- Aktris Aurelie Moeremans mengungkap luka masa kecilnya sebagai korban child grooming melalui buku viral berjudul The Broken String.
- Psikolog menjelaskan bahwa keterlambatan korban bersuara disebabkan oleh jebakan emosional kompleks seperti trauma bonding dan intermittent reinforcement.
- Kasus ini menjadi alarm bagi industri hiburan mengenai normalisasi kekerasan dan perlunya sistem perlindungan anak yang lebih konkret.
Suara.com - Senar yang putus tidak selalu langsung terlihat rusak. Kadang ia masih tergantung di gitar, masih tampak utuh, bahkan masih dipaksa berbunyi. Tapi nadanya sumbang—dan rasa sakitnya tersembunyi. Itulah Broken String, metafora yang dipilih Aurelie Moeremans untuk menceritakan luka masa kecilnya.
Bukan sekadar kisah sedih, melainkan pengakuan tentang bagaimana seorang anak bisa dirusak perlahan, dibungkam sistem, lalu dipertanyakan saat akhirnya berani bersuara.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi Aurelie Moeremans untuk membuka pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming.
Lewat buku The Broken String yang viral, aktris yang tumbuh di industri hiburan sejak usia belia itu mengungkap relasi kuasa yang manipulatif, melukai, dan membentuk luka jangka panjang.
Pertanyaannya kemudian bergeser: mengapa korban sering terlambat bersuara?
Broken String Bukan Sekadar Kiasan Kesedihan
Dalam pengakuannya, Aurelie tidak menulis tentang satu peristiwa tunggal. Ia menulis tentang proses panjang kehilangan rasa aman, kehilangan batas, dan kehilangan suara.
Bagi penyintas child grooming, broken string bukan metafora puitis. Ia adalah deskripsi akurat tentang instrumen jiwa yang dipaksa rusak bahkan sebelum sempat berbunyi indah.
Psikolog Mira Amir menjelaskan, keterlambatan korban untuk bersuara bukan soal kurangnya keberanian. Dalam banyak kasus, korban justru berada dalam kondisi psikologis yang sangat kompleks.
Baca Juga: Diancam Sosok Bobby? Hesti Purwadinata Tak Takut Bela Aurelie Moeremans
“Child grooming ini nggak berdiri sendiri,” kata Mira.
“Nggak pernah ada satu faktor. Pasti multifaktor,” tegasnya.
Menurutnya, publik kerap menyederhanakan kasus semacam ini seolah hanya soal satu orang jahat. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks.
Relasi yang terbentuk sejak korban masih anak-anak menciptakan jebakan emosional yang tidak sederhana. Terlebih ketika pengalaman itu terjadi di usia 14–15 tahun—fase remaja yang secara psikologis belum matang, tapi sering dianggap sudah “cukup dewasa” oleh lingkungan.
“Dia mengalami itu waktu usia 14-15 tahun, itu usia remaja yang masih fase sulut dikasih tahu," ucap Mira.
Dalam kondisi seperti itu, keputusan korban tidak pernah sesederhana mau atau tidak mau.
“Kenapa Tidak Lari Saja?”
Pertanyaan ini kerap muncul, dan sering melukai. Jawabannya, bukan karena korban tidak ingin pergi. Tetapi karena secara neurologis, ia sedang diikat.
Dalam relasi kuasa yang timpang seperti yang dialami Aurelie, terjadi fenomena trauma bonding. Pelaku tidak selalu bersikap jahat. Justru sebaliknya, mereka kerap memulai dengan love bombing: perhatian berlebihan, validasi emosional, dan rasa “dipilih”.
Kekerasan lalu diselingi momen manis—pola yang dalam psikologi disebut intermittent reinforcement atau penguatan berselang. Otak korban terjebak dalam siklus harap–takut, mirip mekanisme kecanduan judi.
Korban bertahan bukan karena nyaman, tapi karena terus mengejar momen manis berikutnya.
Ketika Industri Ikut Menormalkan
Kasus Aurelie juga membuka percakapan yang lebih besar: bagaimana industri hiburan sering kali ikut menormalisasi kondisi berbahaya.
- Kultus kedewasaan dini: Artis remaja dituntut tampil matang demi peran. Batas antara profesionalisme dan eksploitasi menjadi kabur.
- Relasi kuasa yang bias: Hubungan senior–junior atau mentor–anak didik sering dianggap suci. Perhatian berlebih dari figur dewasa kerap dibaca sebagai “bimbingan”, padahal bisa menjadi tahap awal grooming.
- Bystander effect: Di lokasi syuting atau manajemen, banyak orang melihat ada yang tidak beres, tetapi memilih diam demi kelancaran produksi atau menganggapnya urusan pribadi.
Saat semua orang diam, predator merasa aman.
Ketika Korban Terlihat “Baik-Baik Saja”
Salah satu bagian paling menyakitkan dari kasus seperti ini adalah bagaimana korban sering tampak setuju, tersenyum, bahkan terlihat menjalani hidup normal.
Dalam psikologi, respons ini dikenal sebagai fawn response—upaya korban untuk menyenangkan pelaku demi meminimalisir ancaman. Bukan karena setuju, melainkan karena bertahan hidup.
Bagi publik, ini sering disalahartikan sebagai konsensus. Padahal, dalam konteks anak di bawah umur, konsensus itu tidak pernah ada.
Komisioner KPAI Dian Sasmita menegaskan, dalam relasi yang melibatkan anak dan orang dewasa, tidak ada konsep suka sama suka.
“Dalam konteks anak tidak ada juga consent. Karena anak belum cukup usia dan kematangan psikisnya,” ujarnya.
Alarm untuk Industri Hiburan
Pengakuan Aurelie seharusnya dibaca sebagai peringatan, bukan nostalgia luka. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyebut child grooming sebagai ancaman nyata yang sering terjadi secara tersembunyi—di keluarga, komunitas, pendidikan, hingga ruang digital.
Teknologi bahkan memperluas medan kejahatan ini, dari media sosial hingga gim daring.
Karena itu, perubahan tidak bisa berhenti di empati. Ia harus menjadi sistem.
Beberapa langkah konkret yang mendesak:
- Intimacy coordinator di lokasi syuting untuk menjaga batas fisik dan emosional.
- SOP perlindungan anak di manajemen artis, termasuk aturan interaksi di luar jam kerja.
- Literasi grooming bagi kru, orang tua, dan anak, agar tanda-tanda awal tidak lagi diabaikan, karena Aurelie Moeremans telah menunjukkan lukanya.
Tugas kita sekarang bukan hanya menonton, tapi memastikan tidak ada lagi anak yang dirusak oleh sistem yang memilih diam.
Bagi Mira, pengakuan Aurelie lewat Broken String seharusnya dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar kisah masa lalu.
Ia menekankan bahwa child grooming adalah akibat dari banyak faktor yang saling terkait, mulai dari keluarga, lingkungan, relasi kuasa, dan sistem yang gagal melindungi anak.
"Child grooming ini bisa jadi akibat,” kata Mira.
Dan ketika publik hanya mencari satu pihak untuk disalahkan, yang terjadi justru pengulangan kekerasan yang sama.
Mengalami Hal Serupa?
Jika kamu atau orang terdekat mengalami kekerasan terhadap anak atau perempuan, kamu tidak sendirian.
Kamu bisa menghubungi Layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA 129):
- Telepon: 129
- WhatsApp: 08111-129-129
SAPA 129 adalah hotline resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) untuk pengaduan, pendampingan, dan perlindungan korban kekerasan.
Berani bersuara memang tidak mudah. Tapi setiap suara yang didengar adalah satu senar yang tidak lagi dibiarkan putus sendirian.
Aurelie Moeremans telah membuka luka yang selama ini disimpan. Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa ia terlambat bersuara, melainkan apakah sistem, terutama industri hiburan, bersedia mendengar, belajar, dan berubah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan, RAM 6 GB Performa Jempolan
- 5 Sepatu Skechers Paling Nyaman untuk Jalan Kaki, Cocok Dipakai Lansia
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
Pilihan
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
Terkini
-
Bupati Bogor Tak Mau Tutup Mata, Rudy Susmanto Janji Telusuri Kabar Korban Jiwa di Pongkor
-
Balik Kampung Bangun Masjid Rp1 Miliar, Haji Suryo Siapkan 3.000 Loker di Lampung Timur
-
Misteri Asap di Nanggung: Video Evakuasi Viral Disebut Hoaks, Tapi Isu Korban Jiwa Terus Menguat
-
Bukan Sekadar Elektoral, Legislator Gerindra Sebut Era Prabowo Sebagai Fase Koreksi Sejarah
-
JATAM Ungkap 551 Izin Industri Ekstraktif Kepung Sumatra, Masuk Kawasan Rawan Bencana
-
Mobil Listrik Terbakar Hebat di Tol Lingkar Luar, Penyebabnya Diduga Korsleting
-
Mayat Pria Tanpa Identitas dengan Luka Lebam Mengapung di Kali Ciliwung, Korban Pembunuhan?
-
Presiden Prabowo Dukung Penuh Sasakawa Foundation Berantas Kusta di Indonesia
-
MBG Selama Ramadan Dianggap Penting Agar Nutrisi Anak Tetap Terpenuhi
-
Jejak Berdarah Pembunuh Sadis Rumania Berakhir di Bali, Diciduk Tim Gabungan di Kerobokan