- Budayawan senior Eros Djarot menyatakan keprihatinan atas disorientasi nilai serius dalam politik dan hukum Indonesia.
- Eros Djarot menilai substansi hukum telah hilang, digantikan penegakan kepentingan demi pihak dekat kekuasaan.
- Sebagai tokoh reformasi, Eros kecewa karena cita-cita negara yang lebih baik setelah Orde Baru dikhianati.
Suara.com - Budayawan senior Eros Djarot menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi sosial, politik, dan hukum di Indonesia saat ini.
Dalam sebuah dialog di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Eros menyebut Indonesia tengah mengalami disorientasi nilai yang serius, di mana kepentingan kekuasaan telah melumatkan supremasi hukum dan etika bernegara.
Eros mengibaratkan pondasi negara saat ini sedang dalam kondisi "bobrok". Menurutnya, perbaikan yang dilakukan pemerintah selama ini hanyalah bersifat kosmetik.
"Pondasi yang bobrok itu dipertahankan…Hanya dicat lebih bagus, tapi berfungsi yang sama," ujar Eros, dikutip Senin (23/2/2026).
Hukum yang "Dibeli" dan Penegakan Kepentingan
Terkait penegakan hukum, Eros secara blak-blakan menyatakan bahwa substansi hukum di Indonesia sudah hilang, digantikan oleh "penegakan kepentingan".
Ia menyoroti fenomena makelar kasus yang mampu menyimpan uang triliunan rupiah serta tumpulnya hukum bagi pihak yang dekat dengan kekuasaan.
"Hukum kita sudah dibeli. Penegakan hukum itu performanya ada, tapi substansinya tidak ada. Siapa pun yang dekat kekuasaan tidak jadi masalah, bahkan bisa jadi menteri," tegasnya.
Eros juga mengkritik fenomena intellectually corrupt di kalangan penegak hukum dan pemikir hukum yang menurutnya lebih memilih mengamankan kepentingan penguasa daripada menegakkan keadilan bagi rakyat kecil.
Baca Juga: Eros Djarot: Indonesia Terjebak Lingkaran Setan, Fondasi Bangsa Bobrok!
Kekecewaan Pasca-Reformasi
Sebagai tokoh yang ikut berjuang dalam gerakan Reformasi, Eros mengaku tidak bahagia melihat kondisi Indonesia saat ini. Ia merasa impiannya tentang Indonesia yang lebih baik pasca-Orde Baru justru menjauh.
"Lho saya termasuk tidak bahagia karena apa? Impian saya tentang Indonesia nggak seperti itu. Waktu saya membebaskan ya dari cengkeraman Orde Baru waktu itu nggak seperti ini bayangannya,” ujarnya
Ia merasa cita-cita reformasi yang ia perjuangkan dahulu telah dikhianati oleh sistem politik yang kini didominasi oleh kekuatan uang dan cukong.
"Begitu keluar rumah tidak bahagia lagi, melihat is this my people? this is my country? gitu kok kayak begini gitu lho ya…itu namanya values ya. Jadi kalau nation without values mau jadi apa gitu loh kan harus ada patokan-patokannya," katanya.
Kekecewaan Eros semakin mendalam saat melihat kondisi guru honorer yang hanya dibayar Rp300 ribu per bulan, sementara para makelar kasus di yudikatif bisa menyimpan uang triliunan di rumahnya.
“Bagaimana seorang penyedia makanan yang itu tuh lebih berharga pada guru-guru honorer…di daerah tuh ada ya guru yang dibayar tuh aduh 300.000 satu bulan,” pungkasnya. (Dinda Pramesti K)
Berita Terkait
-
Eros Djarot: Indonesia Terjebak Lingkaran Setan, Fondasi Bangsa Bobrok!
-
DeepTalk Podcast: Hukum Acara Jadi Benteng atau Alat Kekuasaan? Tonton Analisis Tajam Feri Amsari
-
Aksi 'Karaoke WNI Mumet' di Jogja: Suara Rakyat yang Sudah 'Lelah' ke Pemerintah
-
Di Balik Kekuasaan: Cara Psikologi Sosial Membentuk Wajah Politik Indonesia
-
Feri Amsari Curiga Banyak Kasus Korupsi Dimunculkan oleh Kekuasaan
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Audiensi 7 Pemda, Wamensos Agus Jabo Tekankan Dinsos Ujung Tombak Pemutakhiran Data
-
Ketua IDAI Yakin Mutasi dari RSCM ke RS Fatmawati adalah Hukuman karena Kritis ke Pemerintah?
-
Bukan Cuma Partai di Senayan, Komisi II DPR Bakal Libatkan Partai Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu
-
Eros Djarot: Indonesia Terjebak Lingkaran Setan, Fondasi Bangsa Bobrok!
-
KPK Bicara Soal Potensi PT Bluray Jadi Tersangka Korporasi dalam Kasus Bea Cukai
-
Solidaritas Dokter Menguat, IDAI Tuntut Kemenkes Batalkan Mutasi dan Pemecatan Dokter Piprim dkk
-
SBY: Sinyal Perang Dunia Ketiga Menguat, Indonesia Harus Siaga Tempur!
-
Tragedi IMIP Pasca Longsor, Anggota DPR Desak Audit Total DAS: Jangan Tunggu Korban Berikutnya!
-
Wanti-wanti PDIP Usai Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS: Jangan Korbankan UMKM
-
Para Menteri, BPJS, BPS Duduk Bersama Bahas Transisi PBI