Kim juga sempat menuai kontroversi pada saat ia berkomentar terkait gerakan MeToo yang menyeret Partai Demokrat. Kala itu, Kim berkomentar bahwa gerakan Met Too terjadi pada saat pria tidak membayar wanita.
Hal tersebut disampaikan pada saat menyesalkan mantan Gubernur Provinsi Chungcheong Selatan, An Hee Jung yang dipenjara karena pelecehan seksual.
Kim menyebut bahwa kaum konservatif memastikan mereka membayar, sehingga tidak akan ada yang terlibat skandal MeToo.
Kritiknya tersebut menuai beragam kontroversi dari masyarakatnya. Kim pun lantas meminta maaf karena pernyataan yang tidak pantas tersebut.
Sebagai informasi, gerakan MeToo sendiri merupakan kampanye untuk melawan segala bentuk pelecehan dan kekerasan seksual.
Tidak Laporkan Aset Kalung Mewah
Kembali menuai kontroversi, Kim menjadi perbincangan pada saat kalung mewah yang sempat dikenakannya tidak tercatat dalam laporan properti. Kalung tersebut dipakai oleh Kim pada saat menemani Yoon ke Spanyol.
Kantor kepresidenan pada saat itu menyebut bahwa kalung tersebut merupakan hasil pinjaman dari kenalannya. Namun, publik tidak menelan secara mentah-mentah pernyataan Kim tersebut dan menuding bahwa Kim tidak jujur.
Diketahui, kalung yang digunakan oleh Kim tersebut ditaksir seharga 62 juta won atau sekitar Rp 728.762.880 jika dalam rupiah.
Baca Juga: Qatar Larang Makan Daging Babi, Bagaimana dengan Timnas Korea Selatan?
Memanipulasi Harga Saham
Menyadur dari laman Korea Herald, transkip telepon Kim dengan pegawai perusahaan sekuritas muncul dalam laporan berita.
Dalam transkip tersebut, Kim disebut-sebut membeli saham Deutsche Motors pada saat harga saham itu tengah dimanipulasi.
Tidak hanya itu, Kim juga disebut melakukan trading selama periode tersebut, tetapi ia tidak mengaku bahwa ia melakukan kontak dengan pihak yang melakukan manipulasi harga saham.
Atas laporan yang menggaduhkan publik tersebut, kantor kepresidenan kemudian menanggapi dengan menyebut bahwa laporan tersebut merupakan laporan palsu.
Tiru Gaya Audrey Hepburn di Kamboja
Berita Terkait
-
Qatar Larang Makan Daging Babi, Bagaimana dengan Timnas Korea Selatan?
-
Siapa Kharisma Jati? Ini Profil yang Sosoknya Disebut Menghina Iriana Jokowi
-
Foto Iriana Diolok-olok Netizen, PSI: Tidak Pantas Dihina karena Penampilan Fisiknya
-
Akibat Ulah Akun KoprofilJati, Kaesang Pangareb dan Gibran Rakabuming Lakukan Hal ini Untuk Bela Iriana Jokowi
-
Daftar 29 Girl Group yang Paling Banyak Dicari di YouTube Korea Selatan Tahun 2022
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Kisah Supriadi: Dulu Belajar Silvofishery ke Kalimantan, Kini Sukses Budidaya Nila di Lombok Timur
-
KPK OTT di Tulungagung, Bupati Gatut Sunu Diamankan
-
Seskab Teddy Pastikan Indonesia Tidak Akan Tarik Pasukan dari UNIFIL
-
Lagi-lagi Singgung Iran, Ini Sesumbar Donald Trump Soal Pasokan Minyak
-
Kantor Kementerian PU Digeledah Kejati, Seskab Teddy: Silakan, Pemerintah Terbuka untuk Proses Hukum
-
Seskab Teddy: Presiden Prabowo Bakal ke Rusia Dalam Waktu Dekat
-
Pastikan Program Unggulan Presiden Berjalan, Mendagri Tinjau Program Perumahan Rakyat di Tomohon
-
Seskab Teddy Bantah Isu Indonesia Bakal 'Chaos': Itu Narasi Keliru!
-
Diversifikasi Pasar Belum Optimal, Indonesia Rentan Terseret Dampak Konflik Timur Tengah
-
Seskab Teddy Sebut Ada Fenomena Inflasi Pengamat: Beri Data Keliru, Picu Kecemasan