Suara.com - Jumlah warga Dusun Jati, Candirejo, Semanu, Gunungkidul, DI Yogyakarta yang terjangkit penyakit Antraks hampir mencapai 100 orang.
Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menyebut, sedikitnya 85 warga dinyatakan positif antraks, namun mayoritas dilaporkan tidak bergejala. Dilaporkan juga, ada satu orang yang meninggal dunia akibat penyakit itu.
Sementara data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus antraks di daerah tersebut mencapai 93 warga terpapar dan tiga orang meninggal dunia.
Adapun munculnya kasus Antraks di Gunungkidul diduga disebabkan tradisi Brandu yang dilakukan oleh warga setempat.
Tradisi Brandu kerap dilakukan warga ketika ada hewan ternak, seperti sapi, kambing atau kerbang yang sakit dan dikhawatirkan akan mati.
Jika ditemukan hewan ternak dengan kondisi demikian, warga akan menyembelihnya lalu dagingnya dibagikan ke warga lainnya.
Misalnya, ada satu sapi yang sakit atau terluka dan diperkirakan tidak akan sembuh, maka pemiliknya akan menawarkan pada warga sekitar agar hewan tersebut untuk di-Brandu. Jumlah hewan ternak yang di-Brandu sesuai dengan jumlah pemilik hewan yang sakit itu.
Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Gunungkidul, sebab harga daging hewan ternak yang di-Brandu akan lebih murah dibanding harga di pasaran.
Kini, tradisi Brandu di Gunungkidul diduga menjadi sarana utama penyebaran antraks dari hewan ternak ke manusia.
Baca Juga: Belasan Hewan Ternak Mati, Pemda DIY Pastikan Daging Aman dari Antraks
Sebab, di Dusun Jati, Gunungkidul, terdapat seekor berupa sapi yang mati karena sakit. Warga membeli sapi tersebut, lalu menyembelihnya dan memakan dagingnya.
Warga tidak menyadari kalau sapi tersebut telah terjangkit antraks dan orang yang memakannya ikut tertular, serbab saat disembelih, darah sapi yang mengalir berubah menjadi spora yang dapat menjangkiti manusia.
Pemerintah kabupaten Gunungkidul juga telah menyebut kalau tradisi masyarakat mengonsumsi daring sapi mati di Dusun jati merupakan tradisi Brandu.
"Brandu itu tradisi di Gunungkidul, dan brandu itu macam-macam. Maksudnya brandu itu tergantung sebabnya dan kadang-kadang (ternak) keracunan baru sakaratul maut dipotong," kata Kabid Kesehatan Hewan DPKH Gunungkidul Retno Widyastuti kepada wartawan.
Ia mengatakan, tradisi Brandu sebenarnya tradisi yang bertujuan baik karena semata-mata untuk membantu sesama.
Namun, jika pada akhirnya hewan kurban yang dibrandu lalu menjangkiti masyarakat dengan penyakit antraks, maka itu akan menjadi sesuatu yang merugikan.
Retno mengaku telah mengingatkan masyaralat, jika ingin melakukan tradisi Brandi, maka lakukanlah dengan hewan ternak yang tidak terlalu berisiko agar tidak merugikan masyarakat.
“Karena gini, kalau brandu itu (ternak mati mendadak) tidak akan membuat antraks berhenti muncul di sini (Gunungkidul)," katanya.
Kontributor : Damayanti Kahyangan
Berita Terkait
-
Belasan Hewan Ternak Mati, Pemda DIY Pastikan Daging Aman dari Antraks
-
Geger! Penyakit Antraks Tulari Manusia, Apa Fungsi Pengawasan Kementan?
-
Antraks Jangkiti 87 Warga Gunungkidul dan Satu Orang Meninggal, Pemda DIY Minta Status KLB Diberlakukan
-
Antraks Merebak di Gunungkidul, Kementan Gerak Cepat Lakukan Penanganan
-
Kronologi Munculnya Antraks di Gunungkidul: Bermula Makan Daging Sapi yang Sudah Dikubur
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
SMP dan SMA Sekolah Tumbuh Gandeng Neon Bit Kembangkan Pembelajaran Coding dan Robotik
-
4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
-
Fakta Ilmiah Cara Sabun Membersihkan Baju dari Noda Membandel
-
BREAKING NEWS: Peringatan Tsunami di Flores Usai Gempa 7,0
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel