Suara.com - Presiden Terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, melakukan percakapan penting dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, menyerukan agar Rusia tidak memperburuk situasi perang di Ukraina.
The Washington Post melaporkan bahwa panggilan itu dilakukan Kamis lalu dari Mar-a-Lago, kediaman Trump di Florida, hanya beberapa hari setelah kemenangan mengejutkannya atas rival dari Partai Demokrat, Kamala Harris.
Steven Cheung, Direktur Komunikasi Trump, menolak mengomentari rincian panggilan tersebut.
"Kami tidak memberikan komentar tentang panggilan pribadi antara Presiden Trump dan pemimpin dunia lainnya," tulisnya dalam pernyataan tertulis kepada AFP.
Meski begitu, sejumlah sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut, yang berbicara tanpa disebutkan namanya, menyebutkan bahwa Trump menekankan kehadiran militer Amerika yang besar di Eropa dan menyatakan minatnya untuk berdialog lebih lanjut guna menyelesaikan konflik di Ukraina secepat mungkin.
Kemenangan Trump diperkirakan akan memengaruhi jalannya perang Ukraina yang telah berlangsung hampir tiga tahun. Trump, yang kerap menyerukan diakhirinya pertempuran dengan segera, meragukan dukungan miliaran dolar yang selama ini diberikan Washington kepada Kyiv. Hal ini menimbulkan kekhawatiran, terutama di antara sekutu-sekutu Eropa Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga sempat berbicara dengan Trump pada Rabu. Percakapan tersebut menarik perhatian karena melibatkan Elon Musk, salah satu pendukung utama Trump, yang juga ikut dalam panggilan tersebut.
Sementara itu, pemerintahan Presiden Joe Biden, yang akan segera berakhir, berkomitmen untuk mengirimkan bantuan sebanyak mungkin ke Ukraina sebelum Trump dilantik pada 20 Januari.
Penasihat Keamanan Nasional Biden, Jake Sullivan, mengatakan bahwa Gedung Putih ingin memastikan Ukraina dalam posisi kuat di medan perang dan, pada akhirnya, dalam posisi yang baik di meja perundingan. Sullivan juga menegaskan bahwa dana bantuan senilai $6 miliar yang tersisa akan segera digunakan.
Baca Juga: Qatar dalam Tekanan AS: Perantara atau Pelindung Hamas?
Dari pihak Rusia, tanggapan atas kembalinya Trump ke panggung politik relatif positif. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut sinyal dari Trump sebagai “positif” karena membahas perdamaian, bukan konfrontasi. Namun, rencana Trump untuk mengakhiri perang dengan cepat masih belum jelas detailnya.
Selama kampanye, Trump berulang kali mengkritik pendanaan Amerika untuk Ukraina, bahkan menyindir bahwa uang itu seolah mendukung jaringan pro-perang yang korup. Dalam unggahan di Instagram, Donald Trump Jr. memperlihatkan Zelenskyy berdiri di samping Trump dengan teks, “38 hari lagi sebelum kehilangan uang saku,” menyinggung ketidakpastian dukungan AS untuk Kyiv.
Meskipun beberapa pihak menyarankan bahwa Ukraina mungkin harus mengalah dan menyerahkan wilayah yang sudah dikuasai Rusia, Kyiv tetap teguh pada pendiriannya. Zelenskyy menegaskan bahwa mengorbankan tanah hanya akan memperkuat Putin dan memicu lebih banyak agresi, sebuah pandangan yang didukung oleh banyak sekutu Eropa.
Pertempuran sengit masih berlangsung di medan perang, dengan kedua pihak berusaha memperkuat posisi menjelang kemungkinan negosiasi. Ukraina dan Rusia terus saling melancarkan serangan drone besar-besaran, menambah kompleksitas situasi dan memperburuk ketegangan.
Berita Terkait
-
Qatar dalam Tekanan AS: Perantara atau Pelindung Hamas?
-
Ratusan WNI Sambut Hangat Kedatangan Presiden Prabowo di Washington DC
-
Pemimpin Negara-negara Arab Berkumpul di Riyadh, Bahas Kemenangan Trump?
-
Trump dan Pangeran Salman Bertelepon: Apa Arti Kemenangan Trump bagi Arab Saudi?
-
Mantan Staf Kamala Harris Desak Biden Mundur, Paksakan Sejarah Presiden Wanita Pertama AS?
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Karangan Bunga Hitam Putih Dedi Mulyadi Jadi Sorotan di Balai Kota
-
Bos Blueray Cargo Dituntut 3 Tahun Penjara dalam Kasus Suap Pejabat Bea Cukai
-
Polda Metro Jaya Tegaskan Penanganan Kasus Roy SuryoDokter Tifa Sesuai Prosedur KUHAP
-
Ancaman Donald Trump Dibalas, Iran Siapkan Angkatan Bersenjata di Garis Depan
-
Pengamat Sebut Masa Depan Politik Gibran Sangat Bergantung pada Pengaruh Jokowi
-
Pemadaman Listrik Berakhir! PLN Umumkan Pasokan Mulai Stabil
-
Polisi Siagakan 3.761 Personel Gabungan untuk Amankan Aksi di Monas dan Gedung DPR
-
Richard Muljadi Ditangkap Kasus Apa? Cucu Konglomerat Buronan Kejaksaan Terancam 8 Tahun di Bui
-
Aduh! Perdamaian AS - Iran Terancam Beratakan karena Ancaman Donald Trump
-
Jakarta HUT ke-499, Gubernur Soroti Masalah Sampah di Tengah Perayaan di Monas