News / Nasional
Senin, 06 Juni 2022 | 13:36 WIB
Presiden RI Joko Widodo menerima kunjungan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Istana Kepresidenan Bogor [dok]

Suara.com - Perdana Menteri Australia Anthony Albanese membawa seluruh anggota kabinet utama dan pengusaha dalam kunjungan bilateral pertama setelah menjabat dengan mengunjungi Indonesia.

Dengan memilih Jakarta sebagai tujuan kunjungan bilateral pertama, PM Albanese mengikuti jejak yang sudah dibuat oleh pemerintah sebelumnya mengenai pentingnya hubungan dengan Indonesia bagi Australia.

Namun kunjungan ini selain  memperkuat hubungan yang sudah erat dan solid selama beberapa tahun terakhir juga terjadi di saat kecemasan di kawasan meningkat karena China.

Minggu lalu sehari setelah menjadi PM, Albanese terbang ke Tokyo untuk hadir dalam pertemuan Quad dengan pemimpin Amerika Serikat, Jepang dan India.

Di Jakarta PM Albanese ditemani oleh Menteri Luar Negeri Penny Wong, Menteri Perdagangan Don Farrell dan Menteri Industri Ed Husic  dan belasan pemimpin bisnis termasuk dari perusahaan besar di Australia seperti Wesfarmers, Telstra dan Commonwealth Bank.

"Pemerintahan saya bertekad untuk membina hubungan yang lebih baik di kawasan Indo-Pasifik," kata PM Albanese sebelum keberangkatannya ke Jakarta hari Minggu.

"Kunjungan awal dengan delegasi tingkat tinggi dari Australia menunjukkan kepada mitra kami di Indonesia pentingnya kami melihat hubungan ini.'

Pemerintahan Albanese mewarisi hubungan yang sudah solid dengan Indonesia yang sudah dibina oleh pemerintahan koalisi sebelumnya di bawah pimpinan PM Malcolm Turnbull dan Scott Morrison selama beberapa tahun terakhir.

Dua tahun lalu sudah tercapai persetujuan perdagangan bebas antar kedua negara namun pandemi selama dua tahun membuat kemitraan ekonomi kedua negara belum mencapai taraf maksimal.

Baca Juga: Kepada PM Australia, Jokowi Harap Kuota Working Holiday Visa Ditambah Jadi 5 Ribu Orang Per Tahun

Perjanjian perdagangan yang menghilangkan tarif dan meningkatkan perdagangan dan investasi di berbagai sektor ditandatangani di tahun 2019 namun baru diratifikasi oleh Indonesia ketika pandemi mulai terjadi di tahun 2020.

Indonesia yang menjadi tuan rumah G-20 tahun ini sekarang belum masuk dalam daftar 10 besar mitra dagang terbesar dengan Australia.

Ketika menjadi oposisi, Partai Buruh menuduh pemerintahan yang berkuasa, Partai Koalisi menelantarkan Indonesia dan sekarang berjanji memberikan bantuan senilai A$470 jua ke kawasan, dan juga bekerja sama dengan Jakarta guna membangun kemitraan di bidang infrastruktur dan cuaca senilai $200 juta.

"Sekarang tergantung pada bisnis dan investasi Australia"

Professor Dewi Fortuna Anwar dari lembaga Research Centre for Politics di Jakarta mengatakan 'jalan untuk masuk ke hati Presiden Joko Widodo adalah melalui bisnis dan investasi".

Dan menurutnya, sekarang 'semua tergantung pada Australia untuk melakukannya".

Yang paling penting menurut Professor Dewi Fortuna sekarang adalah bagaimana hubungan pribadi yang dibina antara PM Albanese dengan Presiden Jokowi.

Load More