Suara.com - Joseph Jarjour, seorang pensiunan guru berusia 68 tahun, mengharapkan masa pensiun yang damai di rumahnya di desa Rmeish, selatan Lebanon. Namun, harapannya kini terperangkap di tengah konflik berdarah antara Israel dan Hezbollah.
“Kami terjebak,” keluh Jarjour, yang tinggal hanya dua kilometer dari perbatasan Israel.
Sejak September lalu, kekerasan terus meningkat, mengakibatkan lebih dari 1.200 orang tewas di Lebanon dan satu juta lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka. Meskipun desa Jarjour relatif aman dari kekerasan yang lebih parah, suara tembakan dan serangan udara Israel kerap menggema di atas kepala mereka.
“Ketika Israel membombardir, pesawatnya terbang di atas kami. Dan ketika Hezbollah membalas, proyektil juga meluncur di atas kami,” ungkap Jarjour dalam sebuah percakapan via telepon, dikutip suara.com melalui al arabiya, Jumat.
Kondisi di desa Rmeish semakin memburuk. Milad al-Alam, walikota desa, melaporkan bahwa sebagian besar dari 6.000 penduduk desa memilih untuk tetap tinggal meskipun dinding rumah mereka retak akibat ledakan.
“Kehidupan terhenti sejak Oktober 2023,” kata Alam.
Menurutnya, hampir semua aktivitas komersial telah terhenti sejak Hezbollah mulai meluncurkan roket ke arah Israel.
Dengan bertambahnya tekanan, ratusan pengungsi, sebagian besar Kristen, melarikan diri dari daerah sekitar dan mencari perlindungan di Rmeish.
“Siapa pun yang memiliki tabungan telah menghabiskannya dalam beberapa bulan terakhir,” lanjut Alam.
Walau sebagian besar desa Kristen di selatan Lebanon relatif aman dari pemboman Israel, kawasan yang dihuni mayoritas Syiah berdekatan mengalami kerusakan parah dan pengosongan.
Patriark Maronit, Beshara al-Rai, menyebut penduduk desa di sepanjang perbatasan sebagai sandera yang menanggung beban konflik ini.
Sementara itu, di desa Qlayaa, yang terletak empat kilometer dari perbatasan, ratusan keluarga juga memilih untuk tetap tinggal meskipun kekurangan bahan bakar dan obat-obatan.
“Kami adalah orang-orang percaya yang terikat pada tanah kami,” kata Pastor Pierre al-Rai.
Diberitakan bahwa tentara Israel telah meminta penduduk selatan Lebanon untuk meninggalkan rumah mereka, tetapi banyak yang menolak untuk pergi. Pauline Matta, seorang ibu empat anak, mengaku sangat ketakutan dengan suara ledakan dan pesawat tempur Israel.
“Saya tidak bisa membayangkan meninggalkan rumah atau bertahan di tempat lain dengan gaji suami saya yang modest,” keluhnya.
Berita Terkait
-
2 Prajurit TNI jadi Korban Serangan Israel di Lebanon, Jokowi: Perang Memang Seperti Itu, Semua Harus Hati-hati
-
Serangan Israel ke Lebanon Ancam Kemanusiaan, PBB: Tarik Pasukan Sekarang!
-
Israel Bunuh Komandan Jihad Islam di Kamp Pengungsi
-
2 TNI Terluka saat Markas UNIFIL Diserang Israel, Indonesia Tuntut Jaminan Keamanan Pasukan Perdamaian
-
Tank Israel Tembak Markas UNIFIL, 2 Prajurit TNI Jadi Korban
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
60 Ton Sampah Menggunung, Pemprov DKI Janji Pasar Induk Kramat Jati Bersih dalam 5 Hari
-
Sinyal Bahaya Demokrasi, Lakso Anindito Sebut KUHP Baru Berpotensi Hidupkan Rezim Otoritarian Orba
-
KPK Sempat Terbelah dan Ragu Jadikan Yaqut Tersangka Korupsi Haji?
-
Lakso Anindito Prediksi Gelombang Praperadilan Koruptor Akibat KUHP Baru
-
Rumah Yaqut 'Dikepung' Aparat, Tamu Diperiksa Ketat Usai Jadi Tersangka Korupsi Haji
-
BNI Hadirkan agen46 hingga Pelosok Kota Bima, Perluas Inklusi Keuangan
-
Indonesia Terpilih jadi Presiden Dewan HAM PBB, Amnesty International Indonesia: Kebanggaan Semu!
-
KPK Bongkar Alasan Jerat Eks Menag Yaqut: 'Permainan' Kuota Haji Tambahan Jadi Pemicu
-
Sinyal Keras KPK, Eks Menag Yaqut Secepatnya Ditahan di Kasus Korupsi Haji
-
Tanggapi Soal Pilkada Langsung dan Tidak Langsung, Menko Yusril: Keduanya Konstitusional