- Presiden Prabowo merencanakan penataan ulang kota di Indonesia melalui tim arsitektur daerah sebagai terobosan penting.
- Parlemen menilai rencana ini memerlukan payung hukum kuat dan keberanian politik luar biasa karena kendala padatnya kota.
- Keberhasilan program ini bergantung pada sinergi total antara pusat dan daerah agar tidak berjalan secara parsial.
Suara.com - Visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk menata ulang wajah kota-kota di seluruh Indonesia agar lebih bersih dan tertata mendapat lampu hijau sekaligus catatan kritis dari parlemen.
Rencana ambisius yang akan melibatkan tim arsitektur di setiap daerah ini dinilai sebagai sebuah terobosan, namun dihadapkan pada realitas lapangan yang pelik, yakni kota yang sudah padat dan cengkeraman kuat para pemilik modal.
Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, menyebut gagasan tersebut sangat baik untuk menjawab berbagai masalah perkotaan mulai dari kemacetan hingga problem sosial.
Namun, ia mengingatkan bahwa tim arsitek sehebat apapun tidak akan bisa bekerja tanpa adanya sebuah payung hukum yang kokoh dan keberanian politik yang luar biasa.
Menurutnya, kondisi kota-kota di Indonesia yang sudah terlanjur penuh sesak menuntut pendekatan yang tidak biasa.
"Kalaupun itu mau dilakukan, pemerintah harus bertangan besi. Harus dimulai dengan pembentukan aturan hukum yang jelas. Meski jalan ini sulit, tetapi kalau tidak ada jalan lain, ya harus tetap ditempuh," kata Saleh di Jakarta, sebagaimana dilansir Antara, Rabu (24/12/2025).
Siapa Sebenarnya 'Sutradara' Pembangunan Kota?
Saleh menyoroti sebuah masalah fundamental yang selama ini menjadi biang kerok kesemrawutan kota. Ia mengibaratkan pembangunan kota memiliki "cerita" atau skenario awal yang ideal. Sayangnya, di tengah jalan, alur cerita itu seringkali dibajak.
Menurutnya, sutradara pembangunan kota saat ini bukanlah lagi pemerintah, melainkan para pengusaha dan pemilik modal yang kepentingannya seringkali tidak sejalan dengan tata ruang yang ideal. Hal ini membuat masyarakat biasa berada di posisi yang lemah.
Baca Juga: Beban Prabowo Menurut Rocky Gerung: Isu Fufufafa Hantui Publik, Audit Ekologi Nasional Mendesak
"Orang yang tidak mempunyai kekuasaan, pasti tidak bisa melawan. Semua diselesaikan dengan cara tawar menawar. Bahkan kadang dengan cara-cara yang tidak wajar," tegas Saleh.
Kondisi inilah yang dinilai ingin diperbaiki oleh Presiden Prabowo. Namun, Saleh mengingatkan bahwa melawan status quo tersebut bukan perkara mudah dan akan memakan biaya yang sangat besar.
Ancaman Gagal Jika Jalan Sendiri-Sendiri
Tantangan lainnya adalah soal koordinasi. Agar rencana besar ini tidak menjadi macan kertas, sinergi total antara pemerintah pusat dan seluruh pemerintah daerah menjadi harga mati.
Saleh khawatir jika program ini dijalankan secara parsial atau setengah-setengah, hasilnya akan jauh dari harapan.
Apalagi, banyak pemerintah daerah yang terbukti kewalahan dalam menyelesaikan masalah di wilayahnya sendiri.
Berita Terkait
-
Purbaya Mau Kemenkeu Terjun Langsung Bangun Proyek Sekolah Impian Prabowo
-
Hotman Paris Pamer Hampers Natal Unik dari Presiden Prabowo, Isinya Bikin Salfok
-
Beban Prabowo Menurut Rocky Gerung: Isu Fufufafa Hantui Publik, Audit Ekologi Nasional Mendesak
-
Gatot Nurmantyo: Ancaman Terbesar Prabowo Bukan dari Luar, tapi Pembusukan dari Dalam
-
Program MBG Habiskan Anggaran Rp 52,9 Triliun, Baru Terserap 74,6% per Desember 2025
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Jadi Mobil Prabowo Selama KTT di Filipina, Maung Garuda Ternyata Diterbangkan Pakai Airbus TNI AU
-
Nyempil di Antara 320 WNA, Satu WNI 'Alumni' Kamboja Jadi CS Judi Online Markas Hayam Wuruk!
-
Hercules Semprot Amien Rais soal Prabowo-Teddy: Jangan Bicara Kayak Preman Pasar!
-
Menaker Dorong Talenta Muda Jadi Inovator melalui Talent & Innovation Hub
-
Operasi SAR Dukono Ditutup! 3 Pendaki Termasuk 2 WNA Ditemukan Tewas Tertimbun Pasir Vulkanik
-
Tolak Ratusan Miliar dari Jenderal demi Setia ke Prabowo, Hercules: GRIB Itu Petarung!
-
Hercules Ngaku Ditawari Jenderal Ratusan Miliar agar Tak Dukung Prabowo di Pilpres 2024
-
Nobar Persija vs Persib: 13 Titik di Jakpus Dijaga TNI-Polri
-
Terungkap! Ini Alasan Ahmad Dedi Lari Hindari Wartawan Usai Diperiksa KPK Kasus Korupsi Bea Cukai
-
Legislator PDIP Minta Desak Tinjau Kembali Rencana Pajak Sembako