- Seorang pemudik bernama Yunita dari Cibubur mengalami penipuan pada Senin (16/3/2026), kehilangan tiket, ponsel, dan dompet saat akan mudik ke Cilacap.
- Meskipun menjadi korban penipuan, Yunita tetap bertekad melanjutkan perjalanan mudiknya pada Selasa (17/3/2026) menggunakan jasa travel.
- Harapan utama Yunita saat mudik H-4 Lebaran adalah bertemu orang tua dan keluarga, mengutamakan kebersamaan daripada harta benda yang hilang.
Suara.com - Di tengah hiruk-pikuk Terminal Kampung Rambutan yang memadat, Selasa (17/3/2026) siang, hawa panas menyengat seolah tak dirasakan oleh ribuan pemudik.
Di antara tumpukan tas-tas besar dan pemandangan anak-anak yang terlelap lelah di pangkuan orang tuanya, seorang wanita terduduk dengan raut wajah yang menyimpan ketegaran sekaligus sisa kelelahan yang mendalam.
Seorang perantau asal Cilacap, Yunita, yang sehari-harinya mengadu nasib di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Hari ini seharusnya menjadi hari keduanya berada di kampung halaman. Namun, takdir berkata lain. Garis nasib mengujinya tepat di ambang pintu keberangkatan.
Sehari sebelumnya, Senin (16/3/2026), niat tulus Yunita untuk pulang lebih awal berujung duka. Ia menjadi korban penipuan. Dalam sekejap, tiket perjalanan, ponsel, hingga dompet berisi uang hasil keringatnya raib dibawa lari orang tak dikenal. Impian untuk segera memeluk orang tua nyaris padam saat itu juga.
"Harusnya berangkat kemarin, tapi kemarin saya kena tipu, tiket, hp, dompet ilang," ujar Yunita saat ditemui di lokasi, Selasa (17/3/2026).
Meski sempat terguncang dan harus mengurus kehilangan segala hartanya, Yunita menolak untuk menyerah pada keadaan. Bagi Yunita, Lebaran bukan soal apa yang ia bawa di kantong, melainkan tentang siapa yang menunggunya di ujung jalan.
Setelah mengurus segala administrasi kehilangan, ia membulatkan tekad untuk tetap pulang. Kali ini, ia memilih menggunakan jasa travel demi memastikan dirinya sampai ke Cilacap dengan lebih aman.
Keputusannya untuk mudik pada H-4 Lebaran Idul Fitri 1447 H ini memang telah direncanakan sejak lama. Sebagai pekerja di ibu kota, waktu libur adalah barang mewah yang harus ia manfaatkan sebaik mungkin.
"Biasanya pulangnya H-2 atau H-3, ini paling cepat H-4 supaya bisa lebih lama mendekati Lebaran," ujarnya.
Baca Juga: Gandeng BUMN, Peruri Lepas 13 Bus Mudik Gratis Menuju Semarang, Yogya, hingga Solo
Jarak tempuh 7 hingga 8 jam perjalanan dari Jakarta menuju Cilacap bukanlah waktu yang singkat, apalagi jika kemacetan mulai menyergap jalur selatan.
Namun, bayangan akan wajah orang tua dan hangatnya suasana kumpul keluarga menjadi bahan bakar yang membuatnya tetap bertahan di tengah teriknya Terminal Kampung Rambutan.
Saat ditanya apa yang paling ia rindukan dari kota kelahirannya, matanya tampak berbinar kecil. Bukan sekadar menu wajib seperti opor atau ketupat khas Lebaran yang ia cari, melainkan kehadiran sosok orang tua yang tak tergantikan oleh apa pun.
"Yang dikangenin terutama ya orang tua sih pastinya, terus kumpul bersama keluarga," tambahnya.
Meski sempat terlihat bingung dan terdiam saat ditanya mengenai harapannya di mudik tahun ini—mungkin karena rasa lelah dan trauma yang belum sepenuhnya hilang—tersirat jelas dari kegigihannya bahwa harapan terbesar Yunita hanyalah satu: sampai di rumah dengan selamat.
Kisah Yunita adalah potret nyata dari jutaan pemudik lainnya. Di balik tumpukan kardus dan tas-tas besar yang memenuhi terminal, ada perjuangan, keringat, dan terkadang air mata.
Bagi Yunita, kehilangan materi memang menyakitkan, namun kehilangan momen bersimpuh di kaki orang tua di hari raya adalah kerugian yang tak sanggup ia tanggung.
Siang menuju sore hari itu, di bawah langit Jakarta yang masih cerah, Yunita masih menunggu. Menunggu armada yang akan membawanya pulang, membawa sisa asanya menuju Cilacap, demi sebuah perayaan kemenangan bersama keluarga tercinta.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Gandeng BUMN, Peruri Lepas 13 Bus Mudik Gratis Menuju Semarang, Yogya, hingga Solo
-
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 di Tol Jogja-Solo Diprediksi 18 Maret
-
Wajib Cek! Ini Daftar Persiapan Krusial Sebelum Anda Mulai Perjalanan Mudik
-
Kisah 'Militan' 10 Rekan Sekantor Kompak 'War' Tiket Demi Mudik Berjamaah ke Semarang
-
4 Juta Warga DKI Tak Mudik, Kemenpar Dorong Tren Mudik ke Jakarta Saat Libur Lebaran
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
PDIP Bongkar Taktik PSI: Bajak Kader demi Besar Instan, Urusan Jokowi Selesai!
-
Selat Hormuz Dibuka Jumat, Pengusaha Kapal Masih Takut Kena Rudal Iran
-
Alasan Tamu Negara Selalu Diajak Berkeliling Istiqlal dan Katedral
-
Donald Trump Kemungkinan Rilis Isi Perjanjian Perdamaian AS - Iran Akhir Pekan Ini
-
Bos Maktour Fuad Hasan Mangkir Lagi di Kasus Haji, KPK: Mana Bukti Medis Kalau Sedang Sakit?
-
Rangkuman Hal Penting Perdamaian Perang Amerika Serikat dan Iran, Apa Saja yang Harus Dipahami?
-
'Saya Memang Tukang Lapor!' Firdaus Oiwobo Polisikan Tyo Eks Ketua BEM UGM Usai Kritik Prabowo
-
Kecelakaan Pesawat Militer AS B-52 Stratofortress, 8 Orang Awak Tewas
-
Bongkar Alasan Geruduk Menteri, SEMA UGM: Mereka Banyak Mengibul dan Khianati Rakyat!
-
Dipukul dan Dilempar Air saat Diskusi UGM Ricuh, Sudaryono: Kami Tidak Kabur, Malah Duduk di Aspal!