Suara.com - Kebakaran hutan tak hanya meninggalkan kerusakan di daratan. Penelitian terbaru dari University of British Columbia mengungkap bahwa kebakaran juga berdampak serius pada ekosistem laut, terutama melalui pencemaran air dan gangguan terhadap kemampuan laut menyerap karbon.
Studi yang dilakukan di kawasan Sungai Fraser, Kanada, menunjukkan bahwa kebakaran hutan melepaskan abu, partikel tanah, serta zat kimia berbahaya seperti arsenik dan timbal ke lingkungan.
Senyawa-senyawa ini, bersama dengan nutrien seperti nitrogen dan fosfor, terbawa aliran air menuju laut dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
“Dari analisis kami terhadap data selama 20 tahun, hingga 16,3 persen variasi kualitas air di Sungai Fraser dapat dikaitkan dengan kebakaran hutan,” kata Prof. Brian Hunt, ahli dari Institute for the Oceans and Fisheries (IOF), melansir EurekAlert!, Selasa (17/6/2025).
“Angka ini terbilang tinggi mengingat skala sungai yang luas dan tingkat variasi alami yang besar,” terangnya lagi.
Meski sebagian besar wilayah Sungai Fraser tidak digunakan sebagai sumber air minum, temuan ini menandai kekhawatiran baru: bahwa kebakaran hutan dapat memicu ledakan alga beracun di laut akibat lonjakan nutrien, menurunkan kadar oksigen, dan mengancam kehidupan laut seperti ikan dan kerang.
Dampak yang Langsung dan Tertunda
Peneliti IOF lainnya, Emily Brown, menambahkan bahwa dampak kebakaran terhadap air tidak selalu langsung terjadi.
“Kebakaran yang dekat dengan sungai memberikan dampak cepat karena abu dan zat pencemar cepat masuk ke aliran air. Namun, kebakaran yang lebih jauh baru menunjukkan efeknya hingga 12 bulan setelahnya,” jelasnya.
Baca Juga: Antara Luka dan Harapan: Mengupas Nilai Unik di Balik 'Desiran Angin Laut'.
Dalam konteks perubahan iklim, tren ini menimbulkan kekhawatiran lebih besar. Frekuensi dan intensitas kebakaran hutan terus meningkat, baik di Kanada maupun banyak negara lain, termasuk Indonesia.
“Ini menjadi peringatan bahwa kita harus mulai memetakan dampak kebakaran lintas ekosistem, termasuk bagaimana hal ini memperburuk krisis laut,” ujar Hunt.
Laut, Karbon, dan Ancaman Tersembunyi
Laut berperan penting dalam menyerap karbon dari atmosfer, dan perubahan dalam siklus karbon akibat kebakaran bisa mengganggu fungsi penting ini. Salah satu hasil pembakaran adalah karbon hitam (black carbon), yang lambat terurai dan dapat menetap di laut dalam waktu lama, menyerap karbon secara efektif.
Namun, perubahan iklim mengancam mekanisme ini. “Sebagian besar aliran air di Sungai Fraser masih berasal dari lelehan salju. Tapi dengan pemanasan global, sumber air akan bergeser menjadi hujan. Ini bisa mempercepat pengiriman karbon hitam yang mudah terurai ke laut,” kata Brown.
Akibatnya, karbon yang seharusnya diserap justru dapat dilepaskan kembali ke atmosfer dalam bentuk karbon dioksida, memperburuk pemanasan global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan