News / Nasional
Senin, 12 Januari 2026 | 22:17 WIB
Ilustrasi superflu. (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Superflu adalah varian Influenza A (H3N2) subclade K, yaitu evolusi alami flu musiman, bukan virus baru yang tiba-tiba muncul.
  • Istilah superflu muncul karena cepat menyebar dan lonjakan kasus, namun gejala klinisnya mirip flu biasa dengan tingkat keparahan lebih tinggi.
  • Pencegahan superflu sama dengan flu biasa, dan vaksin influenza yang ada masih efektif melindungi, terutama bagi kelompok rentan.

Suara.com - Istilah superflu mendadak berseliweran di linimasa, grup WhatsApp keluarga, sampai obrolan warung kopi. Ada yang langsung panik, ada pula yang bertanya-tanya: jangan-jangan ini awal pandemi baru?

Nama “super” memang terdengar mengintimidasi, seolah virus ini lebih ganas dan tak terkendali. Tapi sebelum ikut cemas, para ahli justru mengajak kita berhenti sejenak, karena di balik istilah yang viral itu, superflu ternyata bukan monster baru yang tiba-tiba muncul, melainkan versi lama influenza yang kembali jadi sorotan.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan superflu? Di mana letak perbedaannya dengan flu musiman yang selama ini kita kenal?

Bukan Virus Baru, Tapi Varian Lama yang Mendominasi

Istilah superflu sebenarnya merujuk pada influenza A (H3N2) subclade K, varian dari virus influenza musiman yang sudah lama beredar. Subclade K bukan hasil kemunculan virus baru secara tiba-tiba, melainkan bagian dari evolusi alami virus influenza.

Influenza termasuk virus RNA yang dikenal cepat bermutasi. Dalam istilah ilmiah, perubahan kecil ini disebut antigenic drift. Mutasi tersebut terjadi hampir setiap musim dan membuat virus terus berubah wajah, meski tetap berada dalam satu keluarga yang sama.

Peneliti virologi dari Universitas Gadjah Mada, Tri Wibawa, menjelaskan bahwa mutasi pada influenza merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Virus terus beradaptasi agar bisa bertahan dan menular lebih efektif, tetapi mutasi kecil ini tidak otomatis membuatnya lebih ganas.

Sejumlah jurnal ilmiah, termasuk laporan surveilans genomik influenza A(H3N2) di Inggris pada musim 2025/2026, menunjukkan bahwa subclade K masih berkerabat dekat dengan virus flu musiman sebelumnya.

Artinya, tubuh manusia, terutama yang sudah punya kekebalan dari infeksi atau vaksin sebelumnya, tidak sepenuhnya “asing” terhadap virus ini.

Baca Juga: Pancaroba Picu Kewaspadaan Superflu di Kabupaten Tangerang, Dinkes Minta Warga Tidak Panik

Kenapa Disebut “Super”?

Istilah superflu tidak tercantum dalam terminologi medis resmi dari WHO, CDC, atau jurnal ilmiah. Nama itu muncul di media dan percakapan publik karena varian ini terlihat cepat menyebar dan memicu lonjakan kasus dibanding musim flu sebelumnya.

Menurut Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, istilah superflu lahir dari media dan warga ketika kasus influenza A (H3N2) subclade K meningkat tajam di sejumlah negara, termasuk AS dan Eropa.

Data WHO, berbagai negara menunjukkan lonjakan kasus influenza dalam waktu singkat. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat puluhan kasus subclade K terdeteksi melalui surveilans, tersebar di sejumlah provinsi.

Meski demikian, otoritas kesehatan menegaskan tidak ada lonjakan keparahan penyakit atau kematian yang signifikan.

Infografis Superflu vs Flu Biasa. (Suara.com/Syahda-i)

Gejalanya Mirip Flu Biasa

Dari sisi klinis, superflu tidak membawa gejala baru yang mengejutkan. Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Farindira Vesti Rahmasari menyebutkan kalau superflu menunjukkan gejala yang mirip dengan influenza pada umumnya, tetapi dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi.

Pasien dapat mengalami demam tinggi, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, serta durasi sakit yang lebih panjang dibandingkan flu biasa.

“Demam bisa tinggi, nyeri otot lebih terasa, tubuh sangat lemas, dan masa pemulihan bisa berlangsung lebih dari dua minggu. Risiko komplikasinya juga lebih besar,” kata dr. Farindira.

Komplikasi seperti pneumonia memang bisa terjadi, tetapi bukan ciri khas baru dari subclade K. Risiko tersebut sejak lama melekat pada influenza, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak kecil, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, atau gangguan paru.

Dengan kata lain, yang membuat flu berbahaya bukanlah label “super”, melainkan keterlambatan penanganan pada kelompok yang memang berisiko tinggi.

Pencegahan Superflu Sama Seperti Pencegahan Flu Biasa

Lantaran superflu pada dasarnya adalah influenza musiman, maka strategi pencegahannya pun tidak berubah.

Kementerian Kesehatan telah menyampaikan tata cara pencegahan superflu dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), memakai masker saat sakit atau berada di kerumunan, menjaga ventilasi udara, serta menerapkan etika batuk dan bersin.

Soal vaksinasi, pemerintah menegaskan tidak diperlukan vaksin khusus atau formulasi baru hanya karena muncul istilah superflu.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyatakan bahwa vaksin influenza yang selama ini digunakan masih menjadi tameng utama untuk menghadapi peningkatan kasus flu, termasuk varian yang ramai disebut sebagai superflu ini.

“Vaksinnya cukup vaksin influenza saja. Tidak perlu yang khusus, tetap gunakan vaksin influenza yang sudah tersedia,” ujar Benjamin beberapa waktu lalu.

Menurut Benjamin, superflu sejatinya juga virus Influenza Tipe A dengan subtipe H3N2, yang sudah lama dikenal dalam dunia medis. Varian ini memang memiliki karakter genetik tertentu dan pertama kali teridentifikasi secara masif di Amerika Serikat, sebelum kemudian menyebar ke berbagai negara.

Benjamin menambahkan, vaksin influenza tetap berperan penting bukan hanya untuk mencegah infeksi, tetapi juga menekan risiko gejala berat dan komplikasi, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta.

Dalam konteks superflu, vaksinasi dinilai membantu tubuh mengenali virus lebih cepat, sehingga infeksi tidak berkembang menjadi kondisi serius seperti pneumonia atau membutuhkan perawatan intensif.

Pada akhirnya, yang perlu kita waspadai bukanlah istilah superflu, melainkan sikap abai terhadap kesehatan. H3N2 bukan virus baru, dan kepanikan justru tak memberi perlindungan apa pun. Yang benar-benar penting adalah mengenali gejala sejak dini, melindungi kelompok rentan, serta tetap menjalankan langkah pencegahan sederhana yang selama ini sudah terbukti. Karena dalam banyak kasus, flu menjadi berbahaya bukan karena namanya, melainkan karena kita terlambat bertindak.

Load More