- MK melarang wamen rangkap jabatan agar mereka bisa fokus
- Larangan ini merupakan langkah strategis untuk mencegah potensi konflik kepentingan
- Putusan ini adalah penegasan atas aturan serupa di tahun 2019 yang diabaikan
Suara.com - Mahkamah Konstitusi (MK) secara resmi mengakhiri era wakil menteri (wamen) yang bisa leluasa menduduki jabatan sebagai komisaris di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Melalui sebuah putusan yang monumental, MK secara tegas melarang praktik rangkap jabatan ini dengan alasan yang mendasar, agar para wamen fokus total pada tugas negara dan tidak terpecah konsentrasinya.
Putusan ini, yang dibacakan dalam sidang pada Kamis (28/8/2025), menjadi jawaban atas gugatan yang dilayangkan advokat Viktor Santoso Tandiasa.
MK tidak hanya melarang wamen menjadi komisaris, tetapi juga sebagai pejabat negara lainnya, direksi perusahaan swasta, atau pimpinan organisasi yang dibiayai oleh APBN/APBD.
Lalu, apa sebenarnya alasan utama di balik keputusan tegas MK yang berpotensi mengubah lanskap pejabat publik di Indonesia ini?
1. Beban Kerja Berat Menuntut Fokus Penuh
Alasan utama dan paling fundamental dari larangan ini adalah beban kerja seorang wakil menteri yang dinilai sangat berat. MK berpandangan bahwa posisi wamen dibentuk untuk menangani urusan spesifik di kementerian yang membutuhkan perhatian penuh dan tidak bisa disambi dengan pekerjaan lain, apalagi jabatan strategis seperti komisaris.
Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih dalam pertimbangan hukumnya menegaskan hal ini.
"Larangan rangkap jabatan bagi wakil menteri didasarkan pada pertimbangan bahwa sebagai pejabat negara, wakil menteri harus fokus pada beban kerja yang memerlukan penanganan secara khusus di kementerian," kata Enny.
Dengan kata lain, MK ingin memastikan setiap rupiah gaji yang dibayarkan negara kepada seorang wamen benar-benar digunakan untuk mengurus rakyat, bukan untuk membagi fokus pada urusan korporasi.
Baca Juga: Tok! MK Larang Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN
2. Mencegah Konflik Kepentingan dan Wujudkan Pemerintahan Bersih
Praktik rangkap jabatan, terutama di BUMN, sangat rentan menciptakan konflik kepentingan (conflict of interest). Seorang wamen yang juga menjabat komisaris bisa saja membuat kebijakan yang menguntungkan BUMN tempatnya bernaung, bukan berdasarkan kepentingan publik yang lebih luas.
MK melihat bahaya ini sebagai penghalang terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik. Larangan ini menjadi langkah preventif untuk memastikan penyelenggaraan negara berjalan bersih dan bebas dari potensi penyalahgunaan wewenang.
"Terlebih, pengaturan larangan rangkap jabatan karena berkaitan pula dengan prinsip penyelenggaraan negara yang bersih, bebas dari konflik kepentingan, serta pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik," jelas Enny.
3. Penegasan Aturan Lama yang Diabaikan
Faktanya, ini bukanlah gagasan baru. MK sebenarnya sudah pernah menegaskan bahwa larangan rangkap jabatan bagi menteri juga berlaku untuk wamen dalam Putusan Nomor 80/PUU-XVII/2019. Namun, putusan yang dibacakan pada Agustus 2020 itu seolah angin lalu. Praktik wamen menjadi komisaris BUMN tetap marak terjadi.
Berita Terkait
-
Tok! MK Larang Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN
-
Rangkap Jabatan Pejabat Publik: Krisis Etika, Krisis Lapangan Kerja
-
Survei: Polri, Kejagung dan KPK Lembaga Penegak Hukum Terbaik
-
PSN: Karpet Merah Korporasi atau Kunci Kemajuan? Gugatan di MK Buka Tabir Dampak Proyek Strategis
-
Prabowo Pecat Wamen Ketenagakerjaan Usai Jadi Tersangka KPK!
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
Terkini
-
Petugas PPSU di Pejaten Barat Tewas Ditabrak Mobil Saat Sedang Menyapu
-
Aksi Kamisan ke-904, Sumarsih: Perjuangan Ini Lahir dari Cinta
-
Bukan Sekadar Pajangan, Andre Rosiade Dedikasikan Penghargaan KWP Awards 2026 untuk Rakyat Sumbar
-
Misteri Kerangka Manusia Nyangkut di Sampah Citarum, Ciri Kawat Jadi Kunci
-
Sapu Jalan Berujung Maut: Petugas PPSU Tewas Ditabrak Mobil Oleng di Pejaten
-
Petani Tembakau Madura Desak Pemerintah Ubah Kebijakan Rokok Ilegal
-
DKI Jakarta Berangkatkan 7.819 Jemaah Haji, Pemprov Siapkan 117 PPIH
-
Tangisan Anak di Serpong Utara Ungkap Penemuan Jasad Wanita Dalam Rumah
-
Aksi Kamisan ke-904 Soroti Militerisasi Sipil: Impunitas Masih Berulang
-
Tim Advokasi Minta MK Batalkan Pasal Kontroversial UU TNI, Soroti Ruang Sipil dan Impunitas