-
Iran memilih strategi perang pelemahan demi menjaga stabilitas rezim pasca kematian pemimpinnya.
-
Kehilangan banyak tokoh kunci tidak menyurutkan ambisi Teheran untuk memperluas target serangan global.
-
Perpanjangan durasi konflik digunakan sebagai alat negosiasi dan restrukturisasi komando militer internal.
Secara logika, pilihan untuk terus bertempur di tengah krisis ekonomi dan militer tampak sangat berisiko.
Namun, para pakar menilai bahwa memperpanjang konflik adalah langkah terukur demi keberlangsungan hidup rezim.
Bagi penguasa di Teheran, ancaman nyata bukanlah kekalahan perang, melainkan persepsi kegagalan di mata rakyat.
Jika mereka menyerah terlalu cepat, gelombang protes internal dikhawatirkan akan meruntuhkan kekuasaan yang ada.
Dengan terus beradu fisik, Teheran ingin membuktikan bahwa mereka sanggup menahan tekanan sehebat apapun.
Karena kalah dalam teknologi perang konvensional, mereka kini beralih sepenuhnya pada strategi perang pelemahan.
Penggunaan drone murah, rudal, dan jaringan sekutu menjadi instrumen utama untuk menguras sumber daya musuh.
Tujuannya adalah memaksa lawan masuk ke dalam pusaran konflik yang memakan biaya sangat tinggi.
Dalam jangka panjang, strategi ini diharapkan mampu memberikan tekanan balik kepada negara-negara yang jauh lebih kuat.
Baca Juga: Perisai Davids Sling Israel Gagal Tangkis Rudal Kiamat Iran, 2 Kota Zionis Hancur Lebur
Ambisi Iran untuk memperluas cakupan perang juga terlihat dari ancaman terhadap jalur pengiriman logistik global.
Infrastruktur energi dunia kini masuk dalam radar ancaman sebagai bentuk tekanan diplomatik lewat kekerasan.
Upaya serangan terhadap basis militer jauh seperti di Diego Garcia menunjukkan jangkauan operasional yang kian luas.
Seorang komandan Garda Revolusi secara tegas memperingatkan potensi serangan global terhadap fasilitas publik dan pariwisata.
Pernyataan ini mencerminkan penilaian luas bahwa Teheran sedang mencoba menarik perhatian dunia secara paksa.
Waktu yang diperoleh dari perpanjangan konflik digunakan Iran untuk menambal kekosongan kursi kepemimpinan mereka.
Jeda ini sangat krusial agar struktur komando yang sempat kocar-kacir dapat diorganisir kembali secara efektif.
Sifat desentralisasi dari Garda Revolusi memungkinkan mesin perang Iran tetap bekerja meski puncaknya telah hancur.
Langkah ini juga menjadi bagian dari kalkulasi diplomatik untuk posisi tawar di masa depan yang lebih baik.
Teheran memandang kemampuan menahan penderitaan sebagai sebuah bentuk kekuatan ideologis yang sangat luhur.
Setiap kerugian yang dialami justru dibingkai sebagai bukti bahwa mereka adalah bangsa yang memiliki ketahanan luar biasa.
Meski risiko kehancuran ekonomi semakin nyata, Iran tampaknya tetap teguh pada jalur peperangan yang panjang ini.
Mereka bertaruh bahwa konflik yang melelahkan akan membawa hasil lebih baik daripada tunduk pada kemauan lawan.
Keputusan ini tetap membawa bahaya eskalasi yang sewaktu-waktu bisa meledak menjadi perang yang jauh lebih besar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
KPAI Sesalkan Pelibatan Siswa dalam Aksi Dukung MBG di Batam: Itu Eksploitasi dan Manipulasi Anak!
-
Prabowo ke Jawa Timur, Hadir Peresmian Jalan dan Penutupan Munas NU
-
Legislator PDIP Kritik Ekspansi Bioskop: Jangan Sampai Jadi Risiko Baru bagi Industri Film
-
Jokowi Siap Hadir Tunjukan Ijazah di Persidangan Roy Suryo dan dr Tifa
-
Jokowi Tak Ambil Pusing Soal Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa, Kuasa Hukum Sentil Dugaan Intervensi
-
Viral Dugaan Mahasiswa UBK Terima Suap, Muncul Pengakuan Soal Dana Rp 20 Juta dan Nama 'Kapolda'
-
1.273 Personel Gabungan Amankan Aksi Demonstrasi di Jakarta Pusat Hari Ini
-
Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
-
Usai Bertemu Wapres Gibran, Pengurus BEM UBK Akui Terima Uang: Baru Cair 20 Persen!
-
Kronologi BEM FH UBK Diinterogasi, Diduga Terima Uang Usai Bertemu Wapres Gibran