendar matahari sama sekali tak mampu menerobos mendung tebal yang bergelayut di atas sana. Saya menunjuk ke arah langit dan berkata kepada reporter yang hari itu bertemu kami:
“Seperti itulah, adek, nasib kami, para pengungsi. Mendung setiap hari. Belum ada terang sampai kapan kita akan terus menumpang di sini.”
Pendeta Kones, yang baru tiga hari pulang dari Nduga bercerita bahwa jika saya berkunjung ke sana, barangkali tak akan lagi mengenali kota itu. Empat tahun ditinggalkan oleh penduduknya, kini Nduga tampak kembali sebagai belantara; rerumputan liar tumbuh setinggi orang dewasa dan pohon-pohon tampak semakin besar menutup seisi kota. Kebun-kebun, rumah, dan jalanan berbatu yang biasa kami lintasi sehari-hari tak lagi tampak.
Pendeta Kones mempertaruhkan nasib untuk kembali ke Nduga dengan memikul harapan. Ia berharap bisa bernegosiasi untuk menghentikan perang, dan bisa kembali membawa warga yang kini mengungsi di kampung Sekom, distrik Muliama untuk kembali ke rumah mereka. Tetapi perundingan tersebut nihil.
Mereka bilang pada pendeta Kones “Jika terus datang ke sini, kami tak bisa jamin keselamatan bapa. Ini adalah ladang perang. Jangan dulu bawa masyarakat ke sini. Bawa pulang ketika kita su selesai begitu.”
Berita Terkait
-
Seragam Ditemukan di Semak-semak, Prajurit TNI di Papua yang Kabur Bawa Senpi Masih Dicari
-
Oknum ASN Perkosa 3 Anak , Identitas Korban Disebar Media Tribata News Setempat
-
Nama Sufyan Arsyad Beredar di Sosial Media, Disebut Pemerkosa 3 Anak
-
Buzzer Klaim Kasus Tiga Anak Saya Diperkosa 'Pesanan' untuk Jatuhkan Polri, Publik Murka
-
Kasus ASN Perkosa 3 Anak, Selain Ayahnya, Ada Pelaku Lain Ikut Terlibat
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Analis Politik Senior Bongkar Makna di Balik Blusukan Wapres Gibran
-
Sukabumi Jadi Markas "Cinta Palsu" Antarnegara: 16 WNA Spesialis Love Scamming Digulung Imigrasi!
-
Wakil Ketua Komisi VIII Abidin Fikri Buka Suara Penangkapan 3 WNI Terkait Haji Ilegal
-
Besok Perisai Geruduk DPR Bawa 15 Tuntutan May Day: Dari Upah hingga Agraria!
-
Amnesty International Ungkap Tiga Faktor Penyebab Impunitas Militer di Indonesia
-
Main Mata Proyek Jalur Kereta: KPK Bongkar Skenario 'Plotting' Bupati Pati Sudewo di Balai Ngrombo
-
Bakar Sampah hingga Truk Besar Ganggu Warga, Kevin Wu PSI Sidak Pabrik Makanan di Kedoya
-
Ketum Posyandu Tekankan Pentingnya Mendidik Generasi Emas 2045
-
Tri Tito Karnavian Tekankan Implementasi 6 SPM di Peringatan Hari Posyandu Nasional
-
Jadi Pemicu Kecelakaan Maut KRL: Sopir Taksi Green SM Baru Kerja 3 Hari dan Cuma Dilatih Sehari!