News / Metropolitan
Selasa, 10 Oktober 2023 | 18:21 WIB
Toko-toko di Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, masih sepi pembeli setelah Tiktok Shop tutup, Selasa (10/10/2023). [Suara.com/Fakhri]

Suara.com - Tiga tahun terakhir merupakan masa-masa sulit bagi pedagang di Pasar Tanah Abang, khususnya di kawasan Blok B. Pusat grosir terbesar tanah air yang biasanya ramai pembeli yang datang, kini sepi melompong.

Firman (38) dan rekannya, Rofiq (39) menyebut masa-masa sekarang ini, tahun terberat sepengalamannya berjualan busana muslim anak di pasar terbesar se-Asia Tenggara itu.

Firman mengaku, sejak 2020 penjualannya merosot tajam lantaran pandemi Covid-19. Pemerintah melakukan pembatasan kegiatan masyarakat sehingga pembeli yang datang ke kiosnya menurun drastis.

Bahkan, Pasar Tanah Abang juga sempat demi mencegah penyebaran Covid-19.

Begitu pemerintah mencabut aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Firman mengakui dagangannya kembali ramai.

"Sempat naik (penjualan) habis pandemi, kan sudah nggak ada pembatasan," ujar Firman saat ditemui Suara.com di kiosnya, Selasa (10/10/2023).

Baru mulai bangkit setelah dihantam Pandemi Covid-19, Firman dan Rofiq kembali menemui masalah baru, yakni persaingan dengan platform social commerce yang mendadak melejit digandrungi masyarakat, Tiktok Shop. Firman mengakui penjualannya kembali menurun usai kedatangan aplikasi asal China itu.

"Ibaratnya luka ini kan belum kering benar. Udah sebulan kita begini. Saya belajar usaha dari 2013 sampai sekarang, ini yang paling berat tahun ini," ucap Firman.

"Wah ini lebih dari pandemi. Nyari omzet kadang saya dapat sejuta per hari, ini boro-boro. Ini kemaren saja nggak laris," tuturnya.

Baca Juga: Heboh Pedagang Pasar Tanah Abang vs E-Commerce, Viral Keluhan Mahalnya Bayar Parkir Liar dan Pungli Tanah Abang!

Bahkan, lebaran Idul Fitri yang biasanya menjadi momen dagangan laris malah tetap sepi.

"Jadi kami bingung sekarang. Dulu ada momen, ketahuan kapan mulai rame, misalnya menjelang lebaran. Sekarang nggak nentu," ungkapnya.

Firman mengatakan, faktor utama pedagang pasar kalah saing dengan Tiktok Shop lantaran masalah harga. Para penjual di platform social commerce itu dikatakannya menjual dengan harga jauh lebih murah.

"Sekarang gini, bahan saya jualan sama kayak impor misalnya. Kita jual grosir Rp115 ribu. Di Tiktok atau online lain itu di bawahnya, bisa Rp70 ribu. Kita hitung produksi biayanya nggak ketemu," ucap Firman.

Selain itu, ia melihat ada faktor pendapatan masyarakat yang juga menurun. Ia menduga salah satunya seperti musim kemarau panjang yang membuat gagal panen di sejumlah daerah.

"Faktor kemarau juga ada. Kalau daerah kan gagal panen, nggak punya duit. Terus juga sekarang online berpengaruh besar," katanya.

Load More