Suara.com - Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang mempertanyakan apakah gaji guru dan dosen harus sepenuhnya ditanggung oleh keuangan negara telah memicu polemik tajam.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai pernyataan tersebut tidak memiliki landasan moral maupun akademik, terutama datang dari seorang pejabat publik setingkat menteri.
Kritik keras ini menjadi respons langsung atas ucapan Sri Mulyani yang menyinggung keluhan gaji pendidik di media sosial dan melemparkan wacana partisipasi publik untuk menanggungnya.
Menurut Nailul, pernyataan Menkeu tersebut mengabaikan tanggung jawab fundamental negara dalam mandat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang secara inheren mencakup kesejahteraan para pendidiknya.
"Pernyataan Sri Mulyani sangat tidak berlandaskan secara akademik maupun moral sebagai pejabat," kata Huda saat dihubungi oleh Suara.com, Jumat (8/8/2025).
Huda menyoroti ironi di lapangan, di mana kondisi kesejahteraan guru masih jauh dari ideal. Ia menegaskan bahwa negara tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya dalam isu krusial ini.
"Kita miris ada guru yang sudah mengajar puluhan tahun namun hanya mendapatkan gaji yang sangat minim," kata Huda.
Ia menambahkan bahwa realitas guru yang menerima gaji setiap tiga bulan sekali dengan nominal yang kecil adalah bukti nyata bahwa negara belum hadir sepenuhnya.
"Lantas apakah itu tidak masalah jika tidak dibiarkan oleh negara? Itu masalah besar karena negara tidak ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa," tegas Huda.
Baca Juga: Sri Mulyani Buka Opsi Gaji Guru dari Partisipasi Publik, Kemana APBN 20 Persen untuk Pendidikan?
"Negara, khususnya Kementerian Keuangan, jangan hanya sudah memberangkatkan mahasiswa ke luar negeri, tapi lepas tangan terhadap masalah kesejahteraan guru ataupun dosen."
Polemik ini bermula dari pidato Sri Mulyani dalam acara Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia, Kamis (7/8/2025).
Dalam forum tersebut, ia menyinggung keluhan yang kerap ia temui di media sosial mengenai rendahnya apresiasi finansial bagi profesi guru dan dosen.
"Banyak di media sosial saya selalu mengatakan, menjadi dosen atau guru, tidak dihargai karena gajinya tidak besar. Ini salah satu tantangan bagi keuangan negara," kata Sri Mulyani.
Menyusul observasinya, ia kemudian melontarkan pertanyaan yang menjadi pusat kontroversi, membuka wacana mengenai sumber pendanaan alternatif selain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi masyarakat?" ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Penumpang Pasar Senen Kalahkan Gambir, Tren Perjalanan Kelas Ekonomi Menguat
-
HUT Jakarta ke-499, Pemprov DKI Terima 499 Sertifikat Aset Daerah Senilai Rp 22,2 Triliun
-
Dianugerahi Lencana Emas di Gorontalo, Prabowo Dinilai Berjasa Bagi Petani-Nelayan
-
Prabowo: Saya Tahu Siapa yang Bayar Demo, Pesertanya Ada yang Dibayar Rp 200 Ribu
-
DPR Apresiasi Polda Jabar Tangkap Taufik Hidayat, Pelaku Penyekapan Perempuan di Bandung
-
Kasus Suap Mahasiswa UBK, BEM UMY: Tak Bisa Selesai Hanya dengan Maaf
-
Usut Kasus Silmy Karim, KPK Geledah Kantor Biro Jasa di Bali
-
Dua Kebakaran Serang Duren Sawit Dini Hari, 23 Jiwa Terdampak dan Ratusan Juta Rupiah Ludes
-
KPK Periksa 13 Saksi Kasus Silmy Karim di Jakarta dan Bali, ASN Hingga Swasta Dicecar
-
Kafe MIlik Gofar Hilman di Melawai Terbakar Gara-Gara Percikan dari Fryer