- Jakarta dilanda banjir besar pada Senin pagi (12/1/2026) akibat hujan deras yang menyebabkan sistem drainase kewalahan, berdampak pada transportasi umum.
- Tanggul baru di Cilandak Timur tidak sepenuhnya efektif mencegah banjir, bahkan diduga memperlambat laju surut air di permukiman sekitar Kali Krukut.
- Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) tidak dilaksanakan karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak memberikan rekomendasi pelaksanaannya saat itu.
Suara.com - Senin pagi (12/1/2026), wajah Jakarta tak secerah biasanya. Sejak dini hari, langit seolah enggan menahan beban, menumpahkan airnya tanpa henti mengguyur seluruh penjuru ibu kota dan wilayah penyangganya.
Suara rintik hujan konstan menemani warga yang hendak memulai aktivitas awal pekan. Namun bagi sebagian besar penduduk di bantaran sungai, suara itu adalah sinyal bahaya.
Benar saja, intensitas hujan yang tinggi membuat sistem drainase kota kewalahan.
Dalam hitungan jam, puluhan Rukun Tetangga (RT) di Jakarta dilaporkan mulai tergenang. Jalanan aspal berubah menjadi aliran air keruh, memaksa kendaraan memutar arah dan warga bergegas menyelamatkan barang berharga.
Layanan transportasi umum kebanggaan warga Jakarta seperti Transjakarta hingga KAI Commuter Line pun sempat ikut luluh lantak. Genangan air di berbagai koridor hingga rel kereta membuat pihak pengelola kompak mengalihkan arus hingga meniadakan layanan sementara di titik terdampak.
Bagi warga terdampak banjir, Senin ini bukan tentang berangkat kerja atau sekolah, melainkan perjuangan menguras air dan mengevakuasi diri. Di awal tahun 2026 ini, ketangguhan warga Jakarta kembali diuji oleh alam.
Kala Tanggul Pun Tak Mempan Bendung Luapan Kali
Langit mendung di Cilandak Timur, Jakarta Selatan, menjadi saksi bisu warga yang masih terkepung banjir, meskipun sebuah tanggul kokoh baru saja rampung dibangun pada akhir 2025.
Ali, salah seorang warga, menuturkan ironi di balik tembok beton yang seharusnya menjadi pelindung dari luapan Kali Krukut.
Baca Juga: Hujan Lebat dan Rob Sebabkan Banjir 50 Cm di Tanjung Priok
Keberadaan tanggul memang mengubah pola banjir. Air tak lagi menerjang langsung dari belakang rumah, namun justru menyelinap masuk mencari celah melalui saluran drainase, menjebak permukiman dalam genangan yang berputar.
Meski kali ini bagian dalam rumah Ali selamat dari air, berbeda dengan banjir Desember lalu yang sempat merendam hingga 50 sentimeter, ia kini menghadapi dilema baru. Tembok yang seharusnya melindungi, justru membuat air surut jauh lebih lambat karena terhalang beton.
Warga kini dilingkupi kebingungan sekaligus kepasrahan. Kondisi geografis wilayah yang menyerupai cekungan membuat opsi penyedotan air terasa percuma tanpa adanya jalur pembuangan yang jelas.
Di tengah genangan yang masih merendam 3 RT di Cilandak Timur dan 19 RT lainnya di Jakarta Selatan, warga hanya bisa berharap pemerintah menemukan solusi teknis yang lebih matang dan efektif daripada sekadar membangun benteng beton raksasa.
Hilangnya "Peran" Modifikasi Cuaca
Belum lama berselang, di penghujung tahun yang penuh harap, narasi itu didengungkan dengan begitu jemawa. Di layar-layar televisi dan berita daring, para pejabat Pemprov DKI berbicara tentang kesiapan.
Mereka tidak hanya bicara soal pompa air atau pengerukan sungai, kali ini mereka bicara sains, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Sebuah istilah yang terdengar futuristik, canggih, dan seolah memberi jaminan bahwa manusia akhirnya memegang kendali atas awan.
Bayangkan pesawat-pesawat Casa yang membelah langit, menaburkan ribuan kilogram garam ke perut awan kumulonimbus. Skenarionya terdengar sempurna, hujan akan "dipaksa" turun di laut sebelum sempat menyentuh aspal Jakarta.
Ancaman cuaca ekstrem awal tahun akan dijinakkan oleh rekayasa manusia. Kita pun sedikit bernapas lega, menyimpan payung di sudut lemari, percaya bahwa "tameng langit" itu benar-benar ada.
Namun, hari ini, langit Jakarta seolah tidak pernah membaca memo dinas tersebut. Pagi tidak dimulai dengan matahari yang malu-malu, melainkan dengan gemuruh yang merobek angkasa. Awan hitam menggantung rendah, tebal dan pekat, seolah menantang segala upaya modifikasi yang digembar-gemborkan.
Dan ketika tirai air itu akhirnya tumpah, ia tidak turun sebagai gerimis yang sopan. Ia turun layaknya air bah dari langit.
Di mana ribuan ton garam itu sekarang? Apakah mereka larut tanpa arti di angkasa, ataukah awan-awan ini terlalu keras kepala untuk tunduk pada rekayasa anggaran daerah?
"Tidak ada rekomendasi (modifikasi cuaca) dari BMKG," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan usai meninjau salah satu titik banjir di Jakarta Selatan.
Kenapa "Tameng Langit" Jakarta Tanggal?
Hari ini, Jakarta tidak terlihat seperti kota yang dilindungi oleh teknologi canggih. Ia kembali ke wujud aslinya yang rapuh, sebuah kota yang pasrah, di mana warganya kembali harus mengangkat celana setinggi lutut.
Seperti yang sudah diperkirakan, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memang tidak dilakukan di Jakarta hari ini.
Memang betul, Pemprov DKI punya modal sendiri untuk memodifikasi cuaca. Anggaran khusus bahkan sudah dipersiapkan untuk itu.
Namun, wewenang tertinggi tetap di tangan BMKG, yang hari ini tidak memberikan rekomendasi untuk Pemprov DKI Jakarta "menghalau" awan hujan.
BMKG sendiri sudah sejak 8 Januari lalu mengeluarkan peringatan untuk Jakarta bersiaga menghadapi kenaikan intensitas hujan berskala sedang hingga sangat lebat hingga 13 Januari besok.
Lalu, mengapa "tameng langit" Jakarta ditanggalkan? Kata pengamat tata kota, Yayat Supriatna, ketiadaan TMC di Jakarta kali ini tentu erat kaitannya dengan ketersediaan anggaran baru selepas tahun berganti.
Kalaupun memang rincian dana untuk modifikasi cuaca sudah dipersiapkan Pemprov DKI, masa transisi ke anggaran baru tetap diyakini Yayat sebagai salah satu batu sandungan.
"Ini masa transisi anggaran baru. Modifikasi cuaca ini, terus terang saja, sangat bergantung pada anggaran," tuturnya lewat sambungan telepon.
"Benteng" Baru Jakarta Lawan Banjir
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memang sebegitu krusial dalam penanggulangan banjir Jakarta. Sejak 2024, operasi penyemaian garam diklaim sanggup menekan debit air dari langit sekitar 40 sampai 60 persen.
Namun, Pemprov DKI Jakarta sangat bergantung pada rekomnedasi BMKG untuk penerapan TMC. Anggaran mandiri saja tak cukup dalam mengaktifkan "tameng langit" Ibu Kota.
Sampai kata-kata "sakti" itu datang dari BMKG, Pemprov DKI Jakarta hanya bisa mengandalkan infrastruktur pengendali banjir sendiri. Ribuan pompa lagi-lagi jadi garda terdepan untuk diandalkan sang gubernur, Pramono Anung dalam pengentasan genangan.
"Yang paling utama, sekarang ini semuanya kami siagakan. Ada 1.200 kurang lebih, 600 pompa yang portabel, 600 pompa yang mobile," papar orang nomor satu Jakarta itu.
Pramono Anung juga resmi memperkenalkan "benteng" baru Jakarta, yang ditargetkan jadi penampung air hujan agar tak lagi menggenangi tempat yang tidak semestinya.
Ada sembilan waduk yang Pemprov DKI Jakarta bangun, dengan lima di antaranya sudah berdiri kokoh di kawasan Jakarta Timur dan tinggal menunggu giliran untuk "bertugas". Sementara empat "perisai" lainnya nantinya akan terbagi rata di kawasan Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.
"Ini mudah-mudahan secara signifikan menjadi daya tampung untuk proses mengurangi banjir di Jakarta," kata Pramono di balik harapan besarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Debit Air Berpotensi Naik, Ditpolairud Polda Metro Jaya Sisir Permukiman Warga di Pluit
-
Bus TransJakarta Hantam Tiang PJU di Kolong Tol Tanjung Barat, Satu Penumpang Terluka!
-
El Clasico Legenda Bakal Hadir di GBK, Pramono Anung: Persembahan Spesial 500 Tahun Jakarta
-
Jakarta Dikepung Banjir, Ini 5 Cara Pantau Kondisi Jalan dan Genangan Secara Real-Time
-
Superflu vs Flu Biasa: Perlu Panik atau Cukup Waspada?
-
BNI Pertegas Dukungan Sekolah Rakyat untuk Perluas Pemerataan Pendidikan Nasional
-
Tutup Rakernas I 2026, PDIP Umumkan 21 Rekomendasi Eksternal
-
Banjir Rendam Jakarta, Lebih dari Seribu Warga Terpaksa Mengungsi
-
Hujan Deras Rendam 59 RT di Jakarta, Banjir di Pejaten Timur Capai Satu Meter
-
Arahan Megawati ke Kader PDIP: Kritik Pemerintah Harus Berbasis Data, Bukan Emosi