News / Internasional
Jum'at, 20 Maret 2026 | 21:10 WIB
Israel mengambil langkah drastis dengan menutup total Masjid Al Aqsa pada Jumat (20/3/2026), tepat di pengujung bulan suci Ramadan. (Instagram)
Baca 10 detik
  • Otoritas Israel menutup total Masjid Al Aqsa pada Jumat, 20 Maret 2026, berdalih kekhawatiran keamanan regional.
  • Penutupan ini memaksa ratusan warga Palestina menggelar salat Idulfitri di luar Kota Tua yang dibarikade.
  • OKI, Liga Arab, dan Komisi Uni Afrika mengutuk penutupan ini sebagai pelanggaran status quo dan hukum internasional.

Suara.com - Suasana tegang menyelimuti Yerusalem saat otoritas Israel mengambil langkah drastis dengan menutup total Masjid Al Aqsa pada Jumat (20/3/2026), tepat di pengujung bulan suci Ramadan.

Untuk pertama kalinya sejak 1967, kompleks suci ini tidak dapat diakses untuk ibadah, memaksa ratusan warga Palestina menggelar salat Idulfitri di jalan-jalan di luar Kota Tua yang telah dibarikade.

Pihak berwenang Israel berdalih penutupan ini, yang telah diberlakukan sejak 28 Februari, didasari oleh kekhawatiran keamanan di tengah memanasnya perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Namun, bagi warga Palestina, kebijakan ini dipandang sebagai strategi yang lebih luas untuk memperketat kontrol Israel atas salah satu situs paling suci dalam Islam.

Dampak dari penutupan ini dirasakan secara mendalam oleh warga lokal yang memiliki ikatan batin dengan Al Aqsa. Rasa sedih dan khawatir akan masa depan situs suci ini begitu terasa.

“Besok akan menjadi hari paling menyedihkan bagi para jemaah muslim di Yerusalem,” kata Hazen Bulbul, seorang warga Yerusalem kepada The Guardian.

“Yang saya takutkan adalah ini akan menjadi preseden berbahaya. Mungkin ini pertama kalinya, tetapi mungkin bukan yang terakhir. Campur tangan Israel di kota suci ini telah meningkat sejak 7 Oktober (2023),” lanjutnya.

Tindakan Israel ini sontak menuai kecaman keras dari panggung internasional.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Arab, dan Komisi Uni Afrika mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras kebijakan tersebut.

Baca Juga: BRI Bersama YBM BRILiaN Salurkan Bantuan Jelang AKhir Ramadan di Sengkang

Mereka menilai penutupan ini sebagai pelanggaran berat terhadap status quo dan hukum internasional.

“Israel, sebagai kekuatan pendudukan. Bertanggung jawab penuh atas konsekuensi dari tindakan ilegal dan provokatif ini,” tulis pernyataan tersebut.

Direktur unit media di kantor presiden Universitas Al Quds, Khalil Assali menyebut penutupan ini sebagai sebuah bencana.

Ia juga menyoroti perlakuan aparat keamanan Israel terhadap warga yang mencoba beribadah sedekat mungkin dengan kompleks masjid.

"Ketika Israel melihat pemuda Palestina mencoba shalat di titik terdekat dengan masjid Al Aqsa, mereka mengejarnya, mereka mengusir mereka saat mereka sedang salat," tegas Khalil Assali.

Load More