- Ekonom UGM, Rimawan Pradiptyo, mengingatkan pemerintah Indonesia waspada dampak konflik Timur Tengah yang diperkirakan berlangsung lama.
- Konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu suplai energi minyak dan sektor jasa keagamaan seperti bisnis haji dan umrah.
- Pemerintah harus segera realokasi anggaran, prioritaskan kebutuhan mendesak, dan kurangi belanja program populis.
Suara.com - Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rimawan Pradiptyo, memperingatkan pemerintah Indonesia untuk bersiap menghadapi dampak panjang dari eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei serta serangan balasan yang menyasar berbagai instalasi di negara-negara Teluk menandakan bahwa krisis ini tidak akan selesai dalam waktu singkat.
"Ini eskalasinya akan tinggi. Kalau kita lihat dari track record perang Irak-Iran itu negara yang bisa perang 10 tahun, harus diingat. Jadi ini, ini bukan hal yang sesimpel yang akan kita bayangkan," kata Rimawan ditemui di UGM, Senin (2/3/2026).
Rimawan melihat potensi gangguan suplai energi hingga sektor jasa keagamaan dapat menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional.
"Ya salah satunya pasti masalah suplai minyak yang akan terganggu. Itu satu hal yang pasti. Kemudian juga tentunya bisnis haji, bisnis umrah dan lain sebagainya tentunya akan terpengaruh ya," tuturnya.
Terkait kebijakan energi, Rimawan menyoroti tantangan fiskal jika Indonesia harus mencari alternatif sumber minyak di luar Singapura dan Timur Tengah.
Lebih lanjut, ia mendorong pemerintah untuk berani mengambil langkah ekstrem dalam mengelola anggaran negara. Mengingat penerimaan negara yang belum optimal.
Pemerintah didorong untuk memprioritaskan kebutuhan mendesak di atas agenda politik.
"Jadi harus dipikirkan yang harus kita pikirkan sekarang adalah kebijakan yang diperlukan itu apa sih sebenarnya? Bukan yang menjadi agenda politik. Kita sudah lupakan itu agenda janji politik di masa lalu seharusnya harus diganti karena situasinya sudah berbeda sekarang," tegasnya.
Baca Juga: Ancaman Perang Total: Adu Rudal Israel-Hizbullah Pasca-Serangan Iran
Rimawan menilai bahwa fenomena misalokasi sumber daya atau misallocation of resources masih menjadi persoalan serius di Indonesia.
Oleh karena itu, langkah realokasi anggaran menjadi sangat krusial terlebih dalam situasi perang sekarang. Sehingga program pemerintah lebih tepat sasaran di tengah ancaman kontraksi ekonomi global.
"Jadi yang harus dilakukan pemerintah itu justru mundur balik lihat situasinya kayak apa, evaluasi lagi atau kemudian kita mencoba merealokasi agar lebih tepat sasaran," ujarnya.
Terkait dengan program-program pemerintah yang perlu dievaluasi, Rimawan menyatakan masih sesuai dengan rekomendasi dari Aliansi Ekonom Indonesia beberapa waktu lalu.
Dalam hal ini yakni untuk perbaikan APBN dengan mengurangi porsi belanja program populis yang mencapai Rp 1.414 triliun atau sekitar 37,4 persen dari APBN 2026.
Adapun program-program yang disoroti untuk dikurangi porsinya meliputi Makan Bergizi Gratis (MBG), hilirisasi, subsidi energi, hingga Koperasi Desa Merah Putih.
Berita Terkait
-
Ancaman Perang Total: Adu Rudal Israel-Hizbullah Pasca-Serangan Iran
-
Iran Tutup Pintu Dialog, Ali Larijani Tegaskan Tak akan Bernegosiasi dengan Amerika Serikat
-
Prabowo Ingin Jadi Mediator Konflik Iran-AS, Pengamat UGM: Siapa yang Mau Percaya?
-
24 Jam Menegangkan! Cerita Eks Barcelona Berpacu dengan Waktu Tinggalkan Iran
-
Lolos dari Maut, Pesawat Raisa Terbang 1 Jam Sebelum Bandara Dubai Dirudal
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Bumi Diprediksi Makin Panas hingga 2030, Sudah Cukupkah Upaya Mitigasinya?
-
Prabowo Prediksi akan Ada Perlawanan dari Kelompok Tak Cinta Tanah Air
-
Prabowo: Ekonomi Indonesia Tak Boleh Hanya Menguntungkan Segelintir Orang
-
Prabowo: Ekonomi Indonesia Memang Tumbuh, Tapi Apa Sudah Merata dan Adil?
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
NASA Siapkan ' Buruh Robot' Masa Depan: Kecerdasan Buatan dan Drone Bakal Bangun Pangkalan di Bulan
-
Jokowi 'Dilupakan' Tanpa Undangan, Hari Lahir Pancasila Jadi Panggung Keakraban Prabowo-Megawati
-
PDIP: Sikap Kritis adalah Cermin Cinta Tanah Air, Tak Bisa Dihadapi dengan Represi
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Hasto Soroti Pelemahan Rupiah dan Defisit Fiskal: Utang Dibayar dengan Utang