-
Iran menggunakan drone Shahed-136 murah untuk menguras anggaran militer triliunan rupiah milik Amerika.
-
Biaya perang Amerika Serikat melawan Iran diperkirakan mencapai Rp33 triliun dalam satu hari.
-
Strategi perang atrisi Iran terbukti efektif menciptakan kerugian ekonomi besar bagi pihak lawan.
Suara.com - Konflik perang yang melibatkan kekuatan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini telah memasuki pekan kedua.
Hingga kini, intensitas pertempuran di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Fenomena menarik muncul ketika Teheran mengandalkan teknologi pesawat tanpa awak yang ekonomis namun sangat mematikan.
Penggunaan drone bernama Shahed ini dilaporkan sukses memicu kepanikan luar biasa bagi pihak Washington dan Tel Aviv.
Data menunjukkan bahwa Iran telah mengoperasikan lebih dari 2.000 unit drone Shahed-136 untuk mengacaukan pertahanan lawan.
Target serangan drone ini mencakup aset vital seperti kantor kedutaan besar Amerika Serikat di Timur Tengah.
Fasilitas radar, infrastruktur bandara, hingga gedung pencakar langit milik sekutu juga tidak luput dari gempuran.
Situasi ini menjadi kejutan besar bagi AS dan Israel yang sebelumnya hanya bersiap menghadapi rudal konvensional.
Para pakar militer menilai pengerahan Shahed merupakan taktik cerdas untuk melemahkan kekuatan musuh secara perlahan.
Baca Juga: Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
Produksi drone yang masif dan murah ini terbukti mampu menguras sumber daya militer milik Amerika Serikat.
Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Dan Caine mengatakan dalam sebuah pengarahan bahwa kendaraan nirawak Iran merupakan "ancaman" nyata bagi Washington.
Drone-drone itu, kata Caine, telah menjadi target efektif sistem pertahanan udara AS, yang menurutnya berhasil melawan mereka.
Namun bagi banyak pengamat, klaim keberhasilan Caine tersebut bukanlah sebuah prestasi yang patut untuk dibanggakan.
Sistem pertahanan udara Amerika yang sangat mahal justru terpaksa digunakan hanya untuk merontokkan drone berharga rendah.
Ketimpangan harga antara senjata penangkis dan objek yang diserang menciptakan kerugian ekonomi yang sangat signifikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim