- Wakil Menteri Kesehatan menyoroti tren kanker serviks ditemukan pada perempuan usia lebih muda, terutama usia 30-an.
- Beban kanker serviks di Indonesia masih tinggi, dengan 36.964 kasus dan 21.000 kematian tercatat pada tahun 2023.
- Penguatan deteksi dini melalui pemeriksaan DNA HPV sangat krusial untuk mencapai target eliminasi kanker serviks WHO 2030.
Suara.com - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyoroti tren kanker leher rahim atau kanker serviks yang kini semakin banyak ditemukan pada perempuan usia lebih muda. Temuan ini menjadi tantangan serius dalam upaya pengendalian kanker serviks di Indonesia.
“Tren itu ada ditemukan lebih muda pada usia 30-an ya, mereka yang sudah menikah dan terutama mereka yang mempunyai pasangan lebih dari satu,” kata Dante usai acara Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Menurut Dante, kondisi tersebut menjadi salah satu hambatan dalam upaya eradikasi kanker serviks secara nasional.
“Itu menjadi hambatan kita untuk melakukan eradikasi kanker serviks,” ucap Dante.
Kemenkes mencatat kalau beban kanker leher rahim di Indonesia masih tinggi. Pada 2023, tercatat ada 36.964 perempuan didiagnosis kanker leher rahim dengan lebih dari 21.000 kematian.
Tanpa penguatan intervensi, insidensi diproyeksikan meningkat lebih dari 60 persen pada 2040. Penguatan deteksi dini melalui pemeriksaan DNA HPV menjadi krusial untuk mencapai target WHO 90–70–90 Eliminasi Kanker Leher Rahim di tahun 2030.
Saat ini, kanker serviks menempati posisi kanker terbanyak kedua pada perempuan, dengan mayoritas kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.
Dante menyebut keterlambatan deteksi berdampak langsung pada tingginya angka kematian akibat kanker serviks. Ia mengungkapkan, sekitar separuh dari pasien kanker serviks meninggal dunia karena tidak menjalani skrining sejak dini.
“Jadi 50 persen di antaranya meninggal dunia karena tidak melakukan skrining. Maka kita harus melakukan skrining,” ujarnya.
Baca Juga: Sosok Benjamin Paulus Octavianus, Dokter Spesialis Paru yang Jadi Wamenkes
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- Apa Varian Tertinggi Isuzu Panther? Begini Spesifikasinya
Pilihan
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
Terkini
-
Netanyahu Disalip Babi? Merlin Babi Pintar dengan Jutaan Followers di Instagram
-
Dompet Warga AS Tercekik, Harga BBM Meroket Cepat dalam Setahun, Trump Bisa Apa?
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Nyoman Parta: Serangan Air Keras ke Aktivis HAM Alarm Bahaya bagi Demokrasi
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Resmikan Taman Bendera Pusaka, Pramono Anung Janjikan RTH Jakarta Akan Bening Seperti di Korea
-
Anies Baswedan Tulis Surat Menyentuh untuk Aktivis KontraS Korban Penyiraman Air Keras
-
Jelang Idulfitri, KPK Ingatkan ASN Tolak Gratifikasi dan Dilarang Mudik Pakai Mobil Dinas
-
Bantargebang Sudah Sesak, DPRD DKI Minta Pasar Jaya Percepat Pengolahan Sampah Mandiri
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro