- Presiden AS Donald Trump akan memberlakukan tarif 25 persen bagi kendaraan Uni Eropa mulai pekan ini.
- Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai kebijakan tersebut merupakan pukulan bagi Eropa akibat lambatnya realisasi kesepakatan dagang.
- Merz berencana membahas isu konflik perdagangan ini dengan Trump pada pertemuan G7 dan KTT NATO mendatang.
Suara.com - Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut tarif baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pukulan bagi seluruh Eropa.
Sebelumnya, Trump mengumumkan rencana untuk memberlakukan tarif sebesar 25 persen terhadap mobil dan truk dari Uni Eropa mulai pekan ini, dengan alasan Uni Eropa gagal memenuhi kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat.
Namun, Merz tetap berharap konflik perdagangan tersebut dapat segera diselesaikan.
"Ia (Trump) ingin memberikan pukulan kepada seluruh Eropa,” kata Merz dalam wawancara dengan stasiun penyiaran ARD melansir ANTARA, Senin (4/5/2026).
Namun demikian, Kanselir Jerman itu menegaskan bahwa dirinya tidak ingin melebih-lebihkan situasi terkait tarif baru tersebut, dengan menjelaskan bahwa Trump memiliki alasan tersendiri dalam mengumumkan kebijakan itu.
“Saya kira ia mulai kehilangan kesabaran, karena kami telah mencapai kesepakatan bea cukai dengan Amerika pada Agustus tahun lalu,” ujar Merz.
Ia menambahkan bahwa hingga saat ini Uni Eropa belum menandatangani kesepakatan tersebut dan terus mengajukan syarat baru.
“Pihak Amerika sudah siap, tetapi pihak Eropa belum, dan saya berharap kita dapat mencapai kesepakatan secepatnya,” lanjutnya.
Merz mengatakan bahwa dirinya akan memiliki sejumlah kesempatan untuk membahas isu tersebut secara langsung dengan Trump tahun ini, termasuk dalam pertemuan G7 di Prancis pada Juni dan KTT Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Turki pada Juli.
Baca Juga: Gegara Cuitan Trump, Iran Peringatkan AS: Jangan Berani Sentuh Selat Hormuz!
Hubungan perdagangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir tetap tegang. Washington sebelumnya memberlakukan tarif terhadap baja dan aluminium asal Eropa, yang kemudian dibalas dengan langkah serupa oleh Uni Eropa.
Kedua pihak sempat sepakat untuk melonggarkan sebagian pembatasan tersebut, namun isu tarif terhadap sektor otomotif masih menjadi risiko utama.
Pernyataan terbaru Trump memicu kekhawatiran di Eropa terkait potensi peningkatan konflik perdagangan serta dampaknya terhadap industri dan lapangan kerja.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Mencerahkan Wajah, Cukup 3 Langkah Praktis Murah Meriah!
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Kisah Cindy Wanner, Kematian Paling Misterius di California Hingga 30 Tahun Tak Terpecahkan
-
Habib Rizieq Sorot Pernyataan Prabowo soal Yaman, Sebut Terpengaruh 'Jenderal Baliho'
-
Update Skandal Pasporgate Dean James: Gugatan NAC Breda Ditolak, Tinggal Tunggu Degradasi
-
KRL Rangkasbitung Alami Kendala, Perjalanan Hanya Sampai Stasiun Serpong
-
Update Tragedi Bekasi: 84 Korban Sudah Pulang, KAI Buka Pintu Klaim Biaya Medis dan Trauma Healing
-
Riau Jadi Titik Strategis, Menteri LH Gandeng Kepolisian Amankan Ekosistem Lingkungan
-
12 Orang Jadi Korban Penembakan Massal di Pesta Tepi Danau Arcadia
-
Satgas PRR Tuntaskan Huntara di Sumut dan Sumbar, Pembangunan Huntap Kian Dipercepat
-
Tanpa Perlindungan, Transisi Energi Ancam Hak Pekerja: Mengapa?
-
Puan Desak Sanksi Tegas bagi Predator Seksual Anak: Negara Tidak Boleh Mentoleransi Sedikitpun