- Sosiolog UGM menilai kasus kekerasan siswa di Kalbar dan Jakarta adalah gejala kegagalan sistem pendidikan otoriter negara.
- Aksi ekstrem siswa adalah "pedagogi putus asa" muncul karena minimnya ruang dialog keluarga, sekolah, dan negara.
- Paparan kekerasan melalui media sosial memperparah kondisi, diperburuk lemahnya pengawasan pemerintah terhadap akses digital anak.
Bom molotov, kata dia, merupakan manifestasi fisik dari keputusasaan tersebut.
"Jadi ada bagaimana molotov ini adalah 'pedagogi putus asa' ya. Jadi ekspresi dari pedagogi putus asa dalam bentuk bom molotov dari anak-anak kita itu, itu adalah bagian dari emosi yang di-agresikan keluar," tambahnya.
Media Sosial Memperparah
Selain faktor tekanan lingkungan, Widyanta bilang bahwa paparan kekerasan di media sosial turut memperparah situasi.
Anak-anak yang tidak memiliki pegangan nilai yang kuat dari dialog keluarga akan melakukan mimesis atau peniruan terhadap konten kekerasan yang mereka konsumsi setiap hari melalui layar digital.
"Dan cerita tentang masyarakat digital hari ini dengan sosial medianya, jangan salah, kalau sosial media itu ditonton oleh anak-anak kita, pasti mereka akan melakukan mimesis namanya, meniru apa yang dilakukan itu," tuturnya.
Kultur represif yang digabungkan dengan kultur kekerasan di media sosial membuat tindakan ekstrem muncul. Belum lagi akses anak-anak yang sangat mudah terhadap konten-konten itu.
Ia menyoroti pemerintah yang masih lemah dalam urusan pengawasan penggunaan media sosial oleh anak.
"Banyak negara sudah melarang berbagai sosial media untuk anak, sudah dilakukan di banyak negara. Indonesia ini kan selalu terlambat. Jadi paparan kultur kekerasan melalui yang direproduksi melalui sosial media, itu juga mereproduksi kekerasan yang juga dilakukan oleh anak," paparnya.
Baca Juga: Terduga Pelaku Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya Diamankan Polisi
Widyanta mengingatkan bahwa rentetan kejadian ini harus menjadi peringatan keras bagi negara dan masyarakat. Perilaku ekstrem siswa saat ini adalah sinyal bahwa generasi muda sedang berada dalam kondisi psikologis yang sangat rapuh akibat pengabaian yang berkepanjangan.
"Jadi ini betul-betul alarm keras, fenomena-fenomena yang terjadi dengan anak-anak kita ini adalah bentuk keletihan dan sekaligus kepanikan," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Lempar Bom ke Sekolah, Siswa SMP di Kubu Raya Ternyata Terpapar TCC dan Jadi Korban Perundungan
-
Bom Molotov Meledak di SMPN 3 Sungai Raya, Polisi Ungkap Terduga Pelaku Siswa Kelas IX
-
Terduga Pelaku Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya Diamankan Polisi
-
Geger! Bom Molotov Dilempar ke Sekolah di Kubu Raya
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Gus Ipul Serukan Gerakan Peduli Tetangga, Perkuat Data Lindungi Warga Rentan
-
Sudah Tiba di Jakarta, PM Australia Segera Bertemu Prabowo di Istana
-
Gus Ipul dan Kepala Daerah Komitmen Buka 8 Sekolah Rakyat Baru
-
RS Tolak Pasien karena JKN Nonaktif, Mensos Gus Ipul: Mestinya Disanksi BPJS, Tutup Rumah Sakitnya
-
Mensos Gus Ipul: RS Tak Boleh Tolak Pasien BPJS Penerima Bantuan Iuran
-
Wamendagri Wiyagus Lepas Praja IPDN Gelombang II, Percepat Pemulihan Pascabencana Aceh Tamiang
-
Kasatgas PRR Ingatkan Pemda yang Lambat Kirim Data Penerima Bantuan Bencana
-
Satgas PRR Resmikan Huntara di Tapanuli Selatan dan Tujuh Kabupaten Lain Secara Serempak
-
Kasus Tragis Anak di Ngada NTT, Pakar Sebut Kegagalan Sistem Deteksi Dini dan Layanan Sosial
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!