- Diskusi JATAM pada 13/3/2026 mengungkap ancaman kekerasan terhadap perempuan di lingkar tambang Dairi dan Halmahera.
- Perempuan Dairi menolak PT DPM demi menyelamatkan sumber mata air dan kemandirian pangan desa mereka dari dampak lingkungan.
- Pejuang Halmahera, Rifya, dikriminalisasi setelah melakukan ritual dan bentrok fisik melawan ancaman perusahaan ekstraktif.
Suara.com - Perlawanan terhadap industri ekstraktif di berbagai pelosok Indonesia terus membara dengan perempuan berada di garis terdepan.
Dalam diskusi publik bertajuk "Perempuan di Lingkar Tambang Terus Mengalami Kekerasan" yang digelar Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) pada Jumat (13/3/2026), terungkap kisah-kisah heroik sekaligus pilu dari para perempuan di lingkar tambang ini, mulai dari pegunungan Dairi di Sumatera Utara hingga pesisir Halmahera di Maluku Utara.
Dua sosok menonjol dalam diskusi tersebut adalah Tioman Simangunsong dari Dairi dan Rifya dari Sekolah Perempuan Pesisir Halmahera.
Keduanya memaparkan bagaimana tubuh, ruang hidup, hingga kedaulatan mereka terancam oleh ekspansi pertambangan yang kian agresif meskipun telah ada putusan hukum maupun penolakan masif dari warga.
Tioman: Dairi Adalah Rumah Terindah Kami
Di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Tioman Simangunsong bersama para perempuan lingkar tambang lainnya sedang bersiaga. Meski izin lingkungan PT Dairi Prima Mineral (DPM) sempat dicabut pada Mei 2025, perusahaan tersebut dikabarkan tengah gencar mengupayakan izin baru.
Tioman menegaskan bahwa warga tidak akan tinggal diam. Saat ini, mereka tengah bergerilya mengumpulkan petisi sebagai bentuk penolakan nyata.
"Kami tetap melawan, dan sekarang kami lagi di desa kami sekarang mengambil petisi. Kami sudah banyak yang kami lakukan dari warga Dairi, kami sudah sampai ke KLHK, sudah aksi, sudah demo," ujar Tioman dengan nada tegas.
Ketakutan utama warga adalah hilangnya sumber mata air yang menjadi urat nadi kehidupan tujuh desa dan satu kelurahan. Jarak sumber air tersebut hanya berkisar 270 meter dari portal tambang. Pengalaman pahit masa lalu pada tahun 2012 dan 2018 menjadi trauma yang belum sembuh.
Baca Juga: Usai Lahan Disegel, Satgas PKH Mulai Hitung Denda Pelanggaran PT Mineral Trobos!
"Tahun 2012 waktu eksplorasi, itu ikan-ikan di Desa Bongkaras itu dan padinya pada mati semua waktu itu bocor limbah. Dan tahun 2018 waktu banjir bandang ada korban dari desa itu dan dua orang sampai sekarang nggak dapat," kenangnya pilu.
Akibat kerusakan lingkungan tersebut, kemandirian pangan warga runtuh.
"Sesudah banjir bandang udah susahlah... dulu kami nggak pernah beli beras, cukup dari ladang kami masing-masing tapi sekarang kami sudah beli beras dari luar."
Bagi Tioman dan perempuan Dairi lainnya, perjuangan ini bukan sekadar soal ekonomi, melainkan soal harga diri dan rumah.
"Kami berjuang untuk menyelamatkan kampung kami, karena kampung kami ini adalah rumah terindah kami. Kami tidak mau dihancurkan rumah kami ini."
Rifya: Ritual Leluhur dan Kriminalisasi di Halmahera
Berita Terkait
-
Usai Lahan Disegel, Satgas PKH Mulai Hitung Denda Pelanggaran PT Mineral Trobos!
-
Tak Hanya Tambang, Aktivitas Emiten AMMN Kontribusi Rp 173 Triliun ke PDB
-
PDIP Soroti 800 Lubang Tambang Terbengkalai di Kalsel, Sudah Telan 20 Korban Jiwa
-
Pemerintah Diminta Jelaskan Status Tambang Emas Martabe
-
Kronologi Situs Megalit 1.000 Tahun di Poso Rusak Parah Akibat Aktivitas Tambang
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123
-
BRI dan Kementerian UMKM Perkuat Pembiayaan KUR, Dorong UMKM Bandung Naik Kelas