- Pemimpin Iran baru, Mojtaba Khamenei, mengajukan tiga tuntutan mustahil kepada AS melalui jalur diplomatik Swiss pada Maret 2026.
- Tuntutan tersebut meliputi penarikan total pasukan AS dari Arab, pencabutan sanksi 1979, dan pembayaran ganti rugi $500 miliar.
- AS menghadapi dilema strategis; perang darat diperkirakan biaya $3 triliun dan 15.000 korban jiwa, di tengah dugaan Iran memiliki nuklir.
Suara.com - Eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru yang mengejutkan. Alih-alih meredup pasca-meninggalnya Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, justru meluncurkan ultimatum keras yang membuat Gedung Putih kelimpungan.
Dalam kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, wartawan senior sekaligus pengamat hubungan internasional, Pitan Daslani, mengungkapkan bocoran teks pidato 12 menit Mojtaba Khamenei yang dikirim melalui jalur diplomatik Swiss ke Washington.
Pitan menyebut Mojtaba bukan hanya sekadar pemimpin pengganti, melainkan otak strategi di balik layar selama bertahun-tahun. Dalam pidatonya, Mojtaba menguraikan tiga tuntutan mustahil yang ia sebut sebagai penebusan "dosa-dosa" Amerika.
"Tiga tuntutan dia berikan. Satu, Amerika harus tarik semua pasukan di semua negara Arab... Ada 52.000 tentara Amerika di kawasan itu," ujar Pitan dalam wawancara tersebut, dikutip Rabu (18/3/2026).
Tuntutan kedua adalah pencabutan total sanksi ekonomi sejak 1979 yang mencakup 30.000 objek ekonomi. Namun, yang paling mengejutkan adalah tuntutan ketiga: Amerika diwajibkan membayar ganti rugi atas kerugian ekonomi Iran selama puluhan tahun.
"Bayar ganti rugi! Karena dalam kalkulasi dia, sejak '79 sampai sekarang Iran seharusnya sudah mendapat penghasilan 800 miliar dolar. Tapi gara-gara ada sanksi ini maka tidak bisa dapat penghasilan itu. Karena itu dia bilang sekarang jangan 800 dulu, bayar 500 miliar dolar (sekitar Rp7.700 triliun) dalam 10 tahun, dicicil," ungkap Pitan.
Dilema Amerika: Perang Darat yang 'Mustahil'
Tuntutan berani ini dilaporkan membuat Presiden Donald Trump segera mengumpulkan petinggi keamanan di Situation Room Gedung Putih, termasuk Wapres J.D. Vance dan Menlu Marco Rubio. Namun, AS kini terjepit dalam simulasi perang yang mengerikan.
Bocoran analisis Pentagon yang dikutip Pitan menunjukkan bahwa untuk menggulingkan rezim Iran, AS harus menerjunkan pasukan darat. Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak main-main.
"Perang darat dan harus berperang paling sedikit 18 bulan di situ. Dan akan menelan biaya atau ongkos perang itu 3 triliun dolar (sekitar Rp46.000 triliun)... Dan berpotensi akan menewaskan 15.000 tentara Amerika karena tidak tahu medan," jelas Pitan.
Baca Juga: Profil Lengkap Ali Larijani: Akademisi, Jenderal, Negosiator Nuklir, dan Penjaga Revolusi Iran
Kondisi ini diperparah dengan dugaan kuat bahwa Iran telah memiliki senjata nuklir yang siap digunakan jika mereka terdesak. Kepercayaan diri Iran ini terlihat dari pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, saat ditanya mengenai potensi invasi darat AS.
"Makanya waktu itu Menlu Iran bilang, 'Kami sedang menunggu kedatangannya'. Lihat bagaimana dia tampil... Sangat percaya diri," kata Pitan menirukan tantangan dari pihak Teheran.
Pitan menilai keberanian ini memicu spekulasi di Amerika Serikat bahwa Iran mungkin telah memiliki kartu as yang selama ini disembunyikan.
"Rupanya setelah pidato itu Amerika jadi berpikir, 'Oh berarti dia punya nuklir dong? Selama ini dia bohongin kita nih. Katanya belum punya ternyata berarti dia punya makanya dia berani gertak ancam seperti itu," pungkasnya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Profil Lengkap Ali Larijani: Akademisi, Jenderal, Negosiator Nuklir, dan Penjaga Revolusi Iran
-
Dubes Iran Buka Donasi untuk Korban Perang, Apresiasi Dukungan Indonesia
-
Stok AS Hadang Reli Minyak Mentah Dunia
-
Wasiat Politik Ali Larijani untuk Negara-negara Arab: Islam Macam Apa Kalian Ini...
-
FIFA Tolak Permintaan Iran Pindah Venue Piala Dunia 2026 dari AS ke Meksiko
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Aksi Copet di Tengah Zikir Monas: iPhone 13 Wartawan dan Dompet Jemaah Lenyap
-
Danantara Akui Banyak Masalah Luar Biasa Besar di BUMN, Janji Bereskan Utang Kereta Cepat
-
Satu Tahun Sekolah Rakyat, Ratusan Siswa Torehkan Prestasi
-
Taruna Bhakti Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Gus Ipul: Jadi Fondasi Bentuk Karakter Siswa
-
Apa Arti Kota Global Jika Betawi Kehilangan Akar? FBR Tagih Pergub Lembaga Adat ke Pramono
-
Danantara: Seluruh BUMN Properti Dalam Kondisi Tidak Baik, Akan Dikonsolidasikan
-
Kesukseskan Pemberantasan Judol Tak Hanya dari Turunnya Nominal Transaksi
-
Dukung Program Prioritas Presiden, Mendagri Tito Groundbreaking Sekolah Rakyat Kabupaten Biak Numfor
-
Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan 1 hingga 31 Agustus 2026 di Riau
-
Aston Villa Bungkam Indonesia All Stars 3-1 di GBK, Arkhan Kaka Cetak Gol Penghibur