- Gerakan Nurani Bangsa soroti kemunduran demokrasi dan ancaman kebebasan sipil.
- Eksploitasi alam disebut sebabkan bencana ekologis dan jatuhnya banyak korban jiwa.
- Pemerintah didesak jaga demokrasi, lindungi HAM, dan tegakkan supremasi sipil.
Suara.com - Sejumlah tokoh lintas iman dan profesi yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi demokrasi dan lingkungan hidup di Indonesia. Dalam sebuah pernyataan bersama, mereka menyoroti berbagai tantangan serius yang dinilai telah menjauhkan bangsa dari cita-cita konstitusi.
Gerakan Nurani Bangsa, yang diwakili oleh Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, mengapresiasi upaya pemerintah dalam pemenuhan hak dasar warga di bidang pendidikan dan kesehatan. Namun, mereka juga memberikan catatan kritis.
“Banyak hal yang masih belum dirasakan masyarakat. Kesejahteraan bersama masih jauh dari cita-cita karena ketimpangan pendapatan dan kemiskinan masih menganga,” kata Sinta dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026).
Demokrasi Cacat dan Ancaman Kebebasan Sipil
Gerakan ini menyoroti kualitas demokrasi Indonesia yang dinilai terus melemah. Merujuk pada laporan Economist Intelligence Unit (EIU) tahun 2025, Indonesia masih dikategorikan sebagai "demokrasi cacat" dengan skor 6,30 dari 10.
Ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi juga disebut meningkat sepanjang 2025.
“Pasca Prahara Agustus, ribuan orang termasuk aktivis demokrasi ditangkap dan ditahan. Serangkaian teror juga mengarah pada akademisi dan influencer yang bersuara lantang tentang penanganan bencana Sumatra,” ungkap Sinta.
Bentuk teror tersebut beragam, mulai dari pengiriman bangkai binatang, perusakan mobil, doxing, hingga pelemparan bom molotov. Kebebasan pers sebagai pilar demokrasi juga dinilai tergerus, di mana jurnalis yang kritis kerap mendapat intimidasi dan propertinya dirampas oleh aparat.
Lemahnya Tata Kelola Pemerintahan dan Bencana Ekologis
Baca Juga: Fahri Hamzah: Pilkada Lewat DPRD Diskusi Efisiensi, Jangan Terlalu Curigai Prabowo
Tata kelola pemerintahan juga tak luput dari kritik. Prinsip transparansi dan akuntabilitas dinilai terus terhambat oleh korupsi, konflik kepentingan, serta lemahnya fungsi pengawasan DPR.
"Partai politik lebih banyak menyuarakan kepentingan elite dibanding kepentingan publik, sebagai contoh diskursus pemilihan kepala daerah kembali oleh DPRD," lanjut pernyataan tersebut.
Persoalan lingkungan hidup menjadi sorotan paling tajam. Eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab dan penegakan hukum yang lemah telah memicu bencana ekologis di berbagai wilayah.
“Akibat eksploitasi alam, Indonesia mengalami bencana Ekologis di banyak wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa,” ungkapnya.
Berdasarkan data BNPB per 11 Januari 2026, bencana di tiga provinsi Sumatra telah menyebabkan 1.180 korban meninggal, 145 orang hilang, dan 238 ribu lainnya mengungsi.
Delapan Pesan untuk Bangsa
Menyikapi kondisi tersebut, Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan delapan pesan kepada seluruh penyelenggara negara dan elemen bangsa, di antaranya:
1. Menjaga pelaksanaan demokrasi dan hak rakyat untuk memilih pemimpinnya secara langsung.
2. Merawat prinsip supremasi sipil, di mana TNI-Polri fokus pada tugas utamanya.
3. Mendasarkan seluruh agenda negara pada kemaslahatan rakyat, bukan kepentingan segelintir orang.
4. Menjalankan program yang mampu memperbaiki kualitas pemenuhan hak dasar warga.
5. Memastikan kelestarian alam dan menindak tegas semua pihak yang merusak lingkungan.
6. Melindungi kebebasan berpendapat, berekspresi, dan kebebasan pers.
7. Membangun Papua dan Aceh yang damai, adil, dan setara.
8. Menjadikan ajaran agama dan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan bertindak.
Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh besar, seperti Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M. Quraish Shihab, KH. Mustofa Bisri, Kardinal Suharyo, Bhante Sri Pannyavaro, Pdt. Gomar Gultom, dan Franz Magnis-Suseno.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Teddy ke Dino Patti Djalal: Jangan Kaburkan Fakta Hasil Lawatan Prabowo
-
Teddy: Lawatan Luar Negeri Prabowo untuk Bangun Kedekatan dengan Pemimpin Dunia
-
Kebakaran Melanda Permukiman Padat di Kemayoran, 33 Mobil Damkar Dikerahkan
-
Dihadiri Wamen Ekraf, Borobudur Peace & Prosperity Festival Gaungkan Persatuan Lintas Budaya
-
DPRD DKI Minta Ragunan Evaluasi Total Sistem Keamanan Usai Anak Jatuh ke Kandang Gajah
-
Bukan Sekadar Seremonial, Seskab Teddy Beberkan 7 Prestasi Diplomasi Prabowo: Investasi Rp 2.430 T
-
Tim Jibom Temukan 'Granat Maut' di Lokasi Ledakan Biak, Olah TKP Terpaksa Ditunda
-
Seskab Teddy: Lawatan Luar Negeri Bukan Gagah-gagahan, Prabowo Tanggung Kelebihan Biaya
-
Jalan Lenteng Agung Ditutup hingga Selasa Pagi