- Fahri sebut kebijakan Prabowo adalah 'jalan tengah' demokrasi khas Indonesia.
- Pilkada via DPRD dinilai sebagai wacana efisiensi, bukan kemunduran demokrasi.
- Pemerintah fokus hentikan kebocoran anggaran, bukan sekadar wacana hukum.
Suara.com - Politikus senior Fahri Hamzah menanggapi kekhawatiran publik mengenai munculnya tren oligarki politik baru, termasuk wacana pengembalian Pilkada ke DPRD.
Menurutnya, langkah-langkah yang diambil pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini adalah upaya mencari 'jalan tengah' demokrasi yang khas Indonesia, di tengah krisis demokrasi liberal dunia.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) ini membandingkan kondisi global saat ini, di mana demokrasi liberal di Amerika Serikat dinilai mulai berantakan, sementara model pembangunan China berhasil mengentaskan ratusan juta orang dari kemiskinan.
Mengutip filosofi Bung Hatta, "mendayung di antara dua karang," ia berpendapat Indonesia perlu merumuskan sistemnya sendiri.
“Cara kita menyelenggarakan demokrasi kita itu supaya ada dalam pilihan-pilihan yang unik milik bangsa Indonesia, cara Indonesia, jalan Indonesia, dan ini kita harapkan hasilnya nyata. Tidak untuk merusak bangsa ini," ujar Fahri Hamzah dalam kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, dikutip pada Selasa (13/1/2026).
Pilkada via DPRD sebagai Wacana Efisiensi
Terkait isu Pilkada kembali ke DPRD, Fahri menyebut hal itu sebagai bagian dari diskusi intelektual untuk mengelola pemilu agar lebih efisien. Ia bahkan merujuk pada literatur global seperti buku 'Against Election' karya David Van Reybrouck, yang mulai mempertanyakan relevansi pemilu konvensional di era modern.
Di sisi lain, Fahri menyoroti dua misi besar Presiden Prabowo: menghentikan kebocoran anggaran dan menghapus ketimpangan sosial. Ia mengkritik kelompok LSM yang hanya sibuk menuntut pengesahan UU Perampasan Aset, sementara menurutnya, pemerintah saat ini justru sudah melakukan perampasan aset secara nyata di lapangan dari para mafia dan penyelundup.
"LSM sibuk mengatakan pemerintah tidak komit memberantas korupsi karena tidak mau mengesahkan undang-undang perampasan aset, padahal Pak Prabowo sekarang lagi merampas aset. Dan itu tidak dihargai," tegasnya.
Baca Juga: Prabowo Koreksi Desain IKN, Instruksikan Percepatan Fasilitas Legislatif dan Yudikatif Tuntas 2028
Menurut Fahri, langkah efisiensi yang diambil Presiden ini merupakan realisasi dari peringatan lama ayahandanya, Sumitro Djojohadikusumo, mengenai besarnya kebocoran ekonomi Indonesia.
Menutup pernyataannya, Fahri meminta para intelektual untuk tidak terjebak dalam kecurigaan berlebihan. Ia menjamin konstitusi Indonesia akan tetap demokratis.
"Mari kita kaum intelektual berpikir yang agak enak sedikitlah, enggak usah curiga ini akan kembali (ke otoritarianisme) atau tidak. Enggak ada yang kembali, konstitusi kita tetap konstitusi demokratis yang diakui dunia," pungkasnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
21 Ribu Warga Yogyakarta Terdampak Perubahan Desil, Wali Kota Siapkan Refocusing Anggaran
-
Doa Shin Tae-yong: Semoga Ada Solusi Terbaik buat Jakmania dan Manajemen Persija
-
Persib Bandung Wajib Waspada! Teja Paku Alam Ungkap Ancaman Serangan Balik Manila Digger
-
Bisikan Sang Ayah Bikin Agil Bangkit, Mahasiswa UT Ini Raih Podium Campus League
-
Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa
-
Kader PDIP Jadi Tersangka Kasus Intimidasi Dokter Icha di NTT, Hasto Buka Suara
-
Tangis Pecah Gus Yahya, LPJ PBNU 2021-2026 Diterima Muktamar ke-35 NU
-
Penuhi Panggilan sebagai Saksi, BPKH Tegaskan Komitmen Dukung Penegakan Hukum
-
Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Lokasi Parkir Merdeka Run 81 Tahun Indonesia Besok
-
Geger Skandal Sekpri vs Wabup Sumedang: Rumah Dinas Jadi Sorotan, Pemprov Turun Tangan