- Haedar Nashir ajak masyarakat tidak peruncing perbedaan penetapan hari raya Idulfitri.
- Muhammadiyah dorong pembentukan kalender Islam global tunggal sesuai Konsensus Turki 2016.
- Tokoh agama diminta jaga suasana kondusif dan beri teladan persatuan bangsa.
Suara.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengimbau masyarakat untuk tidak memperuncing perbedaan dalam penetapan Idulfitri. Ia menegaskan bahwa perbedaan metode merupakan hal yang lumrah dan tidak sepatutnya menjadi alasan untuk saling menyalahkan.
"Kita tidak perlu mempertajam perbedaan. Pertama, karena kita sudah terbiasa dengan perbedaan ini. Kedua, tidak perlu mencari argumen untuk membenarkan diri sendiri sembari menghakimi pihak lain yang berbeda pandangan," ujar Haedar usai melaksanakan shalat Idulfitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (20/3/2026).
Haedar berpesan kepada para tokoh agama agar menjaga kondusivitas melalui pernyataan yang menyejukkan. Menurutnya, menjaga kekhusyukan ibadah serta persaudaraan jauh lebih utama daripada terjebak dalam ego sektoral.
"Para tokoh agama sebaiknya menghindari ujaran yang dapat memperkeruh suasana di masyarakat. Mari jalani Idulfitri dengan khusyuk guna memupuk kesalehan jiwa dan pikiran," tambahnya.
Ia juga meminta para elite nasional untuk menjadi uswatun hasanah atau teladan dalam menjaga persatuan, perdamaian, serta kemajuan bangsa.
Visi Kalender Islam Global Tunggal
Meskipun mengapresiasi kedewasaan bangsa Indonesia dalam menyikapi perbedaan, Haedar menaruh harapan besar pada terwujudnya kalender Islam global tunggal sebagai solusi jangka panjang bagi umat Muslim di seluruh dunia.
"Harapannya ke depan, dunia Islam memiliki kalender global tunggal agar tidak terus terjadi perbedaan. Kita bisa merujuk pada Konsensus Turki tahun 2016," tuturnya.
Visi besar ini, menurut Haedar, memerlukan dialog terbuka dengan pikiran jernih serta didasari oleh penguasaan ilmu pengetahuan yang mumpuni.
Baca Juga: 15 Ucapan Selamat Lebaran 2026 yang Sopan untuk Kolega dan Kenalan
Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah melalui Tim Tarjih telah aktif melakukan kajian dan diskusi selama satu tahun terakhir sebagai bentuk komitmen menjalankan konsensus internasional tersebut. Ia mengibaratkan kesatuan kalender ini selayaknya pelaksanaan shalat Jumat secara global.
"Ibarat shalat Jumat, harinya sama dan tanggalnya sama di seluruh dunia Islam, hanya jam pelaksanaannya saja yang menyesuaikan zona waktu masing-masing," pungkas Haedar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- 15 Tulisan Kata-kata Unik Mudik Lebaran, Lucu dan Relate untuk Anak Rantau
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
Pilihan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
-
Link Live Streaming Liverpool vs Galatasaray: Pantang Terpeleset The Reds!
-
Israel Klaim Tewaskan Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib
Terkini
-
Respons Dinamika Timur Tengah, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Strategis Penghematan Energi
-
Prabowo Pangkas Anggaran 'Akal-akalan' Rp308 Triliun: Jika Tak Dipotong, Ini ke Arah Korupsi
-
BNI Hadirkan Agen46 di Jalur Mudik, Permudah Transaksi Pemudik
-
Sentil Pejabat Daerah, Prabowo: Saya Presiden Pakai Mobil Rp1 Miliar, Gubernur Beli Rp8 Miliar
-
Tak Penuhi Standar, Presiden Prabowo Tangguhkan 1.030 Dapur Makan Bergizi Gratis
-
Lepas 1.431 Pekerja Panasonic dalam Program Mudik, Menaker Minta Perusahaan Manusiakan Pekerjanya
-
Libur Panjang, Posko THR Kemnaker Tetap Siaga Tangani Aduan Pekerja
-
Jemaah Muhammadiyah Padati Menteng Raya Tunaikan Salat Idulfitri 1447 H
-
Haris Azhar Soroti Kejanggalan Penahanan Prajurit oleh Puspom TNI dalam Kasus Andrie Yunus
-
Gedung Putih Tak Pasang Target Akhiri Perang Iran, Minta Dana Tambahan Rp3.394 Triliun