Suara.com - Perang yang terburuk pun pasti akan berakhir. Terkadang, seperti tahun 1945, satu-satunya jalan keluar adalah bertempur hingga mati.
Namun, sebagian besar perang berakhir dengan kesepakatan yang tidak sepenuhnya memuaskan siapa pun, tetapi setidaknya mengakhiri pertumpahan darah.
Dan seringkali, bahkan setelah konflik terburuk dan paling pahit, kedua belah pihak secara bertahap melanjutkan hubungan lama mereka yang tidak begitu bermusuhan.
Jika beruntung, kita mulai melihat awal dari proses ini terjadi sekarang antara Rusia dan Ukraina. Rasa sakit, terutama di pihak Ukraina, akan berlangsung selama beberapa dekade.
Baca juga:
- Lima kemungkinan yang bakal terjadi dalam konflik di Ukraina
- Antara kekecewaan dan harapan pada Indonesia - Wawancara Dubes Ukraina dan Rusia
- Perang Ukraina: Mengapa dikaitkan dengan Neo-Nazi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda
Tetapi kedua belah pihak menginginkan dan membutuhkan perdamaian: Ukraina, karena kota-kotanya telah mengalami hujan serangan yang mengerikan.
Begitu pula Rusia, yang menurut presiden Ukraina, telah mengorbankan lebih banyak orang dan materi daripada kerugian yang diderita dalam dua perang sebelumnya di Chechnya - meskipun itu tidak mungkin untuk diverifikasi.
Tapi tidak ada yang mau menandatangani perjanjian damai yang kemungkinan akan mengarah pada kejatuhan mereka sendiri. Bagi Presiden Rusia, Vladimir Putin, tampaknya harus mulai menemukan cara untuk menyelamatkan muka.
Presiden Ukraina Zelensky telah menunjukkan keterampilan yang luar biasa sebagai diplomat, dan dia jelas bersedia untuk mengatakan dan melakukan apa pun yang dapat diterima oleh dirinya dan rakyatnya untuk membuat Rusia keluar dari negaranya.
Baca Juga: Muncul Video Deepfake Putin Umumkan Perdamaian dan Zelensky Menyerah
Baginya, cuma satu tujuan utama - untuk memastikan bahwa Ukraina keluar dari pengalaman mengerikan ini sebagai negara yang bersatu dan merdeka, bukan provinsinya Rusia, seperti yang dikehendaki Presiden Putin.
Sedangkan bagi Putin, yang terpenting sekarang adalah dia bisa mendeklarasikan kemenangan. Tidak peduli bahwa setiap orang di seluruh pemerintahannya akan mengerti bahwa Rusia juga ikut terluka dalam invasi yang tidak perlu itu.
Rusia menyerang Ukraina:
- PERKEMBANGAN TERAKHIR: Laporan terbaru invasi Rusia ke Ukraina
- LATAR BELAKANG: Mengapa Putin menginvasi Ukraina?
- DALAM PETA: Dari mana saja Rusia menyerang?
- KONDISI WNI: Usaha menyelamatkan WNI dari medan perang
Juga tidak peduli bahwa 20% atau lebih orang Rusia yang memahami apa yang sebenarnya terjadi akan tahu bahwa Putin telah mempertaruhkan negaranya dengan fantasi rancangannya sendiri, dan kalah.
Kuncinya adalah bagaimana mendapat dukungan dari mayoritas penduduk Rusia, yang cenderung percaya secara implisit atas apa yang diberitakan oleh televisi pemerintah.
Bahkan ketika ada momen yang sangat berani oleh seorang editor TV, Marina Ovsyannikova, yang tiba-tiba muncul di layar televisi dengan sebuah plakat untuk mengatakan bahwa semua yang diberitahukan kepada publik adalah propaganda.
Jadi apa yang akan membuat Presiden Putin keluar dari perang yang membawa malapetaka ini sambil tetap terlihat baik di mata mayoritas rakyat Rusia?
Pertama, suatu jaminan, bahkan mungkin akan ditulis ke dalam konstitusi Ukraina, bahwa negara itu tidak berniat bergabung dengan NATO di masa mendatang.
Presiden Zelensky telah mempersiapkan caranya, dengan meminta NATO sesuatu yang tidak dapat disetujui (menetapkan zona larangan terbang di atas Ukraina), kemudian mengkritik aliansi itu karena telah membuatnya kecewa.
Dan akhirnya dia tidak yakin bahwa jika NATO berperilaku demikian, apakah benar-benar layak bagi Ukraina untuk bergabung. Seiring berjalannya posisi politik yang cerdas dan bijaksana, tidak ada yang lebih baik dari hal ini.
NATO disalahkan, dan mereka memahaminya, serta Ukraina mendapat kebebasan untuk bertindak sesuai keinginannya.
Tapi itu bagian yang mudah. Akan lebih sulit untuk mengatasi ambisi lain dari Zelensky yaitu Ukraina harus bergabung dengan Uni Eropa. Itu sesuatu yang hampir mustahil juga diterima Rusia, meskipun ada cara untuk mengatasinya juga.
Yang paling sulit ditelan Ukraina adalah pencurian langsung wilayahnya oleh Rusia, yang bertentangan dengan perjanjian internasional yang telah ditandatanganinya.
Direbutnya Krimea pada tahun 2014 adalah sesuatu yang membuat Ukraina mungkin sangat terpaksa untuk menerimanya.
Dan Rusia jelas bermaksud mempertahankan daerah-daerah di Ukraina timur yang sudah cukup efektif di bawah kendalinya - dan mungkin lebih dari itu.
Invasi Stalin atas Finlandia di Perang Musim Dingin
Pada tahun 1939, Joseph Stalin menginvasi Finlandia, yang pernah menjadi bagian dari kekaisaran Rusia.
Dia yakin pasukannya akan berhasil membereskannya dalam waktu singkat - seperti yang dipikirkan Putin atas Ukraina pada 2022.
Para jenderal Stalin, yang dapat dimengerti saat itu takut akan keselamatan mereka, sepakat dengan Stalin bahwa dia benar. Dan, tentu saja, nyatanya tidak demikian.
Perang Musim Dingin berlanjut hingga tahun 1940, tentara Soviet dipermalukan, dan Finlandia akhirnya dibiarkan merayakan kebanggaan mereka bisa menghalau kekuatan adidaya.
Walau kehilangan wilayah, pemimpin autokrat seperti Stalin dan Putin merasa perlu keluar dari masalah itu, seolah-olah mereka telah mencetak kemenangan.
Tetapi Finlandia mempertahankan hal yang paling penting dan tidak dapat binasa: kemerdekaan penuh sebagai negara yang bebas dan dapat menentukan nasib sendiri.
Seperti yang terjadi saat ini, Ukraina - setelah mengalahkan begitu banyak serangan Rusia dan membuat pasukan Putin terlihat lemah dan tidak efektif - seharusnya dapat melakukan seperti itu.
Kecuali jika pasukan Putin dapat merebut Kyiv dan lebih banyak lagi wilayah Ukraina, maka negara itu akan bertahan sebagai entitas nasional, seperti yang dilakukan Finlandia pada tahun 1940.
Kehilangan Krimea dan sebagian Ukraina timur akan menjadi kerugian yang pahit, ilegal, dan sepenuhnya tidak adil.
Tetapi Vladimir Putin harus mulai menggunakan senjata yang jauh lebih serius daripada yang sudah dia miliki, jika dia ingin unggul.
Seperti yang terjadi, di minggu ketiga pertempuran, tidak ada yang bisa meragukan siapa pemenang sebenarnya dalam perang ini.
Berita Terkait
-
Cadangan Devisa Dirilis Hari Ini, Rupiah Tertekan ke Level Rp17.934
-
5 Parfum Lokal Wangi Fresh Aquatic, Sensasi Segar dan Menenangkan Sepanjang Hari
-
Kementerian ESDM Tetapkan HBA Agustus 2026 Sebesar 124,44 Dolar AS per Ton
-
Berawal dari Keresahan, Roni Timothy Hadirkan Buku yang Mengupas Dunia Desain Pameran
-
IHSG Bertahan di Level 6.300 Pagi Ini, Saham ASII Perlu Disimak
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Mau Punya Mobil Impian? BRI KKB Expo 2026 Hadir di 131 Cabang
-
CIMB Niaga Ungkap Potensi Ekonomi Daerah Sektor Sawit dan Migas di Riau
-
Rayakan HUT Ke-81 RI Lebih Hemat dengan Ragam Promo Spesial dari BRI
-
Daftar Harga HP TECNO Agustus 2026, Lengkap POVA hingga Camon
-
BRI Tebar Promo HUT Ke-81 RI, Ada Cashback hingga Diskon Rp810 Ribu
-
Penjualan Mobil Hybrid Suzuki Tembus 70 Persen, Ini Model Paling Diminati...
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Bukan Sekadar Nyanyi dan Tepuk Tangan: Sisi Lain Perjuangan Menjadi Guru TK
-
Bukan Sekadar Horor Biasa, 'Munafik: Melawan Iblis' Hadir dengan Unsur Religi Serta Budaya Jawa
-
Sambut HUT Ke-81 RI, BRI Hadirkan Promo Kuliner, Liburan, hingga Hiburan